Pages

11/30/2013

Hujan November

Aku masih di dalam taksi saat langit mulai merintikkan hujan. Hujan November, yang selalu mengingatkanku saat pertama kali bertemu dengannya. Saat itu ia sedang mendorong sepedanya karena bannya bocor. Aku masih ingat bagaimana eksperi wajahnya, penuh kejengkelan dan frustasi! Tapi itu yang membuat ku tertarik untuk menghampirinya.
Saat itu juga aku tahu; namanya Tsuki, kalau diartikan dalam bahasa Jepang artinya bulan.
*****
Bogor, 2010.
Ternyata Bogor tak banyak berubah, masih cantik seperti dulu. Aku sudah memutuskan untuk pulang ke Indonesia setelah 10 tahun menetap di Amerika. Orang tua ku sudah lama meninggal, alasan ku pulang hanya untuk mengabdi kepada ibu pertiwi dan Tsuki, tentunya.
Tsuki pernah bilang kalau nama kita saling melengkapi; Tsuki untuk bulan, dan Azaroa, namaku, untuk November. Tapi jarang sekali orang – orang memanggilku dengan sebutan itu, bahkan tidak dengan orang tua ku sendiri. Mereka lebih sering memanggil ku Azura, nama depanku.
Aku sudah menunggu Tsuki sejak 15 menit yang lalu. Aku sengaja datang lebih awal, tak mau membuatnya menunggu. Sudah sepuluh tahun terkahir aku tak berjumpa dengannya, sejak aku memutuskan untuk melanjutkan sekolah di Amerika. Tapi tak ada satu haripun yang kami lewatkan tanpa memberi kabar.
Aku tersenyum saat pintu Café terbuka dan mendapati dirinya. Matanya mengelilingi ruangan dan tersenyum saat menemukan diriku. Dan sekarang ia sudah berdiri di depan ku.
“Maaf sudah membuatmu menunggu,” katanya.
Aku tertegun untuk beberapa saat. Ia tak banyak berubah dari terakhir ku melihatnya. Hanya saja ia lebih terlihat sangat…, tampan.
“Saya belum lama datang, kok,” balasku.
Ah, Tsuki.., andai kau tahu perasaan ku yang sebenarnya, apa yang akan kau lakukan dengan perempuan yang kau sebut sahabat ini?
“Eh, ini minuman untuk saya?” Tanyanya sambil menunjuk segelas Espresso.
Aku mengangguk. “Memangnya ada orang lain di meja ini?”
Ia tersenyum. “Ternyata kamu masih ingat minuman kesukaan saya, ya.”
Tentu saja aku ingat, memangnya ada hal yang bisa membuat ku lupa tentangmu?
“Ah, cappuccino, selera kamu tidak berubah, Ra.”
Tiba – tiba sebuah lagu mengalun dari sisi ruangan.
When I look into your eyes
I can see a lover restrained
But darling when I hold you
Don’t you know I feel the same

