Pages

2/26/2013

Cerpen - Hujan Waktu Itu


Pesanan Clara sudah datang. Kali ini ia ditemani Aida, temannya untuk makan malam. Restaurant yang ia pilih tidak ramai, tidak juga sepi.
“Bagaimana hubungan kau dengan Joshua?” Aida melirik Clara.
“Baik. Kau sendiri bagaimana dengan mantan mu itu? Sudah dapat pengganti?” 
Aida mengangkat bahu, “Entahlah, aku belum bisa melupakannya. Pertanyaan ku masih sama bagaimana kamu mempertahankan hubungan kalian, sedangkan Joshua tidak di samping mu lagi?”
Clara meletakkan garpunya, ia berhenti makan sejenak, “Banyak hal yang membuat aku masih bisa bertahan, sama halnya dengan kamu. Kamu masih tetap mencintai mantan mu itu, padahal kalian sudah tak lagi berhubungan,” lalu ia menyantap makanannya lagi.
“Kamu enggak takut dia suka cewek lain? Disana kan banyak bule cantik.”
“Yang cantik memang banyak. Tapi soal hati siapa yang tahu?” Aida mengangkat bahunya acuh. Aida masih bingung kenapa Clara masih mempertahankan hubungannya itu. Clara cantik, pintar, mempunyai pekerjaan tetap, hal itu tidak membuat kecil kemungkinan para cowok jatuh hati dengan Clara. Dan Joshua, kekasih Clara, sedang melanjutkan studinya di Jerman selama 3 tahun. Dan saat ini adalah tahun terakhir Joshua disana. Dan, sampai saat ini Clara hanya memandang ke satu arah saja, Joshua.
“Pulang yuk!” Ajak Clara
“Ayo”
                                                                          *****
Langit sepertinya tidak terlalu cerah. Mungkin sebentar lagi hujan. Clara masih sibuk dengan layar monitor nya. Di sela sela kesibukan, tiba tiba ponsel nya berdering. Diraihnya ponsel itu, lalu ia menatap layarnya. “Ah, sudah ku duga” batinnya. Kemudian ia menekan tombol hijau.
“Halo, Dear,” sapa seorang pria di seberang sana.
“Halo, Hun. Bagaimana kabar mu?”
“Baik. Apalagi mendengar suara kamu.”
“Gombal,” kemudian terukir senyum di bibir Clara
Joshua tertawa renyah, “Kamu lagi apa, Dear?”
“Apa lagi  kalau bukan mengerjakan tugas kuliah. Kamu sendiri lagi apa?”
“Semangat, Honey!. Aku lagi istirahat aja.”
“Thanks, Dear”
“No prob, hun”
Kemudian keduanya sama sama diam. Sibuk dengan pikirannya masing masing. Sebelum akhirnya Clara mengawali pembicaraan lagi.
“Josh…,” panggil Clara
“Iya?”
“Kamu sudah 3 tahun disana, kapan mau balik ke Indonesia?” Sepertinya Clara sudah tidak sabar lagi berjumpa dengan Joshua. Bagaimana tidak, mereka sudah tidak berjumpa selama 3 tahun. Memang, selama ini mereka sering Skype, video call atau pun menelepon seperti saat ini. Tapi ternyata rindu tak mau mengalah meski sudah mendengar suara parau nya di seberang sana.
“Aku belum tahu, sabar ya, Sayang.”
Clara tersenyum, “Aku akan menunggu kamu, kok.”
“Asal….,” Joshua menggantungkan perkataannya.
“Asal kamu enggak bawa bule cantik ke sini,” kemudian mereka tertawa bersama.
Mungkin rindu tak bisa diobati hanya dengan mendengar suaranya. Tapi, percayalah, ini jauh membuatku lebih baik dari sebelumnya.
“Josh.., disini langitnya mendung.”
“Ya, jelas lah kan di sana musim penghujan. Lagi pula apa bagusnya sih langit mendung gitu, bukannya nampak sedih, ya? Atau hujan yang meninggalkan genangan coklat di ruas ruas jalan. Menambah kemacetan saja.”
“Yeee jangan sinis gitu dong. Hujan itu anugerah tahu,” Joshua memang tidak suka langit mendung, apa lagi hujan. Menurutnya, orang orang yang suka dengan hujan itu terlalu dramatis. Dan tentunya setelah adanya kejadian itu.
“Siapa juga yang sinis. Clara, kamu tahu enggak kenapa langit mendung tapi tak kunjung hujan?”
 “Kenapa?”
“Karena uap rindu menyublim bersama udara. Terbiar terlalu lama.”
Clara tercengang mendengarnya. Selama ini ia tidak pernah mendengar Joshua berkata seperti itu. Justru Joshua adalah tipe cowok yang serius dalam suatu hal, “Ko kamu jadi puitis gitu?” Tanya Clara.
“Memangnya kenapa? I miss you so much, Dear,” kali ini perkataan Joshua terdengar serius.
“Tidak. Aku hanya kaget mendengarnya. I miss you too. Aku yakin kita bisa melewatinya. Terkadang, saat kita sudah ingin sampai ke suatu tujuan justru kita lengah begitu saja.  Aku percaya, kalau kita tidak akan seperti itu.”
“I hope so. Kalau aku sudah ada rencana balik ke Indonesia, aku akan segera menghubungi mu.”
“Iya, Sayang.”
“Aku beruntung memiliki mu.”
“Dan aku juga tak kalah beruntung.” Lalu mereka tersadar, keduanya sama sama tersenyum. Entah itu merasa bahagia, atau pun haru. Yang jelas, Tuhan telah menciptakan kedua insan ini di dunia dan  mempertemukan mereka. Saling berbagi, dan saling menyayangi.
                                                                 ******
Jika jarak sejauh bumi dengan langit,
Maka biarkanlah hujan yang meringkasnya
Rintik hujan jatuh di daunan menciptakan nada nada
Yang membuat kamu menari dalam pikiran
Jika hujan ini bernama rindu
Maka setiap tetes nya adalah aku yang diam diam ingin memeluk mu
Kau tahu kenapa hujan turun beramai ramai?
Karena setetes saja tak cukup
Begitu pula cintaku padamu.
Aku harap, aku bisa menjadi rintik hujan
Dengan begitu kau akan melihat ku
Meskipun hanya dibalik tirai jendela kamarmu.

