Pages

1/31/2013

Kita yang Dulu

Apakah itu kita yang sedang berlari mengejar dedaunan?
Apakah itu kita yang berada didalam bingkai dengan senyum secerah mentari?
Apakah itu kita yang sedang bergurau tanpa adanya beban?
Apakah itu kita yang sedang bergandengan?
Apakah itu kita atau hanya bayangan kita?
Atau mungkin hanya bayangan ku saja
Mungkin kita pernah melakukannya, tapi dulu
Bingkai foto ini menjadi saksi antara aku dan kamu
Dan pernah menjadi kita
Foto ini menceritakan sesuatu yang pernah terjadi
Foto ini menguak cerita, pahit ataupun sedih
Foto ini...., masa lalu kita
Masa dimana kala kita pernah bersama
Mungkin saat ini kita masih tetap bersama, hanya saja berbeda
Tak ada lagi kita yang saling bergurau
Tak ada lagi kita yang saling membantu
Tak ada lagi kita yang dulu
Kini yang tertinggal hanyalah aku, sakit, dan kenangan lalu.
Semua hanya tinggal kenangan
Semua hanya sepenggal cerita
Semua rasa yang pernah ada tak ada lagi yang sama
Sepertinya egois jika aku mengatakan kamu berubah
Tapi, aku juga gengsi untuk menyatakan aku yang berubah
Aku kangen kamu yang dulu
Ya cinta, ya waktumu
Aku menyesal meninggalkanmu kala itu
Rasa sakit itu masih ada, pasti
Tapi, bukannya itu yang dapat membuatku kembali?
Kenangan pahit pun aku tak peduli
Meski nanti aku akan merasakannya lagi
Asal kamu kembali,
Ke pelukanku lagi.

1/26/2013

Selamat Pagi!

Sinar matahari bersinar diantara celah celah dedaunan
Angin mendayu lembut
Burung berkicau dengan merdunya
Bunga bunga bermekaran
Dedaunan saling bergesekan menyatukan nada indah
Rumput rumput bergoyang bersama
Pagi yang Indah!
Dengan setumpuk semangat yang masih merekah
Hingga malam nanti akan ku jelma
Semangat ku takkan memudar
Hingga senja tenggelam
Selamat pagi, dunia!
Siapkah engkau menghadapi hari mu?
Aku harap begitu
Jangan dengarkan apa kata mereka
Sebab dirimu yang lebih mengetahuinya!

Cintai Aku


Sanggupkah ku bertahanTanpamu disampingkuSetelah kau memutuskan kita berpisahTerasa seumur hidupku selalu denganmu
Haruskah ku relakan. Haruskah berjalanTapi bayangan wajahmu selalu diangankuKarena cinta yang dulu pernah kau beriTakkan ku lupa untuk selamanya
Cintai dan sakiti hatikuKalau itu dapat membawamuKembali ke pelukanku lagiAku rela memberi segalanya untukmu
Malam yang dingin ini membuatku menangisMelihat gambar kita yang dulu bahagiaKemana perginya masa indah ituTuhan tolong kembalikan kisahku 
Cintai aku sakiti aku Kalau itu dapat membawamuCintai dan sakiti hatikuKalau itu dapat membawamuKembali ke pelukanku lagi Aku rela memberi segalanya
Cintai dan sakiti aku Bila itu membawamuKembali kepelukanku lagiAku rela memberi segalanya untukmu

Jatuh Cinta

Kita hanyalah dua manusia yang saling membungkam. Menatap dalam keheningan. Merasakan detak jantung   yang terus bergemuruh. Dengan diam kita saling berucap. Dengan memandang kita saling bercerita. Tidak ada yang perlu dijelaskan diantara kita. Karena semuanya tak butuh penjelasan. Karena semuanya tak akan mengerti. Dan, hanya kita yang mampu merasakannya.
Mungkin secara tak kasat mata semua orang bisa mengetahui apa yang kita rasakan. Tapi, jauh dari itu, hanya kitalah yang mampu merasakannya.
Kebahagiaan tak akan pernah mampu dijelaskan oleh siapapun. Hanya raut wajah kita yang menjelaskan sedikit dari perasaan kita. Kebahagiaan tak pernah ditemukan. Tapi, kebahagiaan akan hadir jika kita lebih merasakannya.
Rindu.
Aku tak pernah mengerti bagaimana rindu dapat hadir ketika jarak tercipta diantara kita. Ada rasa ingin tahu. Entah itu kabarmu, suaramu, ataupun tentang dirimu lainnya. Suaramu yang terdengar parau di ujung sana tak cukup menjadi penawar rindu. Karena hanya dengan bertemu, rindu lenyap bersamamu.
Cinta.
Aku sulit menjelaskan apa arti cinta. Untuk apa aku menulis dengan tergesa gesa untuk mendeskripsikannya, padahal hanya dengan melihat mu saja aku bisa tahu arti sebenarnya.
Waktu terasa cepat berlalu jika aku melewatinya denganmu. Aku tidak mengerti mengapa seperti itu. Mungkin karena aku lebih merasa bahagia saat melewatinya jika denganmu.
Aku tak pernah setengah hati. Apalagi menyakiti. Aku berharap kamu pun serupa denganku.
Kata orang cinta itu indah. Tapi, tidak semua cinta indah. Terkadang kita harus memperjuangkannya. Munafik bila seseorang berkata cinta tak harus memiliki. Jika tidak harus memiliki, kenapa harus ada sakit jika ia bersama yang lain?
Katanya, aku bahagia jika melihat dia bahagia bersama yang lain. Jadi, apa artinya bahagia itu adalah menangis seorang diri ketika ia bisa mencari pengganti mu?
Jujurlah dengan hatimu sendiri. Jangan membohonginya, karena hatimu yang paling tahu apa yang kamu rasakan. Naluri takkan membawa ke dalam jurang. Justru, ia lebih tahu apa yang seharusnya kamu lakukan.



1/25/2013

Fakta Cewek

1. Cewek itu, suka mengingat sesuatu hal yang menurut cowok enggak penting. Misalnya, dia akan selalu  ingat tanggal jadian, tanggal ulang tahun orang yang dia suka, dan lainnya.
2. Cewek itu, suka muna! Bilang enggak padahal iya, bilang iya, padahal enggak.
3. Cewek juga suka salting sendiri kalo ketemu gebetannya. Mungkin didepan muka gebetan cewek tetap diem, adem ayem, tapi, kalo dibelakang gebetannya, cewek itu suka teriak sendiri kalo habis keyemu cowok yang dia suka.
4. Cewek akan selalu suka mengingat masa lalu. Mantan dia akan selalu ada di pikirannya. Dan, orang yang dicintainya akan selalu ada di hatinya. Bukan berarti cewek belum bisa move on dari mantannya. Hanya saja,   kami tidak bisa melupakannya. Itu yang namanya memori. Manusiawi bukan?
5. Cewek bakal rela lama lama nunggu cuma untuk bisa ketemu gebetan atau pacarnya
6. Cewek itu enggak suka ungkit ungkit masa lalunya
7. Cewek enggak selemah yang kalian pikirin, boy. Mungkin kita seringkali terlihat sedih. Tapi, itu karna memang kami tidak bisa menutupi perasaan kami. Kami lebih baik mengungkapkannya. Daripada main belakang? hayoo....
8. Cewek enggak suka dikepoin. Bukan berarti kalian enggak boleh tau tentang pribadi kami, tapi, kami juga jengah harus menjawab pertanyaan yang sama sekali bertele tele
9. Cewek suka di kasih sesuatu yang "waw". Bukan dengan uang, sama sekali bukan dengan uang. Tapi, dengan cara perhatian kalian itu cewek akan merasa lebih bahagia dari biasanya. Dan, momen momen seperti inilah yang membuat cewek enggak akan melupakannya
10. Cewek memang terkesan cerewet dan manja. Sebenarnya tidak bisa disebut cerewet juga. Cerewet itu sebagai peringatan kasih. Kami punya cara tersendiri untuk memerhatikan kamu.