Nothing last forever
And we both know hearts can change
And it’s hard to hold a candle
In the cold November rain.
Dan saat itu juga hujan turun dengan riuh rintiknya. Aroma tanah tercium oleh alat indra ku. Aku menghirup napas dalam – dalam sambil menutup mata. Dan menghembuskannya perlahan.
“Kamu mau membelah hujan?” Tanyanya tiba – tiba.
Aku mengangguk.
*****
We’ve been through this such a long time
Just trying to kill the pain
But love is always coming and love is always going
Ando no one’s really sure who’s letting go today
Walking away
Aku berdiri di pembatas jembatan dengan tangan melipat diatasnya. Tiba – tiba Tsuki melingkari tangannya kepinggul ku. Aku membiarkannya. Aku tak peduli jika seseorang melihat kami. Atau langit dengan gemuruh juga kilatnya.
Tsuki menaruh dagunya ke pundak, ia mencium leherku. Hatiku bergetar, apa ini saatnya aku mengungkapkan perasaanku? Tapi aku takut, takut kalau ia tidak bisa menerimanya, takut kalau justru ia akan meninggalkanku.
“I miss you so much, Azoara,” bisiknya.
Rasanya aku hampir menangis mendengarnya. Tsuki melonggarkan pelukannya. Aku membalik badan. Sekarang, mata kami bertatapan. Dan saat itu juga aku meyadari; sudah saatnya aku berterus terang dengan perasaanku.
“Saya ingin mengatakan sesuatu.”
“Saya juga.”
“Kalau begitu kau dulu.”
“No... Ladies first.”
Aku tersenyum. “Saya…, saya cinta kamu,” ucap ku terbata – bata. Kini, tak ada lagi hal yang ku sembunyikan dengannya. Ku tatap matanya, berharap ia bisa merasakan cinta itu.
“Saya tahu.” Aku membelakan mataku, saya tahu? Apa maksudnya? Dia tahu perasaan ku? Tidak mungkin. “Saya tahu karena.., karena saya juga cinta kamu.” Dan kini aku siap untuk pingsan.
“Saya cinta kamu, Azoara,” ulangnya kembali.
“Kenapa kamu baru mengatakannya?”
“Kenapa kamu baru mengatakan perasaanmu sekarang?” Sial, dia membalikkan pertanyaanku. Aku tak bisa menjawabnya karena ada banyak begitu alasan.
“Saya hanya tidak mau kehilangan kamu sebagai teman. Saya takut kalau andai saja.., andai saja kita pacaran dan putus saya takut kehilangan kamu. Karena kamu sahabat saya.”
“Lantas apa yang mau kamu katakana?” Tanyaku.
“Saya akan berlayar.”
“Saya tahu itu pekerjaan kamu.”
“Iya, tapi saya akan berlayar selama 20 tahun. Kalau saja kau mau..,” ia mengeluarkan sesuatu dari saku celananya, benda itu berbentuk kotak berwarna merah, dan ada cincin didalamnya, “kalau saja kau mau menikah dengan ku, aku akan berlayar bersamamu.” Ia bertekuk lutut di depan ku. Aku masih diam, tidak percaya dengan semua ini. “Maukah kau menjadi istri dan ibu dari anak – anak ku?” Katanya lagi.
Tak terasa air mataku menetes, aku masih tidak bisa berkata – kata. Hanya anggukan yang bisa ku lakukan sebagai jawabannya. Ia memasukkan cincin itu ke jari manis ku. Kalau saja ada kata – kata yang bisa mewakilkan perasaan ku ini…
Dan kini hujan turun lebih deras lagi. Dibawah rintiknya, aku berpelukan dengan orang yang kucinta. Dibawah hujan November ini, aku mendapatkan sahabat dan cinta ku. Terima kasih Tuhan.
And when your fears subside
And shadows still remain
I know that you can love me
When there’s no one left to blame
So never mind the darkness
We still can find a way
Cause nothing lasts forever
Even cold November rain.

7/04/2013

Anak - anak Kesepian

Mungkin tak banyak yang bisa ku utarakan dengan kata kata
Mungkin engkau hanya terdiam dalam tekanan
Mungkin engkau mencari jawab dalam hatimu dengan pikirmu
Mungkin juga engkau telah menyerah dengan keadaan
Mungkin juga engkau telah menyerah dengan keadaan, berpasrah pada ketidaktahuan
Mungkin engkau terlalu kosong untuk mengerti
Mungkin engkau terlalu rapuh untuk sekedar peduli
Mungkin engkau terlalu bosan mendengar segala jawab mereka yang ternyata tidak menjawab kebutuhanmu
Mungkin engkau terlalu lelah mencari, tapi tak banyak yang berhasil kau temukan
Mungkin engkau sudah terlalu penuh dengan kecewa

Biar ku beri tahu kau sesuatu tentang kesepian

Bukan hening. Bukan sendiri. Bukan senyap. Bukan gelap.
Bukan juga gaduh yang dicari. Tidak keramaian yang mendamaikan
Karena kosong. Hampa. Tidak bisa merasakan. Karena itu.
Bukan humor, bukan hadiah, bukan pujian yang mampu mengisi.

Itu kasih.
Mampu membuatmu menerima keadaan
Itu kasih, memampukanmu tersenyum disaat terabaikan
Dia membuatmu mengerti gairah, dia membuatmu mengerti tanpa peduli dengan alasan
Dia membuatmu menerima tanpa banyak diberi
Membuat mu puas melihat orang lain tertawa, walau kau telah tercampakan

Kasih.
Dia memampukanmu mendengar, sekalipun tidak banyak yang mau mendengar teriakmu.
Dia memberikan keperkasaan, menjadikan bahumu tempat kokoh bagi orang lain untuk meletakkan kepala dalam tangis. Sekalipun, tidak banyak yang melihat engkau begitu terluka.
Memberikanmu kesabaran, sekalipun engkau muak dengan segaka kehipokritian mereka
Kasih, dia memberikanmu kerelaan sekalipun hanya memanfaatkanmu
Tidak melihat mu sebagi subjek. Tetapi sebagai objek