Jakarta, 19 Januari 2010.
Hari ini adalah hari jadi Clara dan Joshua yang ke-5 tahun. Anehnya, hari ini Joshua sulit dihubungi. Terakhir Clara menerima kabar dari Joshua adalah tadi pagi, sekaligus ucapan selamat hari jadinya. “Apa mungkin dia ingin membuat kejutan, ya?” batin Clara. Jingga tidak ada kali ini. Ia tergantikan oleh awan hitam. Beserta rintik hujan yang tentram. Ah, baru kali ini Clara merasa tidak tertarik dengan langit kelabu. Biasanya ia selalu menanti hujan dan aroma tanah yang begitu khas. Dilirik jam di lengannya, “pukul 6,” gumamnya. Biasanya mereka masih larut dalam perbincangan. Tapi, kali ini, entah kenapa, Joshua tidak menghubungi nya, dan hal itu membuat Clara khawatir. Lalu ia mencoba menghubungi Joshua kembali. Tapi, lagi lagi nomor nya tidak aktif. Clara bangkit dari tempat tidurnya, lalu ia melihat keluar jendela. Hujan diluar sangat deras, dan membuat Clara teringat saat Joshua meminta Clara untuk menjadi kekasihnya.
Waktu itu, bel pulang sudah lama berdering, tinggal beberapa anak saja yang masih berada di area sekolah. Clara sendiri baru saja usai mengikuti ekstrakulikuler, ia ingin pulang, namun ia harus mengurung kan niatnya karena hujan belum juga reda. Clara memutuskan untuk duduk di bangku taman belakang sekolah. Tiba tiba terdengar seorang laki laki memanggilnya, Clara lantas menengok. Ternyata ia adalah Joshua.
“Boleh aku duduk disini?” Tanya Joshua
“Silahkan saja,” Clara masih sibuk memperhatikan hujan.
“Kamu suka hujan?”
“Iya.”
“Kenapa?”
“Karena hujan memiliki sisi ketenangan sendiri bagiku. Aku suka aroma tanah setelah hujan, atau kehadiran pelangi setelahnya.”
 “Dulu, aku suka hujan, alasannya sama seperti mu. Tapi, itu terjadi sebelum ibuku meninggal.”
Clara tertarik dengan cerita Joshua, ia tidak lagi menggubris hujan. Sebelumnya Clara sempat mendengar kabar bahwa Joshua seorang piatu. Tapi, ia tidak pernah benar benar menanyakan hal itu kepada Joshua. Ia tidak enak hati.
“Memangnya apa yang terjadi waktu itu?”
“Waktu itu, hujan deras sekali, bahkan aku tidak bisa melihat jalanan. Sebelumnya aku meminta kepada ibuku untuk tidak melanjutkan perjalanan lagi, tapi ia meminta aku untuk melanjutkan perjalanan, sampai pada akhirnya ada bus yang sedang melaju kencang dari arah berlawanan. Lalu bus itu menabrak mobil kami. Dan selebihnya aku enggak ingat lagi. Setelah sadar ternyata aku sudah ada di rumah sakit, dan ayah bilang ibu sudah tidak ada.”
Terlihat jelas kesedihan di wajah Joshua. Clara merasa tidak enak hati dengan Joshua. Lalu ia berbalik badan, dan menepuk pelan punggung Joshua. Sambil berkata, “itu semua takdir, jalan Tuhan, yang sabar, ya.” Joshua hanya membalas perkataan Clara dengan senyuman.
Lalu kemudian hening, mereka sibuk dengan pikirannya masing masing. Entah itu Clara yang masih tertarik dengan hujan. Atau Joshua yang sedang membayangkan insiden kecelakaan waktu itu. Entahlah.
“Clara..,” panggil Joshua.
“Iya?”
“Kamu…., Joshua menggantungkan perkataannya, “mau enggak jadi pacar ku?”
Clara tercengang mendengarnya, ia kaget sekaligus senang. Sebenarnya, Clara suka pada Joshua. Sejak kelas 10 ia sudah satu kelas sampai sekarang. Mereka mengenal satu sama lain, dan juga bisa dibilang dekat. Clara sendiri sudah jatuh hati kepada Joshua saat pertama kali MOS. Dan, mulai saat itu Joshua lah yang menghiasi tidur malamnya.
“Kamu serius?” Clara masih tidak percaya.
“Emangnya aku terlihat main main?”
“Hmm.., tidak,” Clara jadi salah tingkah. 
Dan kemudian ia mengangguk, pertanda bersedia menjadi kekasih Joshua, "Aku mau jadi pacar kamu, Josh."
"Kamu serius?"
"Menurut kamu?"
"Iya."
"Ya, memang iya. Kamu mau membelah hujan enggak? Kita main hujan-hujanan."
"Boleh." 