Kehidupanku

Akan selalu ada perubahan diantara kita. Mungkin semuanya tak lagi sama seperti dulu. Mungkin semua itu hanya bagian dari masa lalu. Masa lalu memang selalu hadir dengan keindahannya. Sedangkan masa kini sering kali membuatku bersedih. Bukan berarti aku tidak menikmati detik detik ini. Hanya saja, aku merasa sepi, seorang diri. Aku merasa bahagia, tentu. Tapi, rasanya saat ini kata kebahagiaan jauh dari diriku. Mungkin aku yang tidak sadar bahwa ada sesuatu yang bisa membuatku bahagia saat ini. Tapi, rasanya aku seringkali tak mengenali diriku sendiri. Seringkali aku tersesat di sebuah labirin tanpa ujung. Seringkali aku terjatuh pada jurang terjal. Seringkali aku memasuki semak belukar. Tak ada satupun yang mendengar suaraku. Tak ada yang mendengar isakan ku. Tak ada cahaya yang membawa ku. Aku seringkali merasa takut. Lilin yang ku bawa tak cukup menemani ku. Cahaya redup bahkan tak lagi hadir untukku. Yang ada saat ini hanyalah kesunyian. Kesunyian yang entah tercipta dari mana. Aku ingin bercerita kepada yang lainnya. Hanya saja, mereka tak mendengarkannya. Aku merasa tak ada tempat untuk bercerita. Semua orang terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Mereka sering kali datang menghampiri ku, tapi, hanya untuk meminta bantuan, lalu pergi. Padahal, aku juga butuh bantuan. Aku butuh tiang untuk bersandar. Aku butuh rumah untuk berteduh. Tapi, semuanya acuh. Hanya selembar kertas yang mendengar aku. Hanya sebuah pena yang ikut bercerita denganku. Hanya ada hembusan angin yang membelai rambut ku. Kebahagiaan semu. Tak adakah sesuatu yang nyata untukku? Tak adakah warna yang lebih menghiasi selain abu abu? Putih mungkin terlalu suci untukku. Tapi, hitam nampak begitu murung. Mungkin memang abu abu yang terlihat jelas diantara jutaan warna lainnya.

1/22/2013

Senja dan Hujan

Senja kali ini tetap ada, namun awan hitam menghalanginya
Senjaku telah kembali, namun jinggaku mati
Jinggaku tertinggal, awan hitam menertawakan
Senja masih hadir diantara kita
Namun jingga telah lenyap ditelan masa
            Senja mengibaratkan kita yang masih hidup
            Dan, jingga mengibaratkan kenangan yang telah redup
            Awan hitam lebih mendominasi diantara kita
            Pertanda kesedihan hadir menemani kita
Petir menyambar sang batu
Namun batu tetap berdiri kaku
Hujan turun sangat deras
Menandakan aku harus bergegas
            Batu tak lebih dari sosok dirimu
            Yang tetap angkuh dengan kehadiranku
            Meski aku berada di hadapanmu
            Tapi kita tak saling merengkuh
Aku tak mendapati pelangi setelah hujan
Atau sejuk menenangkan
Yang ku dapatkan hanya gersang
Meski hujan telah datang
            Aku tak kunjung mendapati dirimu
            Meski kamu terus hadir dalam keseharianku
            Justru kamu membuatku semakin sendu
            Karena kehadiranmu semu.
Aku butuh senja dengan jingga merona
Atau hujan tenang diikuti pelangi terang setelahnya
Namun semua hanya tinggal harapan
Sebab petir menyambar
Dan, kilat melenyapkan.

Tentang Kita

Terkadang, aku bingung harus mengawalinya seperti apa. Harus berbicara seperti apa, bagaimana kelanjutannya. Dan, aku juga tidak mempunyai keberanian yang cukup untuk melakukan seperti yang aku inginkan.
Malam itu aku sedang memikirkanmu, dan kenangan kita, tentunya. Jarak sepertinya sudah terbentang luas diantara kita. Sepertinya rindu telah menyiksa hati yang sudah lama tak bertemu. Tapi, lebih menyakitkan lagi jika kita bertemu tetapi tidak saling mengenal, menyapa satu sama lain, atau hanya sekedar bertukar pandang. Miris. Sejak kapan kita menjadi seperti ini? Oh, ya, sejak ada dia diantara kita. Aku tidak pernah menyalahkan dia hadir diantara kita. Hanya saja, aku benci keadaan ini, aku benci menerima kenyataan bahwa aku tidak cukup untuk dipertahankan. Aku juga benci kala aku tahu kau lebih memilih dia dibanding aku. Mungkin tidak semuanya salahmu, mungkin memang aku yang terlalu memaksa kehendakku. Mungkin memang dia yang terbaik untukmu, bukan aku. Percuma saja aku berusaha sekeras mungkin jika kamu tetap mengacuhkanku. Bodohnya lagi aku masih mencintaimu. Benar, ya, apa yang orang orang bilang; "Kau tidak akan pernah begitu saja berhenti mencintainya meski dia telah menyakitimu."
Masa lalu memang selalu lebih manis dibandingkan dengan saat ini. Tapi, aku cukup berterimakasih kepada Tuhan, karena Ia telah memberi kesempatan kepadaku untuk merasakannya.
Aku rindu saat saat kita saling bertukar cerita, sampai pada saatnya tak ada lagi bahan pembicaraan. Kala itu kita hanya terdiam, sibuk dengan pikirannya masing masing. Sebenarnya, aku ingin menceritakan banyak hal denganmu, hanya saja, aku bingung memulainya dari mana.
Memulai memang sulit, tapi, lebih sulit lagi mengakhiri. Mengakhiri selalu memberikan resiko yang lebih besar. Dan, kita harus menanggungnya masing masing.
Ya, masing masing. Saat ini kita tak lebih dari seonggok daging yang memikul beban di punggung kita sendiri. Mencoba mandiri, tapi, itu hanya menyiksa kita. Padahal, kita mampu memikulnya bersama. Hanya saja, kau tidak mau melakukannya, atau aku yang terlalu gengsi untuk mengakuinya.
Aku tidak akan tahu seperti apa nantinya. Memang semuanya penuh dengan kejutan. Apapun itu, aku hanya berharap kita melaluinya bersama sama.
Cinta, akan tetap disana, sampai kamu akan menerimanya. Atau mungkin, cinta akan berakhir sampai aku terlalu  lemah untuk mempertahankannya.

