Pages

3/10/2013

Cerpen - Cerita tanpa nama


Belum sempat aku mengiringi kepergian matahari, tapi ia sudah terlebih dahulu pulang ke peraduan nya. Jingga perlahan memudar, berubah menjadi gelap malam. Para nelayan pun pergi untuk mencari nafkah, lalu kembali keesokannya. Hamparan pasir putih, desiran air, serta hembusan angin seolah menyapa ku. Angin ber hembus lembut membelai rambut ku. Aku berjalan menuju bibir pantai. Membiarkan kaki ku ter hempas oleh air laut. Lalu aku terduduk, sendiri. Pantai ini sungguh sepi. Seolah ikut mati bersama kepergian mentari. Ah, sekarang aku teringat dirimu, lagi. Semua tempat ini seolah menyimpan cerita. Di setiap sudut pantai ini seolah menyimpan tawa.  Masa masa kecil yang selalu bahagia. Kini hanya tinggal menjadi linangan air mata. Aku tak percaya, seseorang yang selalu menjaga ku, mengisi hari hari ku, kini meninggalkan ku. Selalu ada bayangan masa lalu saat aku terduduk di pantai ini. Terkadang, aku teringat perbincangan kita dulu. “Mengapa kenangan itu tidak saja pergi bersama mentari, ya?” Tanyaku kala itu. “Untuk apa? Toh, dia akan kembali lagi esok hari. Karena matahari masih melaksanakan tugasnya, kan?” jawabmu.  Ya, benar sekali katamu. Aku rindu padamu. Aku selalu berharap kau kembali, tapi, sampai saat ini, kata ‘pulang’ untuk dirimu tak kunjung ku temukan. Janji janji yang pernah kau beri ter lontar begitu saja tanpa adanya kepastian. 2 tahun. 2 tahun aku menanti. Tapi yang aku dapatkan hanya sakit hati. Apa kamu bahagia dengan wanita itu, ya? Pikir ku. Tentu saja, buktinya kau bisa melupakan ku begitu mudahnya. Kenangan kenangan manis yang kau beri rasanya menghantui hari hari ku. Rasa gembira sekaligus sedih selalu tercipta untuk kenangan kita. Aku terdiam. Hanya ada seruan ombak yang menghempas batu karang. Seolah sumber suara satu satunya di tempat ini. Tiba tiba, aku merasa ada seseorang yang menepuk punggungku. Aku lantas menoleh. Samar samar aku melihat pria itu. Pria yang hmm…, cukup tampan. Dengan rahang nya yang kokoh, alis yang tebal, bibir yang tipis, serta rambutnya yang lebat. Pria ini tidak terlihat mencurigakan. Bukan pula wajah para penjahat seperti yang ditayangkan di film film. Justru, pakaiannya sangat rapi hanya untuk ke sebuah pantai.
“Boleh aku duduk di sini?” Tanya pria itu dengan se ulas senyum yang terbentuk di bibirnya membuat pipi tirus nya terangkat.
“Silahkan,” jawab ku.
Pria itu lantas duduk di samping ku, ia melempar tas nya ke pangkuannya.
 “Sedang apa kau disini?” Tanya pria itu lagi
“Menunggu,” entah kenapa aku menjawab pertanyaan itu dengan jujur.
“Menunggu sesuatu yang tidak pasti?”
“Memang nya ada yang pasti dari sebuah penantian?”
“Ada”
“Apa?”
“Menunggu jingga saat mentari tenggelam.” Aku melengos mendengar jawabannya. Pria itu menoleh kearah ku. Ia lantas tertawa melihat tampang ku. Eh, apa? Dia tertawa?  Suaranya terdengar begitu renyah, damai. Ah, ada apa, ya, dengan pria ini, terasa berbeda dengan pria lainnya, pikir ku.
“Jangan hanya menunggu, berjuanglah untuk mendapatkannya,” lanjut pria itu.
“Tahu apa kau soal menunggu?”
“Jangan sinis gitu dong, kau pikir aku tak pernah menunggu?”
“Ya, mungkin saja.”
Pria itu tidak menggubris perkataan ku. Kami sama sama terdiam. Sibuk dengan pikiran masing masing. Sesekali aku mencuri pandangan untuk melihat pria itu. Ia nampak sedang menerawang. Matanya lurus melihat garis garis pantai. Tersirat kesedihan di matanya . Ada apa, ya, dengan laki laki ini. Lagi lagi aku menanyakan pertanyaan itu di dalam hati.