Setelah itu mereka berdua pergi, menelusuri jalan, membelah hujan. Dan menurut Clara ini adalah hujan terindah dalam hidupnya.
Tiba tiba terdengar suara bel berbunyi, menyadarkan Clara dari lamunan nya. “Ah, siapa sih yang datang malam malam begini,” batinnya. Bel terus berbunyi, sepertinya seorang diluar pintu itu sudah tidak sabar. Clara menuruni anak tangga lalu segera membukakan pintu untuk tamu tersebut. Alih alih menjawab, Clara seperti terbius begitu saja, kakinya seperti lumpuh seketika. Ia tidak kuasa menahan air matanya yang tercampur dengan gejolak emosi yang ia tahan selama ini. Ya, itu adalah Joshua, Joshua kekasihnya. Clara hanya bergeming di ambang pintu, dan tidak mengatakan apa apa.
“Hai, Honey, kamu enggak mau suruh aku masuk dulu? Aku sudah kehujanan nih.”
Clara bergeming, ia tak kuasa, tangannya masih menutup mulutnya. Air mata pun masih mengalir membentuk anak sungai di pipinya.
“Kalau kamu mau nangis, nangis aja, sudah ada aku disini, aku kembali, Clara.” Bukan Clara yang mempersilahkan Joshua masuk ke rumahnya, justru Joshua yang membawa masuk Clara kedalam. Disini, Clara hanya tinggal sendiri, orangtuanya ada di Jogjakarta, ia memilih melanjutkan studinya di Jakarta.
Joshua membiarkan Clara, lalu ia menyodorkan segelas air putih untuk Clara, “Ini, minum dulu.” Lalu Clara meminum segelas air putih itu, setelah ia mampu mengendalikan emosi nya Clara berjanji untuk memberikan sejuta pertanyaan kepada Joshua.
“Kamu kok bisa ada disini? Kenapa enggak bilang aku kalau mau balik ke Indonesia? Kan aku bisa jemput kamu, Joshua. Kenapa handphone kamu enggak..., belum selesai Clara berbicara tapi Joshua sudah meletakkan jarinya ke bibir Clara, “Jangan berisik ah, mending kasih aku handuk dulu, kamu enggak mau aku sakit kan?” Joshua mengerjap kan sebelah matanya.
“Ih, kamu ini ya. Sebentar, aku ambil handuk aku dulu.” Kemudian Clara mengambil handuk di kamarnya lalu segera memberikan kepada kekasihnya itu. Lalu ia kembali duduk disamping Joshua.
“Aku sengaja enggak bilang kamu soalnya aku mau ngasih kejutan. Lagi pula aku sehat sehat aja kok, enggak perlu khawatir, dan yang lebih penting happy anniversary 5 year, Dear.” Joshua mencium kening Clara lalu Clara membalasnya dengan melingkari tangannya di pinggang Joshua. Clara menatap Joshua dalam dalam, “Kamu enggak akan ninggalin aku lagi kan?” Tanya Clara. “Enggak akan, kita akan seperti dahulu lagi, Clara.” Lalu keduanya sama sama tersenyum. Clara sangat bahagia, pastinya. Hari ini ia kembali bertemu dengan kekasihnya. Awal kepergian Joshua ia tidak percaya bahwa ia akan mampu melewati semuanya. Tapi, waktu pun menjawab, mereka mampu, mereka mampu bertahan, ia mampu melewatinya. Tiba tiba Clara teringat sesuatu, lalu ia mengambil gelas kusam yang ditutupi plastik di atasnya. Setelah itu ia berikan gelas kusam itu kepada Joshua.
"Ini untukmu, Josh." Clara menyodorkan gelas itu kepada Joshua.
"Apa ini?," Joshua membuka tutup gelas tersebut
"Itu air hujan untukmu."
"Untukku?" Joshua nampak bingung.
"Iya, untukmu. Apa yang kamu rasakan saat menyentuh air itu?"
Joshua menyentuh air hujan tersebut, "Dingin," jawabnya.
"Ya, sedingin itulah rinduku padamu." Clara dan Joshua sama sama tersenyum.
“Clara, kamu mau enggak keluar rumah, lalu mencari makan, atau apapun. Kita melakukan kembali hal yang pernah kita lakukan saat pertama kali kita berkomitmen.”
“Membelah hujan?”
“Iya, yuk!”
“Ayo!” jawab Clara antusias.
Mereka pun keluar rumah, dan hujan pun masih turun menemani mereka. Mereka tidak menggubris nya. Yang terpenting adalah; mereka bisa kembali bersama, membuktikan kepada semua orang bahwa mereka mampu melewatinya. Rindu yang selalu membuat sesak dadanya selama ini, kini hilang begitu saja dalam luapan bahagia. Semuanya akan baik-baik saja, begitu katanya.