Saat Waktu Harus Berkata 'Selesai'


                Aku sedang berkutat dengan pensilku diatas kertas. Menggambar sesuatu yang aku sendiri tidak mengerti. Syifa,temanku, menghampiriku, lalu duduk disamping ku. Ia baru saja usai membaca Al-Qur’an. Ini adalah rutinitas ku setiap malam, pergi ke sebuah tempat pengajian untuk belajar ilmu agama lebih dalam. Murid disini terbilang banyak, hanya saja di bagi beberapa waktu; siang untuk anak berumur 3-6 tahun, sore untuk anak 7-12 tahun, dan malam untuk anak berumur 12 tahun keatas. Aku sendiri sudah mengaji ditempat ini sejak berumur 5 tahun. Ditempat tinggal kami memang rasa kekeluargaannya masih kental, dan aku menyukai hal itu.
“Ra, kau tahu, Kak Indah sedang sakit.” Indah adalah salah satu nama dari guru kami disini. Ia adalah sosok wanita yang cantik, dengan badannya yang ideal, dan sangat ramah. Akhir akhir ini aku memang jarang sekali masuk mengaji, karena waktuku yang tersita banyak untuk mengerjakan tugas tugas dari sekolah. Maklum saja, aku sudah berada di kelas 9, 3 SMP. Tumpukan soal soal sudah menjadi makanan sehari hari ku sekarang.
 “Tidak. Memangnya sakit apa?” Tanyaku yang masih asyik menggambar diatas kertas.
“Dia sakit parah, aku tidak tahu pasti penyakit yang dideritanya.”
Aku tidak lagi menggambar, aku letakkan pensilku diatas buku. Aku menoleh ke arah Syifa. “Separah itu? Kau pernah menjenguknya?” Pantas saja, akhir akhir ini aku jarang sekali melihat beliau, ternyata dia sedang sakit. Aku ingin menjenguknya. Sebagai murid lama di pengajian ini, aku dekat dengan Kak Indah. Bahkan, aku sering di jodoh jodohkan dengan Deny, keponakannya, yang entah kenapa harus dia yang jelas jelas bukan orang yang aku suka.
“Terakhir kali aku kesana dia sangat kurus, bahkan, dia tidak mengenali beberapa orang.”Jawab Syifa, yang sekarang justru sibuk dengan kukunya.
Tiba tiba suara Bawo terdengar, menyuruh kami untuk duduk lebih dekat dengan dirinya. Bawo adalah guru kami, sebenarnya nama dia adalah Nasrullah, dan sering dipanggil dengan sebutan ‘Uwo’ terdengar aneh, memang. Tapi, hanya kami berempat, aku, Syifa, Aisyah, Tari yang memanggil dengan sebutan Bawo, sambungan dari Bang dan Uwo. Lalu kami maju mendekat.
“Saya baru tahu tadi sore, kalo Indah sakit” Kata Bawo. “Kita baru saja membicarakan hal itu.” Bisik Syifa di telingaku. “Kalo gitu, mari kita sama sama berdoa untuk kesembuhannya.” Lalu Bawo memimpin doa, yang entah apa aku tidak tahu artinya karena menggunakan bahasa Arab. Tapi, apapun artinya, itu adalah doa. Dan aku, hanya mengamininya dari belakang.
                                                                                                ****
Pengajian sudah selesai, murid muridpun sudah kembali kerumahnya masing masing. Ditempat ini, hanya tertinggal aku, Syifa, Tari, Aisyah, Bawo, yang mempunyai kebiasaan bercerita atau sekedar menanyakan sesuatu hal yang belum kami pahami. Dan hanya kami yang mempunyai kebiasaan tersebut.
“Bang, dicabut nyawa itu sakit engga, sih?” Tiba tiba Tari bertanya begitu saja. Aku geram dengan pertanyaannya barusan, tentu saja, itu pasti sakit.
“Menurut kamu bagaimana?” Jawab Bawo kembali bertanya.
Aisyah yang berada disamping Tari menepuk punggung Tari pelan. “Ya sakitlah, Tar” Katanya dengan nada geram.
“Kamu mau tau jawabannya? Kamu cobain sajar sendiri.” Tambah Bawo dengan nada santai. Bawo itu sosok laki laki yang ramah, ia juga friendly, meskipun seorang laki laki, dia cukup mengerti perasaan kami. Dia juga sudah beristri dan mempunyai satu anak, namanya, Azka.
“Dengan cara apa? Menyuruh malaikat izroil datang untuk menyabut nyawaku, gitu?” Tanya Tari membuat kami geram. “Ya iya, lah.” Jawab kami bersamaan diiringi anggukan Bawo. Dan itu, membuat Tari memajukan bibirnya, membuat kami tertawa bersama.
“Saya tidak tahu pasti bagaimana rasanya. Dan beberapa guru saya mengatakan bahwa rasa sakit yang dirasakan, semua tergantung amalannya. Jika dia orang yang baik, bisa jadi malaikat mencabut nyawanya dengan pelan pelan dan lembut. Tapi, jika dia orang yang jahat, malaikat akan memperlakukannya dengan kasar.” Kata Bawo menjelaskan membuat Tari ber-oh panjang.
“Kau ingat, lagu yang pernah diajarkan dengan Umi?” Tanyaku. Entah kenapa ingatanku selalu kuat dengan sesuatu meskipun sudah lama terjadi. Lagu tersebut pernah diajarkan Umi di pengajian ini. Ia adalah pendiri majelis disini. Jika di ibaratkan dengan di sekolah, ia adalah seorang kepala sekolah.
“Ingat” Jawab Aisyah singkat.
Lalu Syifa mulai menyanyikan lagu tersebut di bait pertama. Suaranya yang paling merdu diantara kami berempat.
Bila izroil datang memanggil
Sekujur badan, akan kedinginan
Disambung denganku. Dan entah kenapa, aku merasakan bulu kuduku merinding.
Tak ada lagi guna harta, kawan karib, sanak saudara
Jikalau ada, amal didunia itulah hanya pembela kita
Disambung dengan Aisyah yang mempunya suara cukup merdu dibandingkan aku.
Janganlah mau disanjung sanjung
Engkau digelar manusia agung
Lalu Tari dan Bawo bernyanyi bersamaan. Memadukan suaranya dengan sangat merdu.
Datang sebuah selimut putih membalut badan
Tinggalah semua yang dikasihi
Berjuanglah hidup sepanjang zaman.
Begitulah liriknya. Bagiku, lagu tersebut sangat menyentuh. Tentang semua manusia yang akan menemui ajalnya masing masing. Dan sebuah harta tidaklah bisa menjamin dirinya akan selamat di akhirat kelak. Hidup, jodoh, rezeki, ajal, itu semua sudah ditentukan. Tapi, bagi beberapa orang, ajal adalah sesuatu yang menakutkan, dan aku sendiri berpikiran hal yang sama. Kematian akan membawaku pergi dengan orang yang ku sayang. Dunia yang sudah berbeda, dan aku tidak tahu bagaimana nantinya. Setelah kami menyanyikan lagu tersebut, Umi berjalan menuju kami. Aura wanita ini sangat menawan, kulitnya yang kuning langsat, mata coklat tuanya, dan bibir merahnya membuat ia sangat cantik. Dengan balutan jilbab di kepalanya menutupi rambut hitamnya, menambah kecantikan. Lalu ia duduk diantara kami berempat.
“Wo, udah lihat Indah, belum?” Tanya Umi kepada Bawo.
“Belum Mi, memang sakit apa, ya?” Untung saja Bawo menanyakan hal ini. Aku sendiri penasaran dengan penyakit yang diderita Kak Indah.
