Pages

2/26/2013

Cerpen - Hujan Waktu Itu


Pesanan Clara sudah datang. Kali ini ia ditemani Aida, temannya untuk makan malam. Restaurant yang ia pilih tidak ramai, tidak juga sepi.
“Bagaimana hubungan kau dengan Joshua?” Aida melirik Clara.
“Baik. Kau sendiri bagaimana dengan mantan mu itu? Sudah dapat pengganti?” 
Aida mengangkat bahu, “Entahlah, aku belum bisa melupakannya. Pertanyaan ku masih sama bagaimana kamu mempertahankan hubungan kalian, sedangkan Joshua tidak di samping mu lagi?”
Clara meletakkan garpunya, ia berhenti makan sejenak, “Banyak hal yang membuat aku masih bisa bertahan, sama halnya dengan kamu. Kamu masih tetap mencintai mantan mu itu, padahal kalian sudah tak lagi berhubungan,” lalu ia menyantap makanannya lagi.
“Kamu enggak takut dia suka cewek lain? Disana kan banyak bule cantik.”
“Yang cantik memang banyak. Tapi soal hati siapa yang tahu?” Aida mengangkat bahunya acuh. Aida masih bingung kenapa Clara masih mempertahankan hubungannya itu. Clara cantik, pintar, mempunyai pekerjaan tetap, hal itu tidak membuat kecil kemungkinan para cowok jatuh hati dengan Clara. Dan Joshua, kekasih Clara, sedang melanjutkan studinya di Jerman selama 3 tahun. Dan saat ini adalah tahun terakhir Joshua disana. Dan, sampai saat ini Clara hanya memandang ke satu arah saja, Joshua.
“Pulang yuk!” Ajak Clara
“Ayo”
                                                                          *****
Langit sepertinya tidak terlalu cerah. Mungkin sebentar lagi hujan. Clara masih sibuk dengan layar monitor nya. Di sela sela kesibukan, tiba tiba ponsel nya berdering. Diraihnya ponsel itu, lalu ia menatap layarnya. “Ah, sudah ku duga” batinnya. Kemudian ia menekan tombol hijau.
“Halo, Dear,” sapa seorang pria di seberang sana.
“Halo, Hun. Bagaimana kabar mu?”
“Baik. Apalagi mendengar suara kamu.”
“Gombal,” kemudian terukir senyum di bibir Clara
Joshua tertawa renyah, “Kamu lagi apa, Dear?”
“Apa lagi  kalau bukan mengerjakan tugas kuliah. Kamu sendiri lagi apa?”
“Semangat, Honey!. Aku lagi istirahat aja.”
“Thanks, Dear”
“No prob, hun”
Kemudian keduanya sama sama diam. Sibuk dengan pikirannya masing masing. Sebelum akhirnya Clara mengawali pembicaraan lagi.
“Josh…,” panggil Clara
“Iya?”
“Kamu sudah 3 tahun disana, kapan mau balik ke Indonesia?” Sepertinya Clara sudah tidak sabar lagi berjumpa dengan Joshua. Bagaimana tidak, mereka sudah tidak berjumpa selama 3 tahun. Memang, selama ini mereka sering Skype, video call atau pun menelepon seperti saat ini. Tapi ternyata rindu tak mau mengalah meski sudah mendengar suara parau nya di seberang sana.
“Aku belum tahu, sabar ya, Sayang.”
Clara tersenyum, “Aku akan menunggu kamu, kok.”
“Asal….,” Joshua menggantungkan perkataannya.
“Asal kamu enggak bawa bule cantik ke sini,” kemudian mereka tertawa bersama.
Mungkin rindu tak bisa diobati hanya dengan mendengar suaranya. Tapi, percayalah, ini jauh membuatku lebih baik dari sebelumnya.
“Josh.., disini langitnya mendung.”
“Ya, jelas lah kan di sana musim penghujan. Lagi pula apa bagusnya sih langit mendung gitu, bukannya nampak sedih, ya? Atau hujan yang meninggalkan genangan coklat di ruas ruas jalan. Menambah kemacetan saja.”