2/08/2013


puisi-puisi cinta ini berharap bisa memeluk kamu segera 9


*
dunia yang lengang
sebuah usaha, agar orang-orang 
lebih banyak bicara dengan mata, 
pemerintah membuat aturan ketat. 
setiap orang hanya berhak memakai 
seratus tiga puluh kata per hari, pas.
jika telepon berdering, aku meletakkan 
gagangnya di telingaku tanpa menyebut halo. 
di restoran aku menggunakan jari telunjuk 
memesan mi atau Coto Makassar. aku secermat 
mungkin melatih diri patuh aturan dan berhemat.
tengah malam, aku telepon nomor kekasihku 
di jakarta, dengan bangga aku bilang kepadanya: aku menggunakan delapan puluh sembilan kata hari ini. sisanya kusimpan untukmu.

jika ia tak menjawab, aku tahu, pasti 
ia telah menghabiskan semua jatahnya, 
maka aku pelan-pelan berbisik: aku 
mencintaimu . sebanyak lima belas kali.
setelah itu, kami hanya duduk membiarkan 
gagang telepon di telinga kami dan saling 
mendengar dengus napas masing-masing.
*
sajak saat hujan
jika saja waktu dan kenangan adalah layang-layang, sudah kugulung benang-benangnya dan kugunting bagian yang tak kuingin.
hari itu, hujan curah tak deras namun lama. kaca jendela berembun sampai tak perlu turun tirai sebagai selubung. tak ada orang yang akan melihat kita, bisikmu. lalu kau buka kancing-kancing baju dengan tangan gemetar, memperlihatkan kerumunan tahi lalat yang kau rahasiakan di sisi kiri payudaramu yang perawan menawan. kau tuntun tanganku menghitungnya satu persatu, tetapi aku gagal menyebut jumlah.
setiap hujan seperti ini, aku berkeringat teringat hangat tubuhmu. meski kukatup mata sepenuh tutup, sedikitpun tak ada lupa. seluruh benar-jelas-selalu.
tahi lalat yang tak pernah aku tahu jumlahnya itu, kini menjelma jutaan belatung yang tak kenal kenyang. usiaku hanya bangkai-bangkai kucing dan anjing.
jika saja waktu dan kenangan adalah layang-layang, pada saat-saat hujan begini, sudah ada seorang lain perempuan. sebelah pahanya jadi bantal, sebelah tangannya mencabut uban-uban
di ubun-ubunku.
*
kepalaku: kantor paling sibuk di dunia
                                                            -Alifiah
engkau tahu? kepalaku: kantor paling sibuk di dunia. anehnya, hanya seorang bekerja tiada lelah di sana. tak mengenal hari minggu atau hari libur nasional. tak pula mengenal siang dan malam. tak mengenal apa-apa kecuali bekerja, bekerja, bekerja dan bekerja.
kadang-kadang ingin sekali suatu pagi melihatnya dating menyodorkan sehelai map berisi surat permohonan cuti. ingin pergi ke satu tempat yang jauh, mengasingkan diri beberapa hari di awal desember yang lembab sembari merayakan hari ulang tahun sendiri. lalu di depan pintu kantor terpasang sebuah tanda berwarna merah: tutup.
tetapi ia benar-benar seorang pekerja keras. setiap saat ia berada di kantor. mungkin hendak menyelesaikan seluruh persoalan waktu yang tidak pernah bisa selesai itu. tentang masa lampau yang tersisa di masa sekarang. tentang keinginan berhenti atau tak berhenti.juga tentang perihal lain yang sepele namun sungguh rumit buat dijelaskan.
ya, percayalah. kepalaku: kantor paling sibuk di dunia. anehnya, hanya seorang bekerja tiada lelah di sana.
engkau saja.
*
sajak buat istri yang buta 
dari suaminya yang tuli
maksud sajak ini sungguh sederhana.
hanya ingin memberitahumu bahwa baju 
yang kita kenakan saat duduk di pelaminan 
warnanya hijau daun pisang muda, tetapi 
yang membungkus kue-kue pengantin 
adalah daun pisang tua. memang keduanya 
hijau, tetapi hijau yang berbeda, sayang.
di kepalamu ada bando berhias bunga, 
kau merasakannya tetapi mungkin tidak 
tahu bunga-bunga itu adalah melati putih. 
sementara di kepalaku bertengger sepasang 
burung merpati, bulunya juga berwarna putih.
aku selalu mengenang hari itu, kita 
adalah sepasang pohon di musim semi. 
kau pohon penuh kembang. aku pohon 
yang ditempati burung merpati bersarang.
aku lihat, orang-orang datang dan tersenyum. 
mereka berbincang sambil menyantap makanan. 
tapi aku tak dengar apa yang mereka bicarakan. 
maukah kau mengatakannya kepadaku, sayang?
*
tiga catatan terakhir
