Pesanan Clara sudah
datang. Kali ini ia ditemani Aida, temannya untuk makan malam. Restaurant yang
ia pilih tidak ramai, tidak juga sepi.
“Bagaimana hubungan kau
dengan Joshua?” Aida melirik Clara.
“Baik. Kau sendiri
bagaimana dengan mantan mu itu? Sudah dapat pengganti?”
Aida mengangkat bahu,
“Entahlah, aku belum bisa melupakannya. Pertanyaan ku masih sama bagaimana kamu
mempertahankan hubungan kalian, sedangkan Joshua tidak di samping mu lagi?”
Clara meletakkan
garpunya, ia berhenti makan sejenak, “Banyak hal yang membuat aku masih bisa
bertahan, sama halnya dengan kamu. Kamu masih tetap mencintai mantan mu itu,
padahal kalian sudah tak lagi berhubungan,” lalu ia menyantap makanannya lagi.
“Kamu enggak takut dia
suka cewek lain? Disana kan banyak bule cantik.”
“Yang cantik memang
banyak. Tapi soal hati siapa yang tahu?” Aida mengangkat bahunya acuh. Aida
masih bingung kenapa Clara masih mempertahankan hubungannya itu. Clara cantik,
pintar, mempunyai pekerjaan tetap, hal itu tidak membuat kecil kemungkinan para
cowok jatuh hati dengan Clara. Dan Joshua, kekasih Clara, sedang melanjutkan
studinya di Jerman selama 3 tahun. Dan saat ini adalah tahun terakhir Joshua
disana. Dan, sampai saat ini Clara hanya memandang ke satu arah saja, Joshua.
“Pulang yuk!” Ajak Clara
“Ayo”
*****
Langit sepertinya tidak
terlalu cerah. Mungkin sebentar lagi hujan. Clara masih sibuk dengan layar
monitor nya. Di sela sela kesibukan, tiba tiba ponsel nya berdering. Diraihnya
ponsel itu, lalu ia menatap layarnya. “Ah, sudah ku duga” batinnya. Kemudian ia
menekan tombol hijau.
“Halo, Dear,” sapa
seorang pria di seberang sana.
“Halo, Hun. Bagaimana
kabar mu?”
“Baik. Apalagi mendengar
suara kamu.”
“Gombal,” kemudian
terukir senyum di bibir Clara
Joshua tertawa renyah,
“Kamu lagi apa, Dear?”
“Apa lagi kalau
bukan mengerjakan tugas kuliah. Kamu sendiri lagi apa?”
“Semangat, Honey!. Aku
lagi istirahat aja.”
“Thanks, Dear”
“No prob, hun”
Kemudian keduanya sama
sama diam. Sibuk dengan pikirannya masing masing. Sebelum akhirnya Clara
mengawali pembicaraan lagi.
“Josh…,” panggil Clara
“Iya?”
“Kamu sudah 3 tahun
disana, kapan mau balik ke Indonesia?” Sepertinya Clara sudah tidak sabar lagi
berjumpa dengan Joshua. Bagaimana tidak, mereka sudah tidak berjumpa selama 3
tahun. Memang, selama ini mereka sering Skype, video call atau pun menelepon
seperti saat ini. Tapi ternyata rindu tak mau mengalah meski sudah mendengar
suara parau nya di seberang sana.
“Aku belum tahu, sabar
ya, Sayang.”
Clara tersenyum, “Aku
akan menunggu kamu, kok.”
“Asal….,” Joshua
menggantungkan perkataannya.
“Asal kamu enggak bawa
bule cantik ke sini,” kemudian mereka tertawa bersama.
Mungkin rindu tak bisa
diobati hanya dengan mendengar suaranya. Tapi, percayalah, ini jauh membuatku
lebih baik dari sebelumnya.
“Josh.., disini
langitnya mendung.”
“Ya, jelas lah kan di
sana musim penghujan. Lagi pula apa bagusnya sih langit mendung gitu, bukannya
nampak sedih, ya? Atau hujan yang meninggalkan genangan coklat di ruas ruas
jalan. Menambah kemacetan saja.”