“Katanya ginjal, Wo. Kasihan deh, dia kan orang yang baik” Jawab Umi. Dan aku setuju dengan jawabannya. Kak Indah adalah perempuan yang baik. Biasanya, dia yang akan membuatku tertawa saat aku mulai mengantuk dengam ceramah para ulama saat perayaan hari besar, maulid, misalnya. Dia juga pintar, mengajari kami banyak hal. Umurnya yang mau menginjak 23 tahun di tahun ini. Usianya yang masih muda seakan menjadi sosok kakak perempuan didalam hidupku. Aku terlahir dari 3 bersaudara, kakakku laki laki semua. Dan selama ini, aku sering bercerita dengan Kak Indah atau pun Syifa, Aisyah, dan Tari yang memiliki umur satu tahun lebih tua di bandingkan denganku. “Jenguk sana, Wo.” Tambah Umi.
“Jenguk mah mau, mi. Tapi, saya orangnya gimana, ya. Saya engga tega melihat orang sakit.” Ya, Bawo emang tidak pernah mau melihat orang yang sakit parah. Bukan dia tidak peduli, tapi, seperti yang dikatakan barusan; dia tidak tega.
“Kamu juga belum jenguk kan, Ra?” Tanya Umi kepadaku.
“Belum Mi, tahu saja baru tadi” Jawabku jujur.
“Iya, Umi jarang melihat kamu sekarang.”
“Iya, habisnya sibuk dengan sekolah, tugasnya banyak banget.” Jawabku dengan menunjukan sederet gigi putihku.
Tiba tiba terdengar dering dari ponsel Umi, lalu ia segera  menjawab panggilan tersebut. Ternyata panggilan tersebut dari suaminya, dan Umi berpamitan untuk pulang terlebih dahulu.
“Sudah ya, Umi pulang duluan. Assalamu ‘alaikum” Lalu ia pergi meninggalkan kami.
“Kita juga pulang yuk, udah malem.” Kata Bawo. Ku lihat jam dinding yang bertengger menunjukkan pukul 9 malam. Lalu kami pulang kerumah masing masing.
                                                                              ****
                Hari ini adalah hari sabtu. Tidak ada sekolah hari ini. Hari libur membuatku bermalas malasan ditempat tidur. Rasanya, tidak rela meninggalkan pulau kapuk di pagi hari. Bulan Januari adalah bulan yang ku suka. Dengan hujan yang mulai membasahi Jakarta yang penuh dengan polusi. Bukan itu saja, aku menyukai hujan. Rintik yang turun membuatku tenang. Suaranya seperti nyanyian sederhana. Ditambah lagi dengan aroma tanah yang menguak secara liar di hidungku. Menempati paru paru. Dan kali ini, hujan turun di pagi hari.
                Aku menelusuri anak tangga, berniat untuk memakan sesuatu. Perutku sudah berdemo, cacing cacing di perut sudah tidak sabar menyantap hidangan yang lezat. Aku berpaling menuju meja makan, dan, menemukan sayur kangkung beserta ikan mujair, menu favoritku. Aku mengambil lauk pauk dan nasi untuk diriku sendiri. Lalu mengambil segelas air minum. Melahapnya dengan seksama. Aku memang sering makan sendirian. Perbedaan umur dengan kakak keduaku terlampau jauh, 9 tahun. Dan mamah adalah seorang aktivis didaerah rumahku. Keuangan kami bisa dibilang lebih dari cukup. Dan aku sendiri, sebagai anak remaja mulai tumbuh dengan seiringnya waktu. Merasakan apa yang dirasakan teman teman sebayaku, menyukai seseorang, contohnya. Singkat cerita, aku menyukai seseorang. Kala itu aku tidak sengaja melihat dia, dan dia juga….., melihatku. Pandangan pertama memang tidak pernah bohong. Aku suka dengannya, kurang lebih seperti itu. Kami ternyata sekelas sampai awal semester kelas 8. Aku dekat dengannya. Aku suka dengannya, tapi tidak pernah mengatakannya. Dengar dengar dia juga suka denganku. Tapi, dia tidak kunjung mengungkapkannya. Dan kami, hanya sebatas teman saja. Bahkan, saat aku duduk di kelas 8 tempat duduk kami depan belakang, menambah keakraban diantara kami. Kami mengenal satu sama lain dengan baik. Kita juga sering satu kelompok dalam mengerjakan tugas. Sampai pada suatu hari aku mendengar kabar bahwa dia sakit. Dan, tidak lama mendengar kabar itu beberapa hari kemudian ia meninggal. Ironis, namun, itulah hidup. Penuh dengan kejutan. Terkadang semua seperti mimpi buruk sekaligus indah. Hidup adalah terus tinggal bersama luka dan bisa tertawa setiap hari. Sekiranya, itu adalah kutipan dari film Milly dan Nathan. Ternyata, dia mengidap penyakit radang otak. Dan bodohnya, aku tidak pernah menyadari kalau ia sedang melawan penyakit seganas itu. Dari banyak bagian tubuh, kenapa harus otak yang terserang terlebih dahulu. Kenapa harus dia yang terkena dengan usia yang seharusnya sedang merasakan dunia yang indah ini. Dan semua itu adalah takdir. Meskipun kita sudah merencanakan sesuatu hal, tetap saja, semua itu bisa saja tidak seperti apa yang kita harapkan sebelumnya. Saat aku ke rumahnya untuk melayat, aku melihat wajah pucatnya. Seseorang telah meninggalkanku. Dan kamu, bagaian dari sejarah hidupku. Lalu aku berdoa semoga Allah menempatkan dia ditempat yang baik. Aku ingin menangis, tapi, aku menahannya. Tangisan ini hanyalah membuatnya semakin berat. Aku menyeka air mataku sendiri. Bayangan masa lalu bersamanya dengan liar terbayang di otakku. Aku ikhlas dengar kepergianmu dibandingkan kau harus tersiksa melawan penyakit dengan obat obatan yang rasanya pahit sekali. Seseorang menepuk punggungku, aku lantas menoleh, ternyata tante Nirma, Ibunya Peter. Ya, namanya Peter. “Kau Zahra, bukan?” Tanya wanita paruh baya itu. “Iya tante.” Jawab ku singkat. “Ini ada sesuatu untukmu, bukanya saja nanti. ”Ia menyodorkan satu kotak berwarna biru muda yang entah apa isinya. Saat aku sudah berada dirumah, aku membuka kotak biru tersebut. Mendapati ada beberapa lembar kertas didalamnya, lalu aku segera membacanya.
Dear, Zahra.
Jika kamu membaca ini pasti aku sudah pergi meninggalkanmu. Aku sangat berterimakasih, dengan hadirnya kamu membuat sisa hidupku lebih berwarna. Mungkin kita hanyalah sepasang manusia yang belum mengetahui banyak hal. Tapi, percayalah, aku suka denganmu. Saat pertama kali aku menginjak sekolah ini, aku sedang berdoa, semoga Tuhan mau memberikan seseorang yang berarti untukku. Dan saat itu, kita tidak sengaja bertatapan, kau ingat itu? Mungkin aku hanyalah sebatas masa lalumu. Dan aku harap kamu tidak begitu saja melupakanku. Dan satu hal yang perlu kau tau. Aku tidak mengungkapkan perasaanku karena aku tahu, umurku tidaklah panjang, aku tidak ingin melihat kamu larut dalam kesedihan. Dan kita di beratkan dengan perbedaan agama. Selama aku berteman denganmu, aku melihat kau sangat berpegang teguh pada agamamu. Dan itu semua membuatku ragu berkata jujur dengan apa yang ku rasakan. Ini, ada jam tangan untukmu, dengan gambar Paris. Aku tau, kau suka dengan Paris, apalagi ditambah sunsetnya. Tadinya, aku ingin membelikanmu kalung, tapi, aku juga tau, kau tidak suka memakai kalung, kau hanya suka accessories yang dipakai di pergelangan. Aku mengenal kamu lebih dari apa yang kau tau. Kamu adalah cinta pertama dan terakhirku, dan kau harus percaya itu.Semoga Tuhan terus bersamamu dan mendampingi dirimu.Amin.