“Dulu, aku pernah mencintai seorang wanita, tapi dia begitu saja pergi saat kami sudah bertunangan,” pria itu mulai bercerita. Aku tidak tahu harus menanggapinya bagaimana, aku hanya mendengarkan ceritanya. Sepertinya, pria itu butuh pendengar yang baik.
“Aku tahu, perasaan cinta ini memang salah. Sudah seharusnya aku tidak memulai sejak awal,” aku bingung, setahu aku tidak ada cinta yang salah, atau waktu yang tidak tepat.
“Tidak ada yang salah ketika dua insan saling mencintai,” ujar ku.
Pria itu menoleh, lalu tersenyum,  setelah itu mengembalikan pandangannya lagi seperti semula, “Kami beda keyakinan. Kata seseorang; perbedaan dapat menyatukan cinta. Namun, perbedaan keyakinan adalah pembatas yang kokoh untuk sebuah cinta,” jawab pria itu
“Aku memang tidak pernah mencintai seseorang yang berbeda keyakinan, tapi, apa pun itu, aku tahu rasanya menjadi seseorang yang tertinggal.”
“Hidup memang selalu dihadapi dua pilihan. Seperti saat ini, di tinggalkan atau meninggalkan.”
“Yang orang orang tahu, hidup itu pilihan. Tapi mereka lupa, bahwa memilih itu sulit,” aku menatap pria itu untuk beberapa detik. Ia menoleh, aku tidak ingin menundukkan kepalaku, aku justru ingin menatap mata indah nya itu. Aku baru sadar, ia memiliki mata berwarna coklat tua yang sangat indah di tengah gemerlap cahaya bintang. Dan kami saling menatap, dalam. “Kenapa kau menceritakan ini kepada ku? Bukan kah kita baru saling mengenal?” tanyaku kepada laki laki itu. Bahkan, ini bukan sebuah perkenalan. Aku tidak mengetahui namanya, dan ia pun serupa dengan ku.
“Entahlah, hanya saja tadi aku melihat mu seorang diri, lantas aku ingin menghampiri mu, dan, satu yang pasti; kita sama sama merasa tertinggal oleh orang yang kita cintai. Bukan kah begitu?”
“Ya, memang seperti itu.”
Kami terdiam kembali, sibuk dengan pikiran masing masing. Terdengar kembali hempasan ombak memecah karang serta be batuan. Langit semakin gelap, udara disini semakin dingin, sudah jam berapa ini? Aku melihat jam tangan ku. Waktu menunjukkan pukul 9 malam. Itu berarti kami sudah duduk bersama selama 2 jam. Aku berniat untuk pulang duluan. Belum sempat aku mengatakannya, pria itu sudah tidak ada disamping ku. Kemana dia? Aku memandang sekitar tidak, ada siapapun selain para pasangan yang bermesraan. Ah, sudahlah, mungkin ia pergi saat aku melamun tadi. Aku lantas berdiri, membersihkan pakaian yang terkena butiran pasir, lalu pulang ke rumah.
*****
Keesokan harinya aku kembali ke pantai, untuk mengiringi kepergian mentari. Aku selalu suka saat senja. Karena senja menyimpan semuanya. Walaupun, kepergian nya membuat ku mati. Guratan - guratan jingga seolah lukisan yang paling sempurna yang terukir di langit biru. Ditambah lagi, hamparan pasir putih, menambah keindahan. Sungguh sempurna ciptaan Tuhan ini.
Aku berjalan di pinggir pantai. Memang, setiap sore aku ke sini. Aku selalu ingin mengiringi kepergian mentari, meskipun beberapa kali aku terlambat. Tapi kali ini aku tidak akan terlambat. Aku pergi lebih awal. Mataku memandang sekitar, mencari cari seseorang, mungkin aku bisa menemukan pria itu. Dan, ya, aku mendapati pria itu. Pria yang tidak ku ketahui namanya. Ia sedang sibuk  dengan kamera nya. Membidik sesuatu yang tidak ku ketahui apa itu. Aku menghampiri pria itu, dan menepuk punggungnya pelan.
“Hei!” Sapa ku.
“Eh, kamu, maaf  ya kemarin aku pulang duluan, aku lihat kamu melamun, padahal aku sudah menepuk punggungmu. Tapi kamu tidak merespondnya, jadi aku terpaksa pergi tanpa pamitan deh,” ia menunjukkan gigi putihnya itu. Ah, aku iri melihat giginya yang berjajar rapi, sedangkan aku? Ada beberapa yang mencuat keluar, gingsul.
