Terkadang, aku bingung harus mengawalinya seperti apa. Harus berbicara seperti apa, bagaimana kelanjutannya. Dan, aku juga tidak mempunyai keberanian yang cukup untuk melakukan seperti yang aku inginkan.
Malam itu aku sedang memikirkanmu, dan kenangan kita, tentunya. Jarak sepertinya sudah terbentang luas diantara kita. Sepertinya rindu telah menyiksa hati yang sudah lama tak bertemu. Tapi, lebih menyakitkan lagi jika kita bertemu tetapi tidak saling mengenal, menyapa satu sama lain, atau hanya sekedar bertukar pandang. Miris. Sejak kapan kita menjadi seperti ini? Oh, ya, sejak ada dia diantara kita. Aku tidak pernah menyalahkan dia hadir diantara kita. Hanya saja, aku benci keadaan ini, aku benci menerima kenyataan bahwa aku tidak cukup untuk dipertahankan. Aku juga benci kala aku tahu kau lebih memilih dia dibanding aku. Mungkin tidak semuanya salahmu, mungkin memang aku yang terlalu memaksa kehendakku. Mungkin memang dia yang terbaik untukmu, bukan aku. Percuma saja aku berusaha sekeras mungkin jika kamu tetap mengacuhkanku. Bodohnya lagi aku masih mencintaimu. Benar, ya, apa yang orang orang bilang; "Kau tidak akan pernah begitu saja berhenti mencintainya meski dia telah menyakitimu."
Masa lalu memang selalu lebih manis dibandingkan dengan saat ini. Tapi, aku cukup berterimakasih kepada Tuhan, karena Ia telah memberi kesempatan kepadaku untuk merasakannya.
Aku rindu saat saat kita saling bertukar cerita, sampai pada saatnya tak ada lagi bahan pembicaraan. Kala itu kita hanya terdiam, sibuk dengan pikirannya masing masing. Sebenarnya, aku ingin menceritakan banyak hal denganmu, hanya saja, aku bingung memulainya dari mana.
Memulai memang sulit, tapi, lebih sulit lagi mengakhiri. Mengakhiri selalu memberikan resiko yang lebih besar. Dan, kita harus menanggungnya masing masing.
Ya, masing masing. Saat ini kita tak lebih dari seonggok daging yang memikul beban di punggung kita sendiri. Mencoba mandiri, tapi, itu hanya menyiksa kita. Padahal, kita mampu memikulnya bersama. Hanya saja, kau tidak mau melakukannya, atau aku yang terlalu gengsi untuk mengakuinya.
Aku tidak akan tahu seperti apa nantinya. Memang semuanya penuh dengan kejutan. Apapun itu, aku hanya berharap kita melaluinya bersama sama.
Cinta, akan tetap disana, sampai kamu akan menerimanya. Atau mungkin, cinta akan berakhir sampai aku terlalu lemah untuk mempertahankannya.
No comments:
Post a Comment