1.
di dalam sebuah pejam 
aku saksikan sepasang mataku 
menghamburkan jutaan 
kunang-kunang. kuning 
seperti daun lerai dari ranting.
kunang-kunang itu berkerumun di ujung-ujung 
jari tanganku menyematkan ciuman terakhir 
sebelum terbang berkilau-kilauan di udara.
kunang-kunang itu melanglang mencari sepasang 
matamu yang berada dalam sebuah pejam yang lain 
pejam yang telah lama direncanakan alam dan malam.
dan engkau menyangka kunang-kunang 
yang masuk ke matamu adalah mimpi, 
mimpi yang engkau duga-duga maknanya.
namun pada saatnya engkau akan tahu, 
kelak kunang-kunang itu terbang 
hinggap di kelopak pipimu 
setiap kali aku engkau kenang.
2.
tiba-tiba mampu aku pahami 
seluruh yang pernah datang 
bertandang ke dua mataku 
bahkan yang aku duga mimpi.
tiba-tiba aku jatuh cinta 
melebihi seluruh jatuh cinta 
yang pernah menyakiti dadaku. namun
ketika ingin aku katakan pada telingamu 
aku tak lagi memiliki suara, 
ketika ingin aku katakan pada matamu 
aku tak lagi memiliki cahaya.
3.
melalui lubang pepori kulitku, air resap perlahan 
membentuk sungai-sungai kecil di tubuhku.
sungai itu mencari rongga dadaku 
mencari lautan yang pernah dipenuhi 
ribuan ikan mungil peliharaanmu.
sesaat sebelum mataku dikatup 
dan lemari matiku ditutup, 
sungai-sungai itu meluap, 
menguap ke langit lapang, 
langit yang selalu engkau pandang 
sambil menggigit bibir sendiri 
dengan mata bergenang-linang.
sebab engkau tak mau lebih manja 
dari langit di bulan-bulan hujan.
tetapi tidak. kelak langit dan dirimu 
sendiri akan memaafkan semua 
kesedihan yang engkau ciptakan 
dari kematianku.
*
pelukan
1
sudahkah kau memeluk dirimu hari ini?
masih aku ingat pertanyaanmu itu 
dulu aku tak bisa menjawabnya 
tetapi begitulah kau, selalu begitu, 
jika ada pertanyaan kau lontarkan 
sudah kau siapkan juga jawaban
lenganmu memang terlalu pendek buat tubuhmu 
tetapi tentu saja cukup panjang buat tubuhku
lalu kau merasuk ke dalam pelukanku 
dan berdiam di sana
masih kau simpan pelukan itu?
kita bertanya serempak 
lalu sama-sama terbahak
pelukanlah satu-satunya 
jawaban atas pertanyaan itu
lalu benam kita ke dalam kenangan
2
istriku lebih suka memeluk dari pada berkata-kata:
aku mencintaimu, nak! 
aku mencintaimu, pak!
seolah-olah dua lengannya 
bisa menyampaikan semua rahasia
anak-anak kami tumbuh 
lebih mencintai lengan dari pada kata-kata
itulah sebabnya istriku setiap malam 
berdoa agar ia bisa jadi seekor gurita 
dan semua kami bisa masuk ke dalam 
pelukan tangan-tangannya
3
satu per satu tubuh 
akan lepas dari pelukan
lalu lengan-lengan kita 
mulai mengenal sengketa 
mulai mengenal senjata
tubuh memang ditakdirkan 
awalnya jadi milik pelukan 
lalu kemudian milik peluru
*
lubang untukmu
aku ingin jadi lubang di jalan raya 
agar kau melangkah penuh waspada 
dan lututmu tak berdarah karena jatuh 
seperti masa kanakmu yang lincah dulu.
aku ingin jadi lubang di ibu jari kaus kakimu 
agar kau bisa tersenyum saat melepas sepatu 
dan lelahmu hilang di palung lesung pipitmu.
aku ingin jadi lubang di dinding kamarmu 
agar kau tak pernah luput mengenakan selimut 
sebelum tidur dan kau aman memeluk mimpi.
aku ingin jadi lubang tanam untuk mayatmu 
agar kau dan aku bisa sempurna menyatu.
*
jika kau terpaksa berpisah dengan aku atau kau melepas janji dan meninggalkan aku, mungkin dengan seorang lain kau menikah kemudian ke sebuah kota jauh kau pindah mengikuti suami kau yang bekerja di sana
sungguh-sungguh, seluruh sisa usia yang aku punya habis hanya buat menyatakan mimpi masa kecil aku: pemain biola, perancang busana dan penulis obituari. ketiganya selalu kau namai lelucon yang tidak mampu membuat seorang pun di dunia tertawa, termasuk diri kau (meski setiap usai mengatakan itu kau sakit perut tertawa)
kalender atau waktu atau apapun namanya akan menjerumuskan kau jadi renta dan lupa pada ciuman yang aku dan kau curi di toilet mesjid, sebuah es krim yang aku dan kau jilat bergantian dan bahkan nama aku yang hurufnya hanya sedikit
