Aku masih di dalam taksi saat langit mulai merintikkan hujan. Hujan November, yang selalu mengingatkanku saat pertama kali bertemu dengannya. Saat itu ia sedang mendorong sepedanya karena bannya bocor. Aku masih ingat bagaimana eksperi wajahnya, penuh kejengkelan dan frustasi! Tapi itu yang membuat ku tertarik untuk menghampirinya.
Saat itu juga aku tahu; namanya Tsuki, kalau diartikan dalam bahasa Jepang artinya bulan.
*****
Bogor, 2010.
Ternyata Bogor tak banyak berubah, masih cantik seperti dulu. Aku sudah memutuskan untuk pulang ke Indonesia setelah 10 tahun menetap di Amerika. Orang tua ku sudah lama meninggal, alasan ku pulang hanya untuk mengabdi kepada ibu pertiwi dan Tsuki, tentunya.
Tsuki pernah bilang kalau nama kita saling melengkapi; Tsuki untuk bulan, dan Azaroa, namaku, untuk November. Tapi jarang sekali orang – orang memanggilku dengan sebutan itu, bahkan tidak dengan orang tua ku sendiri. Mereka lebih sering memanggil ku Azura, nama depanku.
Aku sudah menunggu Tsuki sejak 15 menit yang lalu. Aku sengaja datang lebih awal, tak mau membuatnya menunggu. Sudah sepuluh tahun terkahir aku tak berjumpa dengannya, sejak aku memutuskan untuk melanjutkan sekolah di Amerika. Tapi tak ada satu haripun yang kami lewatkan tanpa memberi kabar.
Aku tersenyum saat pintu Café terbuka dan mendapati dirinya. Matanya mengelilingi ruangan dan tersenyum saat menemukan diriku. Dan sekarang ia sudah berdiri di depan ku.
“Maaf sudah membuatmu menunggu,” katanya.
Aku tertegun untuk beberapa saat. Ia tak banyak berubah dari terakhir ku melihatnya. Hanya saja ia lebih terlihat sangat…, tampan.
“Saya belum lama datang, kok,” balasku.
Ah, Tsuki.., andai kau tahu perasaan ku yang sebenarnya, apa yang akan kau lakukan dengan perempuan yang kau sebut sahabat ini?
“Eh, ini minuman untuk saya?” Tanyanya sambil menunjuk segelas Espresso.
Aku mengangguk. “Memangnya ada orang lain di meja ini?”
Ia tersenyum. “Ternyata kamu masih ingat minuman kesukaan saya, ya.”
Tentu saja aku ingat, memangnya ada hal yang bisa membuat ku lupa tentangmu?
“Ah, cappuccino, selera kamu tidak berubah, Ra.”
Tiba – tiba sebuah lagu mengalun dari sisi ruangan.
When I look into your eyes
I can see a lover restrained
But darling when I hold you
Don’t you know I feel the same
Nothing last forever
And we both know hearts can change
And it’s hard to hold a candle
In the cold November rain.
Dan saat itu juga hujan turun dengan riuh rintiknya. Aroma tanah tercium oleh alat indra ku. Aku menghirup napas dalam – dalam sambil menutup mata. Dan menghembuskannya perlahan.
“Kamu mau membelah hujan?” Tanyanya tiba – tiba.
Aku mengangguk.
*****
We’ve been through this such a long time
Just trying to kill the pain
But love is always coming and love is always going
Ando no one’s really sure who’s letting go today
Walking away
Aku berdiri di pembatas jembatan dengan tangan melipat diatasnya. Tiba – tiba Tsuki melingkari tangannya kepinggul ku. Aku membiarkannya. Aku tak peduli jika seseorang melihat kami. Atau langit dengan gemuruh juga kilatnya.
Tsuki menaruh dagunya ke pundak, ia mencium leherku. Hatiku bergetar, apa ini saatnya aku mengungkapkan perasaanku? Tapi aku takut, takut kalau ia tidak bisa menerimanya, takut kalau justru ia akan meninggalkanku.
“I miss you so much, Azoara,” bisiknya.
Rasanya aku hampir menangis mendengarnya. Tsuki melonggarkan pelukannya. Aku membalik badan. Sekarang, mata kami bertatapan. Dan saat itu juga aku meyadari; sudah saatnya aku berterus terang dengan perasaanku.
“Saya ingin mengatakan sesuatu.”
“Saya juga.”
“Kalau begitu kau dulu.”
“No... Ladies first.”
Aku tersenyum. “Saya…, saya cinta kamu,” ucap ku terbata – bata. Kini, tak ada lagi hal yang ku sembunyikan dengannya. Ku tatap matanya, berharap ia bisa merasakan cinta itu.
“Saya tahu.” Aku membelakan mataku, saya tahu? Apa maksudnya? Dia tahu perasaan ku? Tidak mungkin. “Saya tahu karena.., karena saya juga cinta kamu.” Dan kini aku siap untuk pingsan.
“Saya cinta kamu, Azoara,” ulangnya kembali.
“Kenapa kamu baru mengatakannya?”
“Kenapa kamu baru mengatakan perasaanmu sekarang?” Sial, dia membalikkan pertanyaanku. Aku tak bisa menjawabnya karena ada banyak begitu alasan.
“Saya hanya tidak mau kehilangan kamu sebagai teman. Saya takut kalau andai saja.., andai saja kita pacaran dan putus saya takut kehilangan kamu. Karena kamu sahabat saya.”
“Lantas apa yang mau kamu katakana?” Tanyaku.
“Saya akan berlayar.”
“Saya tahu itu pekerjaan kamu.”
“Iya, tapi saya akan berlayar selama 20 tahun. Kalau saja kau mau..,” ia mengeluarkan sesuatu dari saku celananya, benda itu berbentuk kotak berwarna merah, dan ada cincin didalamnya, “kalau saja kau mau menikah dengan ku, aku akan berlayar bersamamu.” Ia bertekuk lutut di depan ku. Aku masih diam, tidak percaya dengan semua ini. “Maukah kau menjadi istri dan ibu dari anak – anak ku?” Katanya lagi.
Tak terasa air mataku menetes, aku masih tidak bisa berkata – kata. Hanya anggukan yang bisa ku lakukan sebagai jawabannya. Ia memasukkan cincin itu ke jari manis ku. Kalau saja ada kata – kata yang bisa mewakilkan perasaan ku ini…
Dan kini hujan turun lebih deras lagi. Dibawah rintiknya, aku berpelukan dengan orang yang kucinta. Dibawah hujan November ini, aku mendapatkan sahabat dan cinta ku. Terima kasih Tuhan.
And when your fears subside
And shadows still remain
I know that you can love me
When there’s no one left to blame
So never mind the darkness
We still can find a way
Cause nothing lasts forever
Even cold November rain.