“Ah, enggak apa kok,” masa sih, aku sampai enggak sadar di tepuk punggungnya, batinku. Ah, tapi, ya sudahlah. “Kamu sedang apa?” tanyaku kepada pria itu
“Membidik, kau mau tidak jadi objek ku kali ini?”
“Ah, aku? Hmm…, bagaimana, ya?” Aku tidak yakin untuk dijadikan objek di foto itu. Pasalnya, aku jarang sekali berpose, berfoto pun jarang sekali.
“Hei!” panggilnya, membuatku tersentak. Dan, cekrek, dia berhasil membidik ku. Apa? Membidik ku? Aku tidak bisa membayangkan bagaimana aku di kamera tersebut.
“Cantik,” gumam pria itu. “Mau lihat? Ini,” dia memberikan kamera nya kepada ku. Aku mengambil kamera tersebut, “Tidak buruk,” ucap ku.
“Memang nya siapa yang bilang buruk? Kan sudah ku bilang barusan, cantik,” ia mengerjap kan sebelah matanya. Aku tidak bisa menahan senyum yang merekah di bibir ku. Ah, lucu sekali pria ini.
Kami menelusuri pinggir pantai. Berjalan diatas hamparan pasir. Lalu duduk di atas karang. Mengiringi perginya mentari. Pria ini terlihat lebih tampan saat terpancar semburat jingga. Ah, memang nya kapan dia tidak terlihat tampan? Rasanya, di setiap waktu dia selalu terlihat tampan. Kenapa aku memikirkan dia terus, ya? Tanya ku kepada diri sendiri. Laki laki yang baru saja ku temui kemarin, rasanya seperti sudah sangat lama kenal dengannya.
Ia sibuk dengan kamera nya, mencoba memotret setiap objek yang ada. Ingin rasanya aku mengabadikan ia saat serius seperti ini. Garis garis dahi yang berkerut atau menyatu alis tebalnya.
“Apa yang kamu suka saat memotret?” Tanya ku padanya.
Ia menaruh kamera itu di sampingnya, lalu mengendurkan pandangannya, “Memotret sama dengan mengabadikan. Si fotografer tidak ingin kehilangan momen tersebut, ingin semuanya tetap disana, abadi. Karena waktu terus berjalan, maka salah satu cara untuk mengabadikan momen tersebut adalah memotret nya. Berharap suatu hari ia dapat melihat momen itu lagi, dan merasakan bahagianya.”
Aku mengangguk angguk, “Aku juga suka mengabadikan suatu momen. Tapi, bukan memotret seperti mu. Melainkan dengan menulisnya.” Ya, aku suka menulis. Menulis itu seperti teriak tanpa suara. Saat lisan ku terkunci, maka pena lah yang bebas beradu diatas kertas.
Kali ini, kami menghabiskan senja bersama, berbincang mengenai apa saja. Tapi, tetap, pertemuan ini tanpa nama. Apalah arti sebuah nama, jika kami sudah mengenal satu sama lain. Aku cukup memanggilnya dengan sebutan ‘pria itu’ dan sebaliknya, dia bisa cukup memanggil ku dengan sebutan ‘wanita itu’.
                                                                                      ******
Detik demi detik, menit demi menit, jam demi jam, hari demi hari, waktu terus berjalan. Pria itu selalu ada di pantai saat senja. Banyak cerita yang kita lewati. Banyak canda tawa yang menyertai. Meski tetap tidak ku ketahui seluk beluk pria itu. Percakapan ini cukup menemani kesepian hari ku. Ia cukup menggantikan posisi seseorang  yang aku cintai, dulu. Sampai pada akhirnya, aku tidak menemukan dia lagi. Di setiap senja ku kini tak ada lagi pria itu. Pernah, waktu itu, aku diantar dia pulang ke rumah sebab hujan turun kian deras. Semuanya seolah tinggal cerita. Perkenalan perkenalan yang pernah terjadi seolah tandas begitu saja. Cerita cerita yang pernah kita lewati seolah berlalu begitu saja. Kini, aku kembali menjadi seseorang yang tertinggal. Yang masih setia menjaga fragmen kenangan. Padahal, ia sudah mati seiring bergulir nya waktu. Sudahlah, apa yang harus aku tangisi? Toh, aku sudah sering ter sakiti. Sering mencoba bangkit. Seperti seekor kura kura yang mencoba bangun sedangkan tempurungnya ter tancap di tanah.