aku terus menggesek senar biola atau mengawinkan benang dan kain atau mengata-ngatai kematian dan sebab itu seluruh kau masih jelas bahkan huruf terakhir yang kau sebut kali pertama menjanjikan kesetiaan
suatu kala kelak kau tak akan pernah tahu pakaian yang kau kenakan dijemput maut pernah membuat jemari aku tertusuk mata jarum berkali-kali saat menjahitnya
suara biola yang mengantar mayat kau ke pemakaman: tangis aku
juga tentu saja aku menuliskan obituari singkat untuk kau yang dimuat di koran persis di samping obituari aku sendiri
*
ketika kelak kisah aku dan kau difilmkan adegan ini harus hadir sebelum muncul kata tamat, sebelum sejumlah nama itu berjejatuhan ke atas seperti hujan yang kembali ke langit, sebelum lampu dinyalakan dan entah kenapa mata penonton berair banyak
aku dan kau berhadap-bersitatap. rapat. aku pelan-pelan membuka kacamata kau saat kau pelan-pelan membuka kacamata aku. lalu tiba-tiba di mata aku kau samar, sama samarnya aku di mata kau. seperti seseorang yang mendekat datang atau seperti seseorang yang hendak hilang
(Di atas meja, di dekat bingkai jendela yang penuh bangkai senja, sepasang kacamata aku dan kau asyik membaca larik-larik sajak cinta di sebuah buku yang terbuka)
*
sebetulnya ini hanya semacam rangkuman atas sejumlah pertanyaan dan pernyataan yang kau katakan suatu malam di balkon belakang sebulan sebelum kau mati yang, aduh, sungguh malu aku menyebutnya puisi, sebab kata-kata aku belum makan seharian seperti buruh yang dililit hutan kredit sehingga terlalu lemah untuk tumbuh menjadi puisi
mengapa kau tak pernah bertanya bagian mana dari tubuh kau yang paling senang aku cium? aku ingin sekali mengatakan jawaban: aku paling senang mencium jempol kaki kau sebab meski jauh suara-suara jantung kau di situ selalu masih bisa mengatakan kau akan terus hidup untuk aku
jika aku benar-benar menikah dengan pria yang tak mampu membuat aku berhenti mencintai kau itu, bisakah aku menuliskan tato, nama kecil kau, di payudara aku? agar di malam pertama pria itu menangis seperti anak-anak dan aku tak akan ke mana-mana selain ke dalam malam-malam kau
menurut kau, apakah akan lahir sebuah fatwa haram mencintai seseorang jika aku dan kau dikuburkan saling berpelukan dalam sebalut kafan?
*
sajak dengan huruf tak cukup
aku merasa selalu saja ada huruf 
hilang dalam sajak ini, 
mirip gigi depan tidak lengkap.
tetapi tanggalnya satu, dua, atau tiga, 
menggenapkan senyum gadis kecil 
dan karenanya menggoda kita 
mencium pipinya berkali-kali
maka aku terus menulis agar kau tahu 
bahwa semua yang sempurna 
adalah ketidakcukupan.
begitu juga cinta yang setia 
bermain di sini, 
bagimu
yaitu sajak dengan huruf tak cukup.
*
cinta
cinta adalah gugurnya bebaris gerimis 
untuk selengkung pelangi yang barangkali
cinta adalah jatuhnya reranting kering 
untuk setumbuh tunas yang mungkin
cinta adalah turunnya malamhari 
untuk seterang pagi yang matahari
cinta adalah sementaranya pergi 
untuk sebuah datang yang abadi
*
surat cinta yang aneh
1. cintaku yang besar, cintaku yang tulus, 
2. telah hilang, menguap, dan kini rasa benciku 
3. berkembang setiap hari. ketika melihatmu, 
4. aku tak ingin lagi melihat wajahmu sedikitpun; 
5. satu hal yang sungguh ingin aku lakukan adalah 
6. mengalihkan mata ke gadis lain. aku tak lagi mau 
7. menikahkan aku-kau. percakapan terakhir kita 
8. sungguh, sungguh amat membosankan dan tak 
9. membuat aku ingin bertemu kau lagi. 
10. selama ini, kau selalu memikirkan diri sendiri. 
11. jika kita menikah, aku tahu aku akan menemu 
12. hidupku jadi sulit, dan kita tak akan menemu 
13. bahagia hidup bersama. aku punya satu hati 
14. untuk kuberikan, tapi itu bukan sesuatu 
15. yang ingin aku beri buatmu. tidak lebih 
16. bodoh dan egois dari kau, kau tak pernah 
17. memperhatikan, merawat dan mengerti aku. 
18. aku sungguh berharap kau mau mengerti 
19. aku berkata jujur. kau akan baik sekali jika 
20. kau anggap inilah akhirnya. tidak perlu 
21. membalas surat ini. surat-suratmu dipenuhi 
22. hal-hal tak menarik bagiku. kau tak punya 
23. cinta yang tulus. sampai jumpa. percayalah, 