“Yeee jangan sinis gitu
dong. Hujan itu anugerah tahu,” Joshua memang tidak suka langit mendung, apa
lagi hujan. Menurutnya, orang orang yang suka dengan hujan itu terlalu dramatis.
Dan tentunya setelah adanya kejadian itu.
“Siapa juga yang sinis.
Clara, kamu tahu enggak kenapa langit mendung tapi tak kunjung hujan?”
“Kenapa?”
“Karena uap rindu
menyublim bersama udara. Terbiar terlalu lama.”
Clara tercengang
mendengarnya. Selama ini ia tidak pernah mendengar Joshua berkata seperti itu.
Justru Joshua adalah tipe cowok yang serius dalam suatu hal, “Ko kamu jadi
puitis gitu?” Tanya Clara.
“Memangnya kenapa? I
miss you so much, Dear,” kali ini perkataan Joshua terdengar serius.
“Tidak. Aku hanya kaget
mendengarnya. I miss you too. Aku yakin kita bisa melewatinya. Terkadang, saat
kita sudah ingin sampai ke suatu tujuan justru kita lengah begitu saja. Aku
percaya, kalau kita tidak akan seperti itu.”
“I hope so. Kalau aku
sudah ada rencana balik ke Indonesia, aku akan segera menghubungi mu.”
“Iya, Sayang.”
“Aku beruntung memiliki
mu.”
“Dan aku juga tak kalah
beruntung.” Lalu mereka tersadar, keduanya sama sama tersenyum. Entah itu
merasa bahagia, atau pun haru. Yang jelas, Tuhan telah menciptakan kedua insan
ini di dunia dan mempertemukan mereka. Saling berbagi, dan saling menyayangi.
******
Jika jarak sejauh bumi
dengan langit,
Maka biarkanlah hujan
yang meringkasnya
Rintik hujan jatuh di
daunan menciptakan nada nada
Yang membuat kamu menari
dalam pikiran
Jika hujan ini bernama
rindu
Maka setiap tetes nya
adalah aku yang diam diam ingin memeluk mu
Kau tahu kenapa hujan
turun beramai ramai?
Karena setetes saja tak
cukup
Begitu pula cintaku
padamu.
Aku harap, aku bisa
menjadi rintik hujan
Dengan begitu kau akan
melihat ku
Meskipun hanya dibalik
tirai jendela kamarmu.
Jakarta, 19 Januari
2010.
Hari ini adalah hari
jadi Clara dan Joshua yang ke-5 tahun. Anehnya, hari ini Joshua sulit
dihubungi. Terakhir Clara menerima kabar dari Joshua adalah tadi pagi,
sekaligus ucapan selamat hari jadinya. “Apa mungkin dia ingin membuat kejutan,
ya?” batin Clara. Jingga tidak ada kali ini. Ia tergantikan oleh awan hitam.
Beserta rintik hujan yang tentram. Ah, baru kali ini Clara merasa tidak
tertarik dengan langit kelabu. Biasanya ia selalu menanti hujan dan aroma tanah
yang begitu khas. Dilirik jam di lengannya, “pukul 6,” gumamnya. Biasanya
mereka masih larut dalam perbincangan. Tapi, kali ini, entah kenapa, Joshua
tidak menghubungi nya, dan hal itu membuat Clara khawatir. Lalu ia mencoba menghubungi
Joshua kembali. Tapi, lagi lagi nomor nya tidak aktif. Clara bangkit dari
tempat tidurnya, lalu ia melihat keluar jendela. Hujan diluar sangat deras, dan
membuat Clara teringat saat Joshua meminta Clara untuk menjadi kekasihnya.
Waktu itu, bel pulang
sudah lama berdering, tinggal beberapa anak saja yang masih berada di area
sekolah. Clara sendiri baru saja usai mengikuti ekstrakulikuler, ia ingin
pulang, namun ia harus mengurung kan niatnya karena hujan belum juga reda.
Clara memutuskan untuk duduk di bangku taman belakang sekolah. Tiba tiba
terdengar seorang laki laki memanggilnya, Clara lantas menengok. Ternyata ia
adalah Joshua.