“Yeee jangan sinis gitu dong. Hujan itu anugerah tahu,” Joshua memang tidak suka langit mendung, apa lagi hujan. Menurutnya, orang orang yang suka dengan hujan itu terlalu dramatis. Dan tentunya setelah adanya kejadian itu.
“Siapa juga yang sinis. Clara, kamu tahu enggak kenapa langit mendung tapi tak kunjung hujan?”
 “Kenapa?”
“Karena uap rindu menyublim bersama udara. Terbiar terlalu lama.”
Clara tercengang mendengarnya. Selama ini ia tidak pernah mendengar Joshua berkata seperti itu. Justru Joshua adalah tipe cowok yang serius dalam suatu hal, “Ko kamu jadi puitis gitu?” Tanya Clara.
“Memangnya kenapa? I miss you so much, Dear,” kali ini perkataan Joshua terdengar serius.
“Tidak. Aku hanya kaget mendengarnya. I miss you too. Aku yakin kita bisa melewatinya. Terkadang, saat kita sudah ingin sampai ke suatu tujuan justru kita lengah begitu saja.  Aku percaya, kalau kita tidak akan seperti itu.”
“I hope so. Kalau aku sudah ada rencana balik ke Indonesia, aku akan segera menghubungi mu.”
“Iya, Sayang.”
“Aku beruntung memiliki mu.”
“Dan aku juga tak kalah beruntung.” Lalu mereka tersadar, keduanya sama sama tersenyum. Entah itu merasa bahagia, atau pun haru. Yang jelas, Tuhan telah menciptakan kedua insan ini di dunia dan  mempertemukan mereka. Saling berbagi, dan saling menyayangi.
                                                                 ******
Jika jarak sejauh bumi dengan langit,
Maka biarkanlah hujan yang meringkasnya
Rintik hujan jatuh di daunan menciptakan nada nada
Yang membuat kamu menari dalam pikiran
Jika hujan ini bernama rindu
Maka setiap tetes nya adalah aku yang diam diam ingin memeluk mu
Kau tahu kenapa hujan turun beramai ramai?
Karena setetes saja tak cukup
Begitu pula cintaku padamu.
Aku harap, aku bisa menjadi rintik hujan
Dengan begitu kau akan melihat ku
Meskipun hanya dibalik tirai jendela kamarmu.

Jakarta, 19 Januari 2010.
Hari ini adalah hari jadi Clara dan Joshua yang ke-5 tahun. Anehnya, hari ini Joshua sulit dihubungi. Terakhir Clara menerima kabar dari Joshua adalah tadi pagi, sekaligus ucapan selamat hari jadinya. “Apa mungkin dia ingin membuat kejutan, ya?” batin Clara. Jingga tidak ada kali ini. Ia tergantikan oleh awan hitam. Beserta rintik hujan yang tentram. Ah, baru kali ini Clara merasa tidak tertarik dengan langit kelabu. Biasanya ia selalu menanti hujan dan aroma tanah yang begitu khas. Dilirik jam di lengannya, “pukul 6,” gumamnya. Biasanya mereka masih larut dalam perbincangan. Tapi, kali ini, entah kenapa, Joshua tidak menghubungi nya, dan hal itu membuat Clara khawatir. Lalu ia mencoba menghubungi Joshua kembali. Tapi, lagi lagi nomor nya tidak aktif. Clara bangkit dari tempat tidurnya, lalu ia melihat keluar jendela. Hujan diluar sangat deras, dan membuat Clara teringat saat Joshua meminta Clara untuk menjadi kekasihnya.
Waktu itu, bel pulang sudah lama berdering, tinggal beberapa anak saja yang masih berada di area sekolah. Clara sendiri baru saja usai mengikuti ekstrakulikuler, ia ingin pulang, namun ia harus mengurung kan niatnya karena hujan belum juga reda. Clara memutuskan untuk duduk di bangku taman belakang sekolah. Tiba tiba terdengar seorang laki laki memanggilnya, Clara lantas menengok. Ternyata ia adalah Joshua.