24. aku tak peduli padamu. jangan pernah berpikir 
25. aku masih dan akan terus menjadi kekasihmu.
catatan: 
tiap baris surat ini sengaja diberi angka, agar kau 
bisa membedakan baris ganjil dan baris genap. 
baca baris-baris ganjil saja, hapus baris selebihnya. 
sesungguhnya, ini sehelai surat cinta yang ganjil.
*
selama dua jam aku berpikir tentang pikiran kamu
di dekat jendela, di kursi 25A sriwijaya, aku mengikat diri. 
ini perjalanan dari makassar ke jakarta, penerbangan dari timur 
ke barat melintasi langit oktober yang bingung pada perangai 
sendiri. aku tak mampu terpejam dan bermimpi, selama dua jam 
aku cuma mampu berpikir tentang pikiran kamu.
pikiran kamu seperti langit-lapang dan senang berubah warna. 
aku cuma penumpang dari balik jendela pesawat, seorang yang takut 
pada ketinggian tetapi mengabaikan petunjuk penyelamatan diri 
yang diperagakan pramugari dengan tidak sungguh-sungguh.
aku berpikir tentang pikiran kamu. pikiran yang kamu gunakan 
bertanya mengapa penerbangan selama dua jam yang berangkat 
dari makassar pukul 09.10 akan tiba di jakarta pukul 10.10? pikiran 
yang sama kamu gunakan menjawab: sebab penerbangan dua jam pulang 
dari jakarta pukul 11.11 akan tiba di makassar pukul 14.11. aku merasa 
sebagai pemenang dalam perhitungan itu. aku berangkat ke kotamu 
melawan waktu, perjalanan dua jam hanya kutempuh satu jam kadang 
terasa cuma sepejam-tetapi kembali ke kotaku harus aku bayar 
dengan perjalanan yang jauh lebih lama.
aku berpikir tentang pikiran kamu. pikiran yang kamu gunakan 
bertanya tentang kota yang terbuat dari kemacetan dan korupsi, 
menteri-menteri yang diganti dan tidak diganti, juga presiden 
yang gampang diserang rasa prihatin kepada diri sendiri. pikiran 
yang sama kamu gunakan bertanya apakah aku sebaiknya dipertahankan 
atau dilepaskan, diganti lebih lekas atau dibiarkan bertahan dalam ruang 
antara sudah selesai atau masih andai.
aku berpikir tentang pikiran kamu. pikiran yang disebut orang tuamu 
sebagai rumah sakit bersalin. selalu ada anak yang lahir-cerita, puisi, 
dan pemberontakan-pemberontakan yang kamu gunakan untuk menyakiti 
diri sendiri. pikiran yang untuk pria seperti aku kadang tempat berlibur, 
hanya nyaman buat berakhir pekan atau menenangkan diri beberapa hari. 
atau kadang-kadang satu-satunya tempat tinggal layak huni di bumi. 
tetapi kemudian aku duga tempat di mana aku pernah ditunggalkan 
lalu dilepas dan ditinggalkan pemiliknya sendiri.
aku berpikir tentang pikiran kamu. pikiran yang sering menolak dikecup 
dan ditakar dengan jawaban-jawabanku. pikiran yang malah lebih sering 
memilih terpekur memeluk pertanyaan-pertanyaan sendiri.
pikiran yang kadang halaman rindang, kadang hutan yang 
pohon-pohonnya belum ditebang, kadang cuma ladang-ladang 
kerontang.
pikiran yang pernah mengabaikan siapapun kecuali aku. 
pikiran yang pernah berniat selingkuh. pikiran yang gampang 
goyah tetapi gamang memutuskan sesuatu dan aku.
aku berpikir tentang pikiran kamu. pikiran selapang langit, 
yang lihai melukis matahari, purnama, bulan kesiangan, 
namun dihantui gerhana.
pikiran yang berhadap-hadapan dengan lautan, yang selalu haus, 
selalu siaga menumpahkan sesuatu yang basah seperti kesedihan.
aku berpikir tentang pikiran kamu. pikiran yang dilintasi pesawat 
yang bergetar karena cuaca buruk yang datang tiba-tiba. pikiran 
yang dilintasi pesawat yang di dalamnya ada seorang duduk di dekat jendela, 
memandang langit oktober yang bingung pada perangai sendiri, seorang 
yang takut pada ketinggian tapi mengabaikan petunjuk penyelamatan diri- 
seseorang yang rela jatuh melayang tanpa parasut di pikiran kamu.
aku berpikir tentang pikiran kamu. pikiran yang barangkali sedang ragu 
mengecupkan kabar apa ketika pria yang duduk di kursi 25A itu selamat 
tiba di bandara soekarno-hatta.
aku berpikir tentang pikiran kamu. pikiran yang sibuk menduga 
apa maksud puisi yang dibacakan pria yang dalam perjalanan 
sibuk berpikir tentang pikiran seseorang agar bisa menulis 
dan membacakan sesuatu di acara peluncuran buku sajak cinta.
-