“Boleh aku duduk
disini?” Tanya Joshua
“Silahkan saja,” Clara
masih sibuk memperhatikan hujan.
“Kamu suka hujan?”
“Iya.”
“Kenapa?”
“Karena hujan memiliki
sisi ketenangan sendiri bagiku. Aku suka aroma tanah setelah hujan, atau
kehadiran pelangi setelahnya.”
“Dulu, aku suka hujan, alasannya sama seperti
mu. Tapi, itu terjadi sebelum ibuku meninggal.”
Clara tertarik dengan
cerita Joshua, ia tidak lagi menggubris hujan. Sebelumnya Clara sempat
mendengar kabar bahwa Joshua seorang piatu. Tapi, ia tidak pernah benar benar
menanyakan hal itu kepada Joshua. Ia tidak enak hati.
“Memangnya apa yang
terjadi waktu itu?”
“Waktu itu, hujan deras
sekali, bahkan aku tidak bisa melihat jalanan. Sebelumnya aku meminta kepada
ibuku untuk tidak melanjutkan perjalanan lagi, tapi ia meminta aku untuk
melanjutkan perjalanan, sampai pada akhirnya ada bus yang sedang melaju kencang
dari arah berlawanan. Lalu bus itu menabrak mobil kami. Dan selebihnya aku
enggak ingat lagi. Setelah sadar ternyata aku sudah ada di rumah sakit, dan
ayah bilang ibu sudah tidak ada.”
Terlihat jelas kesedihan
di wajah Joshua. Clara merasa tidak enak hati dengan Joshua. Lalu ia berbalik
badan, dan menepuk pelan punggung Joshua. Sambil berkata, “itu semua takdir,
jalan Tuhan, yang sabar, ya.” Joshua hanya membalas perkataan Clara dengan
senyuman.
Lalu kemudian hening,
mereka sibuk dengan pikirannya masing masing. Entah itu Clara yang masih
tertarik dengan hujan. Atau Joshua yang sedang membayangkan insiden kecelakaan
waktu itu. Entahlah.
“Clara..,” panggil
Joshua.
“Iya?”
“Kamu…., Joshua
menggantungkan perkataannya, “mau enggak jadi pacar ku?”
Clara tercengang mendengarnya,
ia kaget sekaligus senang. Sebenarnya, Clara suka pada Joshua. Sejak kelas 10
ia sudah satu kelas sampai sekarang. Mereka mengenal satu sama lain, dan juga
bisa dibilang dekat. Clara sendiri sudah jatuh hati kepada Joshua saat pertama
kali MOS. Dan, mulai saat itu Joshua lah yang menghiasi tidur malamnya.
“Kamu serius?” Clara
masih tidak percaya.
“Emangnya aku terlihat
main main?”
“Hmm.., tidak,” Clara
jadi salah tingkah.
Dan kemudian ia
mengangguk, pertanda bersedia menjadi kekasih Joshua, "Aku mau jadi pacar
kamu, Josh."
"Kamu serius?"
"Menurut
kamu?"
"Iya."
"Ya, memang iya.
Kamu mau membelah hujan enggak? Kita main hujan-hujanan."
"Boleh."
Setelah itu mereka
berdua pergi, menelusuri jalan, membelah hujan. Dan menurut Clara ini adalah
hujan terindah dalam hidupnya.
Tiba tiba terdengar
suara bel berbunyi, menyadarkan Clara dari lamunan nya. “Ah, siapa sih yang
datang malam malam begini,” batinnya. Bel terus berbunyi, sepertinya seorang
diluar pintu itu sudah tidak sabar. Clara menuruni anak tangga lalu segera
membukakan pintu untuk tamu tersebut. Alih alih menjawab, Clara seperti terbius
begitu saja, kakinya seperti lumpuh seketika. Ia tidak kuasa menahan air
matanya yang tercampur dengan gejolak emosi yang ia tahan selama ini. Ya, itu
adalah Joshua, Joshua kekasihnya. Clara hanya bergeming di ambang pintu, dan
tidak mengatakan apa apa.