                                                                                                                                                                                                Peter.
                Begitulah isi surat Peter, dan kemudian aku melihat lembaran berikutnya ada beberapa foto aku bersamanya. Ada pula foto aku sendirian, entah darimana dia menemukan foto itu. Yang aku tahu, ia sangat suka memotret. Kata dia, memotret itu seperti mengabadikan, setidaknya kita akan teringat momen tersebut. Dan satu lagi, kita berbeda agama. Selama ini, aku ataupun dia tidak pernah menyinggung hal itu. Dan perasaan ini, aku tidak pernah cerita dengan Syifa, Aisyah ataupun Tari. Terdengarnya egois, tapi, entah kenapa aku hanya ingin merahasiakannya.
                Kembali ke realita. Setelah selesai makan aku segera meletakkan piring kotor di tempat cucian. Tiba tiba saja aku mendapati Tari datang dengan tergopoh gopoh, sepertinya dia habis lari.
“Ada apa?” Tanyaku sedikit panik. Masalahnya,Tari ini tidak suka lari, dan jika lari, pasti ada sesuatu hal yang penting.
“Kak Indah,” jawabnya dengan suara tersenggal senggal. “Ka Indah kenapa?” Membuatku semakin panik. “Kak Indah meninggal” jelasnya. Kata kata tersebut seperti bom yang dijatuhkan di telingaku. Aku pasti salah dengar. Tapi, itulah kenyataannya. Sepertinya aku merasakan kakiku lumpuh seketika. Mulutku mengatup kuat kuat. Pikiranku tidak bisa memikirkan secara jernih. Aku tidak habis pikir ini akan terjadi. Semacam mimpi buruk, tapi, ini nyata. Bukan mimpi atau khayalan belaka. Mimpi buruk itu hadir lagi. Kehilangan, kepergian, kenangan, semua kembali menghantuiku. Aku terduduk lemas, lalu aku merogoh saku celanaku, mengambil ponsel lalu memberikan pesan singkat untuk Syifa dan Aisyah. Meskipun ini hari sabtu, mereka tetap bersekolah karena ada ekstrakulikuler. Aku mengetik pesan singkat untuk mereka dengan cepat. Kalian dimana? Cepat pulang, Kak Indah meninggal, segeralah pulang. Setidaknya itu lah yang bisa ku ketik saat ini.
                Tidak lama kemudian mereka sampai di rumahku. Lalu kami segera pergi ke rumah Kak Indah. Syifa dan Aisyah tidak mengganti pakaian sekolahnya, tidak ingin membuang buang waktu. Kami menuju kerumah Kak Indah dengan langkah panjang panjang dan sesekali aku berlari kecil karena tertinggal mereka yang jelas lebih tinggi dibandingkan aku.
                Sesampainya aku dirumah Kak Indah, aku segera masuk. Yang pertama kali aku rasakan adalah merinding. Sekujur tubuhku terasa dingin. Lalu kami berempat mendapati seseorang yang sudah tak bernyawa. Kulitnya yang pucat tak dialiri darah. Tubuhnya yang lebih kurus dari sebelumnya. Aku bingung menjelaskan perasaanku saat ini. Sedih, menyesal, marah, semuanya menjadi satu.  Itulah kematian, datang secara tiba tiba tanpa bisa di terka. Semuanya, semua yang pernah ada, tertinggal begitu saja. Lalu kami berempat duduk di barisan depan, mengambil Al-Qur’an untuk membaca surat Yasin. Aku membacanya dengan seksama, aku tidak ingin menitihkan air mata saat ini, tegar, sabar, tegar, sabar, aku mengucapkannya berulang ulang. Saat kami tengah membacakan doa, salah seorang tetangga kami meminta kain yang menutupi wajah Kak Indah dibuka. Lalu salah seorang dari keluarga beliau membukanya. Betapa ironisnya aku melihat wajahnya yang kurus, berbeda sekali seperti kala dia hidup. Aku tidak dapat menahan lagi tangisanku, air mataku pecah. Aku terisak isak melihat sosok tersebut. Ditambah lagi kenangan yang diputar ulang begitu saja oleh otakku. Rasanya sakit melihat orang yang terdekat pergi terlebih dahulu. Belum lama aku ditinggal Peter, dan sekarang, aku ditinggal Kak Indah. Rasanya berat menerima kenyataan ini. Seseorang memelukku dari belakang, ia adalah kakak dari Kak Indah, dan aku mengenal baik dengannya. Ia membisikkan kalimat di telingaku. “Jangan menangis, kasihan Kak Indah, ia pasti berat meninggalkan kamu.” Lalu ia melepaskan pelukannya dan kembali ke tempat duduknya. Aku menyeka air mataku. Benar apa yang dikatakannya, tangisanku hanya menambah beban untuk Kak Indah, tidak ada gunanya. Tangisan tidak akan mengembalikan sesuatu yang hilang. Tapi, tangisan juga yang memperlihatkan perasaan kami, baik itu senang, maupun sedih. Kesedihanku tidak sebanding dengan kesedihan keluarganya. Merekapun merasa kehilangan, bahkan melebihi aku, pasti. Aku lihat ada seorang laki laki yang sedang membacakan surat Yasin untuk ka Indah. Dan, laki laki itu adalah suaminya. Mereka belum lama menikah. Ia pasti merasa sangat amat merasakan kehilangan istrinya itu, melebih rasa kehilanganku terhadap Peter. Aku mengikhlaskanmu pergi, ka. Maafkan aku karena tidak sempat menjengukmu saat kamu masih hidup. Kau tidak pernah menyakiti perasaanku, justru sebaliknya. Tidak ada yang perlu dimaafkan untukmu, justru aku yang seharusnya meminta maaf.
                Rumah ini terasa ikut mati tanpa kehadirannya diantara kami. Rumah ini garing, dingin, tidak ada lagi candaan seperti dulu, tidak ada lagi suara renyahnya terdengar ditelinga kami. Semuanya benar benar berbeda. Segala sesuatunya berubah didunia ini. Bahkan, kita tidak tahu apa yang terjadi sedetik kedepannya. Kita hanya bisa menjalaninya, sampai pada disuatu masa dan menemukan kata ‘selesai’.
                Mayat ka Indah akan dimandikan. Dan kami berempatpun menyaksikannya. Kami melihat jelas bagaimana tubuhnya yang kurus. Tulang tulangnya sangat terlihat, seperti tidak ada daging yang melekat ditulangnya. Tubuhnya menjadi sangat kecil dan mungil.
                Setelah selesai dimandikan, mayatnya ka Indah dibalut dengan kain kafan. Kain yang menakutkan. Aku tidak suka melihat kain putih panjang, alasannya karena menakutkan. Tapi, kali ini aku harus melihatnya, aku tidak ingin ketinggalan sedetikpun sebelum ia dimakamkan.