Hari ini adalah tepat 2 bulan pria itu menghilang. Aku berjalan keluar rumah, mengecek kotak surat. Barangkali, ada satu kertas untuk ku. Dan, ternyata benar, ada satu kotak berwarna coklat. Aku mengambilnya lalu membawa masuk kedalam rumah. Aku membuka kotak tersebut. Lalu mendapati 3 amplop di dalamnya. Aku buka satu persatu amplop tersebut. Ternyata, isi amplop pertama adalah sebuah surat. Aku pun membacanya.
Dear, Odilia
Surat ini di tulis oleh Jericho Wiguna. Aku adalah pria yang waktu itu bertemu di pantai. Ya, aku adalah pria yang waktu itu menemanimu, bercerita, bahkan sempat mengantar mu pulang kerumah saat hujan melanda. Maaf kan aku karena meninggalkan mu begitu saja. Mungkin, kamu bertanya tanya kenapa aku mengetahui namamu. Aku adalah pesuruh Angga, mantan kekasih mu. Sebenarnya, dia sakit parah, dan saat ini, dia sudah telah tiada. Ia dikebumikan di tempat kelahirannya. Mungkin kamu kaget dengan hadirnya surat ini. Waktu itu, aku diberi pekerjaan olehnya untuk mencari tau kabar mu. Aku lantas menerimanya karena aku butuh uang sebab ibu ku jatuh sakit. Dia meminta ku untuk tidak jatuh cinta pada mu nantinya. Tapi, nyatanya, aku jatuh cinta padamu. Bahkan, saat pertama kali kita berjumpa. Ada banyak hal yang tidak bisa di cerna oleh teori, Odilia. Hal itu cukup kita mengerti oleh hati dan naluri. Dan perempuan yang waktu itu menjadi kekasih Angga hanyalah rekayasa Angga saja. Ia tidak benar benar berkomitmen dengan perempuan itu. Oh, ya, minggu depan, aku akan menikah. Aku dijodohkan oleh ibu ku dengan perawat yang menjaganya ketika ia sakit. Aku lantas menerima begitu saja. Mungkin kau menganggap ku bodoh, atau pengecut. Tapi, jika saja waktu itu aku tidak berjanji kepada Angga untuk tidak jatuh cinta padamu, tentu saja, aku memilih kamu untuk menjadi pendamping ku. Selain itu, ini adalah permintaan ibu ku. Permintaan dari wanita yang sangat aku hormati, dan aku segan untuk menolaknya. Aku takut hatinya terluka. Oleh karena itu, maafkan aku, Odilia. Semoga kamu dapat menemukan pengganti ku, atau pun Angga. Terimakasih untuk waktu yang kau berikan. Aku mencintaimu.
                                                                                                                                                                                                   Salam rindu,
                                                                                                                                                                                          Jericho.
Lalu aku membuka amplop kedua. Di amplop tersebut berisi undangan pernikahan Jericho. Dan amplop ke tiga, terdapat lembaran foto aku, dia, kami, dan senja. Jujur saja, aku kaget dengan semua ini. Namun, kini semuanya sudah jelas. Dua laki laki yang mencintai ku, kepergian Angga, kekasih barunya itu, semuanya telah jelas. Dan, aku percaya, aku atau pun mereka akan bahagia dengan caranya masing masing.
                                                                                     *****
Aku tetap melakukan rutinitas ku di setiap sore; pergi ke pantai mengiringi perginya mentari. Walaupun saat ini aku sendiri. Tapi aku tidak merasa sepi. Justru aku hidup, seperti jingga di senja kali ini. Aku tidak pernah menyesali pertemuan ini, justru aku menikmatinya. Bukan hidup memang seharusnya seperti itu? Menikmati semuanya walaupun tidak ada yang bisa dinikmati. Dan, sekarang, senja menjadi saksi bisu pertemuan kami, cerita cerita kami, canda tawa kami, bahkan, tangis sendu kami. Senja, marilah merona, se merona jingga. Dan, aku percaya, aku akan tetap baik baik saja meski senja telah pergi, dan kelam menghampiri.