“Hai, Honey, kamu enggak
mau suruh aku masuk dulu? Aku sudah kehujanan nih.”
Clara bergeming, ia tak
kuasa, tangannya masih menutup mulutnya. Air mata pun masih mengalir membentuk
anak sungai di pipinya.
“Kalau kamu mau nangis,
nangis aja, sudah ada aku disini, aku kembali, Clara.” Bukan Clara yang
mempersilahkan Joshua masuk ke rumahnya, justru Joshua yang membawa masuk Clara
kedalam. Disini, Clara hanya tinggal sendiri, orangtuanya ada di Jogjakarta, ia
memilih melanjutkan studinya di Jakarta.
Joshua membiarkan Clara,
lalu ia menyodorkan segelas air putih untuk Clara, “Ini, minum dulu.” Lalu
Clara meminum segelas air putih itu, setelah ia mampu mengendalikan emosi nya
Clara berjanji untuk memberikan sejuta pertanyaan kepada Joshua.
“Kamu kok bisa ada
disini? Kenapa enggak bilang aku kalau mau balik ke Indonesia? Kan aku bisa
jemput kamu, Joshua. Kenapa handphone kamu enggak..., belum selesai Clara
berbicara tapi Joshua sudah meletakkan jarinya ke bibir Clara, “Jangan berisik
ah, mending kasih aku handuk dulu, kamu enggak mau aku sakit kan?” Joshua
mengerjap kan sebelah matanya.
“Ih, kamu ini ya.
Sebentar, aku ambil handuk aku dulu.” Kemudian Clara mengambil handuk di
kamarnya lalu segera memberikan kepada kekasihnya itu. Lalu ia kembali duduk
disamping Joshua.
“Aku sengaja enggak
bilang kamu soalnya aku mau ngasih kejutan. Lagi pula aku sehat sehat aja kok,
enggak perlu khawatir, dan yang lebih penting happy anniversary 5 year, Dear.”
Joshua mencium kening Clara lalu Clara membalasnya dengan melingkari tangannya
di pinggang Joshua. Clara menatap Joshua dalam dalam, “Kamu enggak akan
ninggalin aku lagi kan?” Tanya Clara. “Enggak akan, kita akan seperti dahulu
lagi, Clara.” Lalu keduanya sama sama tersenyum. Clara sangat bahagia,
pastinya. Hari ini ia kembali bertemu dengan kekasihnya. Awal kepergian Joshua
ia tidak percaya bahwa ia akan mampu melewati semuanya. Tapi, waktu pun
menjawab, mereka mampu, mereka mampu bertahan, ia mampu melewatinya. Tiba tiba
Clara teringat sesuatu, lalu ia mengambil gelas kusam yang ditutupi plastik di
atasnya. Setelah itu ia berikan gelas kusam itu kepada Joshua.
"Ini untukmu,
Josh." Clara menyodorkan gelas itu kepada Joshua.
"Apa ini?," Joshua
membuka tutup gelas tersebut
"Itu air hujan
untukmu."
"Untukku?"
Joshua nampak bingung.
"Iya, untukmu. Apa
yang kamu rasakan saat menyentuh air itu?"
Joshua menyentuh air
hujan tersebut, "Dingin," jawabnya.
"Ya, sedingin
itulah rinduku padamu." Clara dan Joshua sama sama tersenyum.
“Clara, kamu mau enggak
keluar rumah, lalu mencari makan, atau apapun. Kita melakukan kembali hal yang
pernah kita lakukan saat pertama kali kita berkomitmen.”
“Membelah hujan?”
“Iya, yuk!”
“Ayo!” jawab Clara
antusias.
Mereka pun keluar rumah,
dan hujan pun masih turun menemani mereka. Mereka tidak menggubris nya. Yang
terpenting adalah; mereka bisa kembali bersama, membuktikan kepada semua orang
bahwa mereka mampu melewatinya. Rindu yang selalu membuat sesak dadanya selama
ini, kini hilang begitu saja dalam luapan bahagia. Semuanya akan baik-baik
saja, begitu katanya.
No comments:
Post a Comment