                Semuanya selesai, sebelum jenazah ka Indah dimakamkan, di shalatkan terlebih dahulu. Aku hanya menunggu di bangku yang ada, menopang dagu, memahami semuanya, mencerna dengan akal sehat. Setelah selesai di shalatkan, jenazah ka Indah dibawa kesebuah pemakaman yang jaraknya tidak jauh dari rumah kami. Aku tidak ikut pemakaman karena tidak kendaraan. Lagi pula, sepertinya hujan akan segera turun. Sebelum akhirnya jenazah dimasukkan kedalam mobil ambulance, aku mengucapkan salam perpisahan. “Selamat jalan, ka. Semoga tenang disana, di lain waktu, kita akan menjalani seperti dahulu lagi.”
                Aku terduduk tenang di bangku panjang. Sekarang aku sedang terduduk, sambil merenung. Disini ada bawo, Ibu Erna, salah satu guru kami juga disini, dan tentunya, kami berempat.
“Saya mah, sudah puas lah istilahnya, waktu anaknya meninggal, saya yang mandiin” Kata Ibu Erna tiba tiba bercerita. Ya, Kak Indah tadinya sedang hamil, namun ia keguguran saat menginjak usia kedelapan bulan. Ironisnya, ini adalah anak pertamanya. “Anaknya cantik deh, kan sudah terlihat gitu mukanya, bibirnya tipis, matanya bulat, rambutnya tebal, cantik deh.” Ibu Erna masih terus bercerita. Dan kami hanya mendengarkannya dengan seksama. Mendengarkan kisah pahit manis seorang guru kami. “Tadinya Indah enggak tau anaknya meninggal, saya miris deh, melihat dia tersenyum kalo melihat tempat tidur bayi. Pas sudah selesai dimakamkan, baru diberitahu kalo anaknya meninggal, bahkan, saya menangis di pelukannya. Tapi justru Indahlah yang bersikap lebih tegar, dia bilang, ‘jangan nangis ibu’ saya malu rasanya.” Tersirat jelas kesedihan di raut wajah Bu Erna, ia sama seperti kami semua, merasa kehilangan. Tapi, bukan seperti itulah hidup? Selalu ada kata goodbye setelah helo. Aku sendiri lebih memilih untuk mendengarkan dibandingkan dengan merespond ceritanya, mungkin dia hanya terbayang masa itu sama seperti aku.
Di pengajian ini mempunyai agenda rutinitas saat acara maulid tiba. Kita pasti akan mengadakan drama. Selama ini, aku pasti kebagian tugas menjadi seorang anak yang baik, namun terlihat jutek. Dan, ka Indahlah yang menjadi ibuku.
Di tahun lalu kami mempersembahkan drama yang menceritakan bahwa aku mempunyai kakak seorang pemabok, dan sering bermain judi. Ia sudah mempunyai istri, dan istrinya adalah Syifa. Saat itu kak Fahri, yang berperan sebagai kakakku pergi , dan aku seraya berkata dengan berkacak pinggang, “Kalo maysaroh punya suami kaya bang Fahri, udah may ceraiin kali, talak tiga sekalian!” Penonton lantas tertawa bahkan aku sempat mendengar beberapa kata seperti; “Zahra serem aja. Talak tiga!.” Rasanya aku ingin tertawa sekeras kerasnya. Tiba tiba ka Indah datang menghampiri dan menasehatiku “Maysaroh tidak boleh berkata  seperti itu. Bagaimanapun juga ia adalah kakak kandungmu.” Lalu Ka Indah menepuk punggungku pelan. Aku masih bisa merasakan hangat tangannya hingga saat ini. Meskipun ia sudah tidak ada.
Senja mulai menampakkan jingganya. Matahari segera pulang keperaduannya. Aku menyukai senja sama halnya dengan hujan. Senja seperti lukisan Allah yang menakjubkan. Aku segera pulang kerumah, tidak ingin membuat mamah khawatir.
                                                                                                ****
19 januari 2012.
                Hari ini adalah hari ulang tahunku yang ke-15. Aku mengadakan acara selametan kecil kecilan. Mengundang beberapa temanku di sekolah dan dirumah. Acara ini bukan hanya sekedar memotong kue, tapi juga berdoa semoga aku semakin dewasa, diberikan umur yang cukup, sehat selalu, dan cita citanya tercapai. Amin.
                Aku berdiri  diantara teman temanku, sekedar mengucapkan terimakasih. “Makasih banget, loh, sudah mau ke acara ulang tahunku. Aku juga minta maaf karena makanannya sederhana. Tapi, kalian harus tahu, seharusnya, kali ini aku merayakan ulang tahun ini dengan seseorang. Hanya saja, ia telah pergi mendahului kami. Semoga ia diberikan tempat yang layak oleh Tuhan, ya.” Semuanya mengamini doaku. Ya, seharusnya ka Indah merayakan bersama denganku, seharusnya dia ada disini. Biasanya, kami akan saling mengucapkan  selamat ulang tahun satu sama lain, atau sesekali bertukaran hadiah. Tapi, kali ini berbeda. Tapi, aku tetap merasakan dia hadir di sekeliling kami.
                Setelah selesai acara ulangtahunku, aku pergi ke pemakaman Kak Indah. Tentu saja berempat seperti biasa. Kami sudah membelikan mawar merah kesukaannya. Sesampainya disana, aku berdoa, lalu mengucapkan selamat ulang tahun yang ke-23 ke Kak Indah. Aku percaya, ia mendengarnya.
                Setelah aku ke tempat pemakaman Kak Indah, aku pergi ke pemakaman Peter. Hari adalah tepat satu tahun peninggalannya. Dan, aku memilih untuk pergi sendiri. Sesampainya disana, aku bingung harus berkata apa. Untuk waktu yang cukup lama aku hanya menatap gundukan tanah yang menutupi seseorang yang aku suka. “Ter, hari ini aku ulang tahun. Kau ingat dulu? Kau yang pertamakali mengucapkan itu di ponselku, di twitter, dan di facebook.” Ucapku akhirnya dan kembali terdiam sesaat, “Aku merindukanmu, sampai saat ini, aku masih suka denganmu, dan aku percaya, bahwa kamu merasakan hal yang sama. Aku memakai jam pemberianmu. Aku suka jamnya. Dan jam ini yang membuatku tidak lupa waktu. Mungkin, kau memberikan ini agar aku terus mengingatmu disetiap waktuku, dan semua itu terjadi; aku selalu mengingatmu.  Aku rindu hal hal kecil yang pernah kita lakukan dulu. Tapi, bukankah itu hidup? Hanya terbayang bayang dengan kenangan. Suatu saat nanti mungkin aku akan mencari penggantimu. Kau tidak rela bukan jika harus terus menjadi perawan tua hanya untuk menunggu ajalku untuk bertemu denganmu? Tapi, aku juga tidak yakin menemukan penggantimu. Semoga kau tidak marah dengan keputusanku, ya. Aku tidak pernah menginginkan perasaanku pudar bergitu saja. Tapi, inilah hidup, aku harus memutuskan sesuatu yang aku tidak ingin putuskan. Live is goes on. Mungkin itu saja dari ku, kau yang tenang ya disana. Aku mencintaimu.” Setelah bercerita panjang lebar sendirian, aku segera pulang. Perasaanku tetap senang di hari ulang tahunku. Walaupun, tanpa kehadiran mereka. Mereka tetap hidup di hari hariku. Mereka tetap menemaniku dengan versi lainnya. Sesuatu kehilangan bukanlah hal asing didunia ini. Semua orang akan merasakan itu. Bukan kehilangannya yang terpenting, tetapi, bagaimana kita menghadapi setelahnya. 