“Boleh aku duduk disini?” Tanya Joshua
“Silahkan saja,” Clara masih sibuk memperhatikan hujan.
“Kamu suka hujan?”
“Iya.”
“Kenapa?”
“Karena hujan memiliki sisi ketenangan sendiri bagiku. Aku suka aroma tanah setelah hujan, atau kehadiran pelangi setelahnya.”
 “Dulu, aku suka hujan, alasannya sama seperti mu. Tapi, itu terjadi sebelum ibuku meninggal.”
Clara tertarik dengan cerita Joshua, ia tidak lagi menggubris hujan. Sebelumnya Clara sempat mendengar kabar bahwa Joshua seorang piatu. Tapi, ia tidak pernah benar benar menanyakan hal itu kepada Joshua. Ia tidak enak hati.
“Memangnya apa yang terjadi waktu itu?”
“Waktu itu, hujan deras sekali, bahkan aku tidak bisa melihat jalanan. Sebelumnya aku meminta kepada ibuku untuk tidak melanjutkan perjalanan lagi, tapi ia meminta aku untuk melanjutkan perjalanan, sampai pada akhirnya ada bus yang sedang melaju kencang dari arah berlawanan. Lalu bus itu menabrak mobil kami. Dan selebihnya aku enggak ingat lagi. Setelah sadar ternyata aku sudah ada di rumah sakit, dan ayah bilang ibu sudah tidak ada.”
Terlihat jelas kesedihan di wajah Joshua. Clara merasa tidak enak hati dengan Joshua. Lalu ia berbalik badan, dan menepuk pelan punggung Joshua. Sambil berkata, “itu semua takdir, jalan Tuhan, yang sabar, ya.” Joshua hanya membalas perkataan Clara dengan senyuman.
Lalu kemudian hening, mereka sibuk dengan pikirannya masing masing. Entah itu Clara yang masih tertarik dengan hujan. Atau Joshua yang sedang membayangkan insiden kecelakaan waktu itu. Entahlah.
“Clara..,” panggil Joshua.
“Iya?”
“Kamu…., Joshua menggantungkan perkataannya, “mau enggak jadi pacar ku?”
Clara tercengang mendengarnya, ia kaget sekaligus senang. Sebenarnya, Clara suka pada Joshua. Sejak kelas 10 ia sudah satu kelas sampai sekarang. Mereka mengenal satu sama lain, dan juga bisa dibilang dekat. Clara sendiri sudah jatuh hati kepada Joshua saat pertama kali MOS. Dan, mulai saat itu Joshua lah yang menghiasi tidur malamnya.
“Kamu serius?” Clara masih tidak percaya.
“Emangnya aku terlihat main main?”
“Hmm.., tidak,” Clara jadi salah tingkah. 
Dan kemudian ia mengangguk, pertanda bersedia menjadi kekasih Joshua, "Aku mau jadi pacar kamu, Josh."
"Kamu serius?"
"Menurut kamu?"
"Iya."
"Ya, memang iya. Kamu mau membelah hujan enggak? Kita main hujan-hujanan."
"Boleh." 
Setelah itu mereka berdua pergi, menelusuri jalan, membelah hujan. Dan menurut Clara ini adalah hujan terindah dalam hidupnya.
Tiba tiba terdengar suara bel berbunyi, menyadarkan Clara dari lamunan nya. “Ah, siapa sih yang datang malam malam begini,” batinnya. Bel terus berbunyi, sepertinya seorang diluar pintu itu sudah tidak sabar. Clara menuruni anak tangga lalu segera membukakan pintu untuk tamu tersebut. Alih alih menjawab, Clara seperti terbius begitu saja, kakinya seperti lumpuh seketika. Ia tidak kuasa menahan air matanya yang tercampur dengan gejolak emosi yang ia tahan selama ini. Ya, itu adalah Joshua, Joshua kekasihnya. Clara hanya bergeming di ambang pintu, dan tidak mengatakan apa apa.