3/08/2013

Perkenalan tanpa nama

Semua tentang mu sudah aku simpan rapat rapat
Lalu aku kunci, dan aku buang jauh jauh
Kau tahu, aku sudah tak mencintaimu lagi
Atau mungkin masih, hanya saja sekarang terbagi untuk orang lain
Maka, biarkan aku merelakan mu dengan perempuan itu
Kau tahu, siapa pengganti dirimu saat ini?
Dia adalah seseorang yang sederhana,
Namun dia telah berhasil merebut hatiku,
Sama seperti dirimu. Dulu
Dia adalah seseorang yang tidak ku ketahui namanya
Perkenalan tanpa nama
Yang entah darimana aku bisa akrab dengannya
Tapi, apalah arti sebuah nama jika kamu lebih mengetahui seluk beluknya?
Mungkin, kau anggap ini gila
Atau tidak masuk di akal
Tapi, hal itu yang membuat aku mempertahankan semua ini
Cerita cerita yang ia kisah kan mampu membuatku merasa nyaman
Seperti ikut ke dalam drama tersebut
Namun, ada juga yang harus kau tahu; ia sudah mempunyai kekasih
Aku tidak bermaksud menjadi orang ketiga
Ya, sebenarnya ini memang sangat gila
Dan juga tidak bisa dicerna
Namun hati ku yang merasakannya
Lalu, aku bisa berbuat apa?
Mengapa semuanya menjadi se rumit ini?
Padahal, ini adalah sebuah perbincangan tanpa di sengaja
Namun, efeknya sangat luar biasa
Dia bahkan pergi sebelum aku mengatakannya
Bahwa aku mencintainya
Lantas, apa lagi yang bisa ku pertahankan?
Masa lalu yang sudah se bisa mungkin aku lupakan,
Atau kisah ku dengan pemuda itu
Entahlah, mungkin Tuhan mempunyai rencana lain.


Di sepertiga malam

Di sepertiga malam, rindu belum jua menyerah
Tidak ingin mengalah,
Justru ia terus beringar bingar
Menggerogoti seonggok daging

Cahaya cahaya lampu silau
Seolah ingin menggantikan sinar mentari
Namun, tetap saja, semuanya terasa gelap, mati

Harapan harapan yang tadinya ku percaya dapat terwujud
Namun sekarang ia hanya bergantungan pada sepenggal kenangan tanpa tepi
Hanya bergantungan, tidak ada yang menghiraukan

Di sepertiga malam, aku teringat lukisan
Lukisan yang dulu pernah kau berikan
Sebagai kado ulang tahun ku
Tapi, seperti yang ku katakan sebelumnya; hanya lukisan. Benda mati.
Tidak ada yang hidup disana, kecuali kepingan masa lalu
Yang masih tersangkut pada waktu lampau

Di sepertiga malam, aku bermimpi
Bermimpi untuk bertemu denganmu lagi
Tapi, itu hanya sebatas mimpi,
Tak pernah terjadi

Di sepertiga malam, aku bercerita
Tentang manisnya kisah
saat saling mencintai

Di sepertiga malam, aku termenung
Mengingat nasib seorang diri
Dan, aku baru sadar,
Hidup ku sepi, tanpa kehadiranmu lagi.




3/03/2013

Ketika Senja -Puisi-

Kepada senja aku bercerita,
Tentang manisnya kenangan saat berjumpa
Memberi warna seindah jingga
Adakah senja yang lebih indah daripada ini?

Kepada senja aku terus bertanya

Seberapa banyak waktu yang pernah kita lewati?
Seberapa banyak tawa yang mengiringi perginya mentari?
Atau, seberapa banyak kebahagiaan tenggelam bersama cakrawala?

Dan senja pun diam tanpa kata

Jingga pun pergi menenggelamkan asa
Menghadirkan malam yang kelam
Membuat ku semakin geram

Kini yang tersisa hanyalah kenangan
Kenangan yang utuh
Kenangan yang tak pernah padam
Kenangan yang takkan lekang meski waktu terus berjalan

Langit pun berubah menjadi hitam
Entah bumi yang gelap
Atau aku yang mati
Seolah tak ada sinar pengganti