1/12/2013

Kematian

Hari ini satu nyawa telah tiada. Seorang terbujur kaku di depanku. Dengan kulit yang pucat tak berdarah. Dengan tubuh yang tak bergerak tanpa adanya detak. Hari ini, malaikat menjemputnya untuk menghadap Yang Maha Kuasa. Wajah terakhirnya takkan terlupakan. Bibir yang sudah membeku tak dapat lagi berbicara. Semua tinggal kenangan. Takkan ada lagi sosok sepertimu. Inilah jalannya, ia mendahului kita semua. Menyesal rasanya mengingat bahwa saya tidak sempat menjenguknya di kala sakit tempo hari. Apalagi dengan kenyataan belum sempat meminta maaf yang telah membuatnya kesal, belum sempat berterimakasih atas jasanya semua ini. Ironis sekali memang. Umur memang tidak ada yang tahu, rasanya baru saja kemarin bersama sama. Sekarang, kita sudah berpisah, tidak ada lagi cerita seperti yang lalu. Selamat jalan, semoga kakak diterima di sisi-Nya, dan ditempatkan pada tempat yang layak. Amin.

1/08/2013

Review Novel: Rindu Debndam by PinkGirlGoWild, Age Airlangga, Racky Rachman


Rindu Dendam by  PinkGirlGoWild, Age Airlangga, Racky Rachman
My rating: 3 of 5



From Goodreads:
Rindu Dendam adalah kolaborasi novel grafis dan puisi yang terinspirasi dari karya J.E.Tatengkeng. Karya kolaborasi ini membawa kita ke pengalaman visual yang puitis dalam memaknai dua rasa yang kerap hadir di hidup manusia: rindu dan dendam. Dua rasa yang memiliki pengaruh hebat bagi siapa pun yang sedang mengalaminya. Rindu yang bisa membuat siapa pun mengejar mimpi dan cintanya. Dendam yang bisa menjadi api untuk membakar semua rintangan.


Purnama yang bulat sempurna
Gambarkan kisahku di wajahmu
Bahwa rindu bukanlah suatu yang indah
Namun sebuah rasa yang membuat resah

Purnama yang bulat sempurna
Gambarkan amarahku di bayanganmu
Bahwa dendam bukanlah suatu hal yang kejam
Namun sebuah rasa dan gairah untuk menempuh hidup
“Purnama”, PinkGirlGoWild


Review Novel: Cantik Itu Luka - Eka Kurniawan

Cantik Itu Luka (cover baru) by Eka Kurniawan
My rating: 3 dari 5



From Goodreads:
== Telah diterjemahkan ke bahasa Jepang dan Malaysia == Di akhir masa kolonial, seorang perempuan dipaksa menjadi pelacur. Kehidupan itu terus dijalaninya hingga ia memiliki tiga anak gadis yang kesemuanya cantik. Ketika mengandung anaknya yang keempat, ia berharap anak itu akan lahir buruk rupa. Itulah yang terjadi, meskipun secara ironik ia memberinya nama si Cantik. "Perihal berbagai gaya dan bentuk yang diaduk jadi satu ini, Cantik itu Luka memang sebuah penataan berbagai capaian sastra yang pernah ada." -Alex Supartono, Kompas "Mencermati isinya, kita seperti memasuki sebuah dunia yang di sana, segalanya ada. " -Maman S. Mahayana, Media Indonesia "Inilah sebuah novel berkelas dunia! Membaca novel (...) ini, kita akan merasakan kenikmatan yang sama dengan nikmatnya membaca novel-novel kanon dalam kesusastraan Eropa dan Amerika Latin. " -Horison "It is nice that, after half a century, Pramoedya Ananta Toer memiliki found a successor . The young Sundanese Eka Kurniawan memiliki published two astonishing novels in the past half-decade. If one considers their often nightmarish plots dan karakter, one could say there is no hope. But the sheer beauty and elegance of their language, dan exuberance of their imagining, give one the exhilaration of watching the first snowdrops poke their little heads up towards a wintry sky. " -Benedict R. O'G. Anderson, New Left Review

1/04/2013

Kehidupan

Hidup itu seperti menelusuri sebuah jalan. Kita akan dihadapkan tikungan tikungan yang kita tidak tahu kemana akhirnya. Kita akan dihadapkan tiga pilihan; belok kiri, belok kanan, atau lurus saja. Terkadang, kita seperti tersesat, seorang diri, atau ada yang menemani, tapi, rasanya asing. Hidup ini selalu dihadapkan oleh pilihan. Katanya, hidup itu memilih. Tapi, semua orang lupa, memilih itu sulit. Hidup itu kejam, ya, benar. Apalagi waktu yang seenaknya terus berputar tanpa mengerti perasaan kita. Kadangkala, saya merasa tersesat, seorang diri. Jalan yang saya tempuh terasa kosong, hampa, tidak ada siapa siapa. Setidaknya saya berharap ada gubuk kecil yang dapat saya tempati, atau beristirahat sejenak. Atau, setitik cahaya yang mampu membawa saya keluar dari jalan ini, paling tidak, menemani saya. Saya belum tahu apa makna kehidupan ini. Atau memang, hidup ini tidak bermakna? Entahlah. Hanya diri kita sendiri yang bisa memahami.