karya: @hurufkecil

Belajar menulis puisi dengan menerjemahkan


belajar menulis puisi dengan menerjemahkan 

Akhir-akhir ini, saya rindu tapi kesulitan menulis puisi. Pada situasi semacam ini, yang tidak jarang datang, salah satu hal yang kadang saya lakukan adalah menerjemahkan puisi. Saya percaya, menerjemahkan puisi adalah cara yang baik untuk belajar menulis puisi. Berikut ini sejumlah puisi yang saya terjemahkan seadanya. 
*
Tiga Puisi Jorge Luis Borges
Dua Tanka
terjemahan  Two Tankas / Dos Tankas
di puncak, di ketinggian, 
sekujur badan taman berkilauan 
oleh jatuh cahaya emas lampu bulan 
ada sesuatu yang lebih indah di gelap bayangan 
yaitu lembut sentuhan bibirmu yang gemetaran
burung-burung berbunyi 
keremangan sedang sembunyi 
dan telah datang sunya-sunyi 
engkau berjalan di taman sendiri 
aku tahu, kamu sesuatu yang pergi
*
Perpisahan
terjemahan  Farewell / Adios
antara kekasihku dan aku ada tiga ratus malam 
seperti tiga ratus dinding harus dibaringkan 
dan hampar laut bagai desir sihir di antara kami.
tak ada yang akan tersisa kecuali kenangan 
o, gurita sore hari datang sebagai iringan derita 
dan malam gulita adalah harapan bertatap mata, 
di hadapanku ladang-ladang, cakrawala lapang 
aku sedang bertemu dan kehilangan 
sesuatu yang istimewa seperti biji-biji mutiara 
ketiadaanmu mempersedih sore hari yang lain.
*
Bunuh Diri
terjemahan  Suicide / El Suicida
sebiji pun bintang tak akan tinggal di langit 
dan bahkan malam sendiri pasti akan pamit 
di alam ini segala sesuatu 
akan ikut mati bersamaku 
akan kuhapus piramida-piramida, semua medali, 
akan kutenggelamkan benua-benua, seluruh wajah. 
akan kulepaskan genggaman masa lalu. 
akan kuhaluskan sejarah jadi debu, debu paling debu. 
akan kunikmati matahari tenggelam terakhir kali. 
akan kundengarkan ujung nyanyian sedih burung. 
tak akan kuwariskan apa-apa kepada bukan siapa-siapa.
*
Dua Puisi Octavio Paz
Sentuhan
terjemahan  Touch / Palpar
jari-jari tanganku 
membuka rerumbai tiraimu 
mengenakan kepadamu yang lebih telanjang 
mengelupas tubuh-tubuh dari tubuhmu 
jari-jari tanganku 
menciptakan tubuh lain buat tubuhmu
*
Gerak
terjemahan  Motion / Movimiento
jika engkau kuda betina bergairah 
aku kelok-jalanan penuh darah
jika engkau salju pertama yang mekar 
aku orang yang menyalakan jantung fajar
jika engkau menara malam hari 
aku di ingatanmu pasak berapi
jika engkau genangan pagi yang pasang 
aku perih tangis pertama burung di sarang
jika engkau keranjang buah jeruk matang 
aku kemilau mata pisau matahari terang
jika engkau meja batu persembahan 
aku sepasang ulur-tangan berdosa
jika engkau daratan yang tertidur 
aku batang-batang hijau subur
jika engkau lompatan kaki-kaki angin 
aku jilatan nyala api yang dingin
jika engkau dua bibir air 
aku sepaut mulut lumut
jika engkau rimbunan hutan awan 
aku tajam kapak pemotong pohonan
jika engkau kota yang hampir mati 
aku badan hujan yang mengabdi
jika engkau gunung warna kuning 
aku lengan-lengan pohon merah
jika engkau matahari melangit 
aku kelok-jalanan penuh darah


karya: @hurufkecil

Pagi ini, aku membayangkan kau sedang..


pagi ini, aku membayangkan kau sedang 

duduk menghadap jendela kaca yang terbuka. kau menatap kita sambil menutup mata.membiarkan pohon dan udara haru menyaksikan hari-hari lampau bergetar di jari-jari, lengan, dan bahumu
atau
mandi dan menangis merasakan air dingin, seperti rindu purba pohon-pohon kepada daun-daunnya yang hanyut di air kali dan tersangkut entah di mana sambil meresahkan aku di kejauhan ini
atau
belum bangun dari tempat tidur dengan selimut penuh buah ceri yang kuak di bagian dada. di langit-langit kamarmu, neon yang belum tidur kau bayangkan mataku yang memendarkan kenangan
atau
memasang kaca mata, membaca puisi ini, dan menemukan kita pada setiap kata, dan kau tersenyum.

karya: @hurufkecil