“Hai, Honey, kamu enggak mau suruh aku masuk dulu? Aku sudah kehujanan nih.”
Clara bergeming, ia tak kuasa, tangannya masih menutup mulutnya. Air mata pun masih mengalir membentuk anak sungai di pipinya.
“Kalau kamu mau nangis, nangis aja, sudah ada aku disini, aku kembali, Clara.” Bukan Clara yang mempersilahkan Joshua masuk ke rumahnya, justru Joshua yang membawa masuk Clara kedalam. Disini, Clara hanya tinggal sendiri, orangtuanya ada di Jogjakarta, ia memilih melanjutkan studinya di Jakarta.
Joshua membiarkan Clara, lalu ia menyodorkan segelas air putih untuk Clara, “Ini, minum dulu.” Lalu Clara meminum segelas air putih itu, setelah ia mampu mengendalikan emosi nya Clara berjanji untuk memberikan sejuta pertanyaan kepada Joshua.
“Kamu kok bisa ada disini? Kenapa enggak bilang aku kalau mau balik ke Indonesia? Kan aku bisa jemput kamu, Joshua. Kenapa handphone kamu enggak..., belum selesai Clara berbicara tapi Joshua sudah meletakkan jarinya ke bibir Clara, “Jangan berisik ah, mending kasih aku handuk dulu, kamu enggak mau aku sakit kan?” Joshua mengerjap kan sebelah matanya.
“Ih, kamu ini ya. Sebentar, aku ambil handuk aku dulu.” Kemudian Clara mengambil handuk di kamarnya lalu segera memberikan kepada kekasihnya itu. Lalu ia kembali duduk disamping Joshua.
“Aku sengaja enggak bilang kamu soalnya aku mau ngasih kejutan. Lagi pula aku sehat sehat aja kok, enggak perlu khawatir, dan yang lebih penting happy anniversary 5 year, Dear.” Joshua mencium kening Clara lalu Clara membalasnya dengan melingkari tangannya di pinggang Joshua. Clara menatap Joshua dalam dalam, “Kamu enggak akan ninggalin aku lagi kan?” Tanya Clara. “Enggak akan, kita akan seperti dahulu lagi, Clara.” Lalu keduanya sama sama tersenyum. Clara sangat bahagia, pastinya. Hari ini ia kembali bertemu dengan kekasihnya. Awal kepergian Joshua ia tidak percaya bahwa ia akan mampu melewati semuanya. Tapi, waktu pun menjawab, mereka mampu, mereka mampu bertahan, ia mampu melewatinya. Tiba tiba Clara teringat sesuatu, lalu ia mengambil gelas kusam yang ditutupi plastik di atasnya. Setelah itu ia berikan gelas kusam itu kepada Joshua.
"Ini untukmu, Josh." Clara menyodorkan gelas itu kepada Joshua.
"Apa ini?," Joshua membuka tutup gelas tersebut
"Itu air hujan untukmu."
"Untukku?" Joshua nampak bingung.
"Iya, untukmu. Apa yang kamu rasakan saat menyentuh air itu?"
Joshua menyentuh air hujan tersebut, "Dingin," jawabnya.
"Ya, sedingin itulah rinduku padamu." Clara dan Joshua sama sama tersenyum.
“Clara, kamu mau enggak keluar rumah, lalu mencari makan, atau apapun. Kita melakukan kembali hal yang pernah kita lakukan saat pertama kali kita berkomitmen.”
“Membelah hujan?”
“Iya, yuk!”
“Ayo!” jawab Clara antusias.
Mereka pun keluar rumah, dan hujan pun masih turun menemani mereka. Mereka tidak menggubris nya. Yang terpenting adalah; mereka bisa kembali bersama, membuktikan kepada semua orang bahwa mereka mampu melewatinya. Rindu yang selalu membuat sesak dadanya selama ini, kini hilang begitu saja dalam luapan bahagia. Semuanya akan baik-baik saja, begitu katanya.









No comments:

Post a Comment