1/02/2013

Merindu

Entah apa yang ku rasakan saat ini. Sedih, senang, kehilangan, rapuh, marah, galau? Entahlah. Hanya saja, aku rindu kepadamu. Entah kepada dirimu, atau kepada kenangan kita. Atau mungkin dua duanya. Tapi rasanya aku seperti kehilangan dirimu sejak kita tak pernah lagi bertemu. Rasanya rindu ini melilit paru paru, alhasil aku sulit bernafas. Mungkin itulah yang aku rasakan. Aku rindu padamu, amat sangat rindu, hanya saja, aku tidak ingin kau tahu, atau memberi tahu. Ingin rasanya bertemu, namun itu tidak mungkin. Aku ingin berbalik arah, ke belakang, mengulang segalanya. Merasakan disetiap detiknya. Tapi, itu hanya angan angan saja, tidak akan pernah benar benar terjadi, karena semua itu hanyalah sebatas kenangan saja. Dengan keberadaannya dibelakang, membuatku terus menengok ke arah sana, dan, tersandung didepan. Aku tidak pernah tahu betul akibat merindu. Sebab rindu terjadi begitu saja, tak pernah ku minta. Hati ini sepertinya sudah lama menunggu, tapi tak pernah bertemu. Pernah aku menemukan penggantimu. Tapi, setelah itu aku sadar; hati ku telah memilih kamu, tempat aku pulang. Tempat aku berteduh, tempat aku beristirahat. Jadi, aku tidak pernah benar benar mendapat penggantimu. Memang, saat bersamanya aku merasa tenang, nyaman, tapi hanya sementara. Setelah itu, kembali, aku teringat dirimu. Kamu itu seperti hujan; memberikan aroma yang berbeda, jika kamu tidak ada, aku akan mencarinya, semua orang akan memerlukan kamu, tapi, jika kamu datang terus menerus, membuatku diam, mengurung diri di dalam rumah, merasakan di setiap tetesan yang jatuh. Untuk kamu yang ku rindukan, kembalilah, akan ku jelaskan bagaimana hati ini merasakan, menunggu ketidakpastiaan, berharap kamu turut merasakan.

1/01/2013

Menulis dan Perasaan

Pagi ini saya sudah di berikan pertanyaan seputar menulis. "Alasan kamu menulis itu apa? Ko, senang betul dengan menulis?" Kata seorang teman saya. Bagi saya, menulis adalah suatu kebahagiaan tersendiri. Seperti saya menemukan surga kecil, dan mendapat ketenangan. Memang, saya belum bisa menulis dengan baik dan benar, tapi, saya akan terus menulis sampai titik sempurna. Menulis itu seperti berteriak tanpa suara, kata seseorang. Menulis itu seperti ingin mengabadikan, sama halnya dengan memotret, tidak ingin kehilangan momen tersebut. Saya ingin menulis karena saya ingin mengabadikannya, saya tidak ingin kenangan itu hilang begitu saja. Saya ingin suatu saat nanti saya membaca tulisan saya di waktu lampau dan saya bisa kembali merasakan apa yang saya rasakan di waktu itu. Saya juga ingin bermain dengan kata kata, bukan dipermainkan dengan kata. Dengan menulis saya tidak perlu dipersulit untuk  mengungkapkan isi hati saya. Jika saya berbicara mungkin kamu akan mengabaikannya, tapi dengan menulis, saya masih berharap kamu bisa membacanya suatu hari nanti, dan kamu sadar, pokok pikirannya adalah kamu sendiri. Menulis lah mulai dari apa yang kamu rasakan, dan apa yang kamu ketahui, itu mottonya. Menulis lah dengan perasaan, dan orang lain akan ikut merasakannya.
Dan, pagi ini juga saya sudah berdebat kecil dengan beberapa orang mengenai kegalauan dan perasaan. "Kenapa sih, galau itu mesti ada? Ungkap seorang perempuan. Karena kita punya perasaan, dan kita merasakan. Penyebab galau sebenarnya bukan karena orang tersebut, tapi karena perasaan yang kita rasakan. Toh, bisa saja kita merasakan kegalauan itu dengan orang yang berbeda. "To make this live is more beautiful and colourfull" Kata teman saya. Yap, saya setuju sekali dengan pernyataan tersebut. "Maybe like that. And I think, if our life is flat it'll so bored. Not interesting" Jawab yang lainnya. Saya pikir, galau adalah kejadian yang tidak diharapkan, tetapi terjadi di hidup kita. Karena hati suka merasakan apa yang tidak ingin kita rasakan. Dan, semua itu tidak bisa dipahami oleh nalar, semua hanya bisa dirasakan oleh hati, untuk hati, dan karena hati. Tapi jangan sekali sekali, ya, bermain dengan perasaan. Karena dapat menjerumuskan ke tempat yang tidak diinginkan.

Page 1 of 365

Oh, Hai. Bagaimana dengan malam tahun barunya? Atau hari pertama di tahun 2013? menyenangkan? Ya, saya harap seperti itu. Tahun baru saya sendiri lumayan meriah. Walaupun tanpa papa dan dia. Hahaha saya ingin tertawa sendiri menulisnya. Memang kapan, ya, kita pernah merayakan tahun baru bersama? Sepertinya tidak pernah, bukan sepertinya, tapi, memang tidak pernah. Ya setidaknya, saya harap, kamu bahagia, ya. Tadi pagi, saya mengirim satu pesan untukmu, ya pastinya untuk mengucapkan selamat tahun baru. Tapi, sampai malam ini saya tidak menerima balasannya. Ya, mungkin kamu belum membacanya. Atau mungkin juga kamu tidak mau membalasnya. Apapun alasannya, saya hanya berharap keinginan saya terwujud seperti harapan terakhir di tahun 2012 semalam. Tadi saya bercerita dengan salah satu teman saya perihal saya memberikan kamu satu pesan. Dan, saya ditertawakan. Entah, saya tidak mengerti, tapi, saya sendiri juga ingin menertawakan diri saya sendiri. Tapi ada juga rasa mirisnya. Saya masih mengharapkan kehadiranmu, sedangkan saya tidak pernah tahu bagaimana perasaanmu. Cinta aneh, ya, cinta bisa membuat orang lupa dengan sekitarnya, padahal, ada banyak orang yang mencintai kita, tapi, kita tidak pernah acuh dengan orang tersebut. Kita hanya memandang satu orang, lurus, kedepan, tanpa melihat kanan, kiri, atau belakang. Tapi, saya tidak bisa menyebut perasaan ini dengan cinta, karena memang saya belum tahu pasti bagaimana perasaan saya. Ya, saya pernah membaca satu buku dan di buku tersebut ada kalimat kurang lebih seperti ini;"Cinta tidak mengenal waktu. Tapi, waktu yang tahu seberapa besar cinta itu sendiri". Ya, saya ambil kesimpulan, bahwa perasaan saya belum tentu cinta. Dan memang sepertinya bukan. Tapi, entah tahun esok, 2 tahun, 5 tahun, 10 tahun lagi, waktu yang akan membuktikan dan menjelaskan apa arti perasaan ini. Ah, sudahlah, jangan membicarakan tentang perasaan, karena tidak akan pernah habisnya. Dan hanya kamu yang mengerti perasaan kamu sendiri. Walaupun kamu sudah menceritakan ke orang lain, percuma saja, karena hanya kamu yang bisa merasakannya. Tapi, bukan berarti kita harus menyembunyikannya sendiri, terkadang kita memang harus berbagi, bercerita, agar kita tidak merasa sendiri. Sudahlah, tidak baik mengawali tahun baru dengan bersedih hati, lebih baik saya membereskan hati. Mengumpulkan serbuk serbuk peri. Dan, agar semuanya rapi, seperti kotak annive pertama kita. Sekian.