Anak-anak kesepian.
Dipenuhilah hatimu dengan kasih. Dengan sukacita
Biar dunia dengan tawanya meninggalkanmu
Biar dunia tidak menghiraukan dukamu dan mencemooh sukacitamu
Biar saja mereka tidak memperhitungkanmu dan menjadikanmu pilihan terkahir
Biar saja mereka dengan dunia ini melakukan kesenangannya

Tapi anak-anak kesepian, isilah hatimu dengan kasih
Kuatkan ia dengan kasih
Untukmu, anak-anak kesepian. Biar engkau tersenyum indah karena engkau memiliki kasih. Yang dunia tolak daripada mu.


Kasih akan kembali padamu anak anak kesepian, dengan kesempurnaannya membawamu pada Penciptamu

6/13/2013

[Flash Fiction] Secret Admirer

                Aku membuka buku album. Didalamnya, terdapat banyak potret an seorang yang ku cintai, Fajar. Di lembar pertama terdapat fotonya sedang bermain gitar disela sela jam pelajaran. Itu adalah foto pertama yang ku potret sendiri. Kemudian fotonya saat bermain bola, mencetak gol, memegang piala, dan masih banyak lagi. Aku tersenyum melihatnya. Sampai di lembar terakhir, aku menempelkan beberapa foto saat kami di Bali, waktu liburan kemarin. Dan Satu-satunya foto yang terdapat aku didalamnya.
Aku menutup album tersebut, lalu memasukkan nya kedalam kotak coklat. Menutupnya, lalu merapatkan nya dengan se-untas pita putih. Esok, aku akan mengatakannya; bahwa selama 3 tahun ini aku menjadi secret admirer-nya. Tepat di hari kelulusan ku.
                                                                   *****
                Semua teman ku telah memberikan tanda tangannya di kemeja ku. Semua. Kecuali Fajar. Dan.., ku dapati ia sedang duduk di ujung koridor dengan wajah lusuh. Maka aku mengumpulkan keberanianku untuk menghampirinya. Tak lupa kotak coklat yang kubawa di tanganku. Aku berjalan menuju ia, dan menyembunyikan kotak coklat itu di belakang punggung ku.
               
                “Hei, Fajar.” Sapa ku ramah. Aku menyunggingkan se ulas senyum.
                “Hei, Clara,” ia bangkit. Tubuhnya yang semampai membuat ku merasa kecil.
                Aku menahan napas. Mengumpulkan keberanian. “Aku mau kasih in…,” baru aku ingin memberikan kotak coklat itu, namun ku urungkan karena melihat sebaris tulisan di atas saku kemeja nya; Bintang cinta Fajar. Lalu sederet angka di bawahnya. Tulisan itu begitu mencolok dari tulisan lainnya. Aku bergeming. Seribu pertanyaan menyerbu pikiran ku.
                “Kamu mau kasih apa?” Tanyanya.
                Aku menggeleng, “Oh, tidak. Boleh aku meminta tanda tanganmu di..,” ku lihat kemeja ku telah penuh dengan coretan, tak ada lagi ruang kosong disana. Aku mengeluarkan sapu tangan di saku kemeja ku, “Di sapu tangan ku?”
                Ia mengangguk. Lalu ia menoreh kan tanda tangannya disana. Setelah selesai ia memberikan sapu tangan ku kembali.
                “Terimakasih,” kata ku.
                “Sama sama. Boleh kau memberikan tanda tanganmu di kemeja ku.” Ia berbarik arah. Lalu menepuk punggungnya.
                “Dengan senang hati.”
                Setelah selesai, aku menutup tutup spidol. “Fajar,” panggil ku, membuatnya kembali membalikkan badannya.
                “Iya?”
                “Kau…, kau pacaran dengan Bintang?” Tanya ku ragu ragu.
                “Iya. Baru seminggu yang lalu.”
                Aku berupaya bersikap se wajar mungkin, “Langgeng ya,” Aku menepuk lengannya.
                “Makasih,” jawabnya riang, “Itu kotak apa?” Ia menunjuk ke arah kotak coklat. Kotak yang seharusnya sudah ku berikan sedari tadi kepadanya.
                “Oh, bukan apa apa. Aku duluan ya,” pamit ku.
                Aku berbalik badan. Berjalan menjauhinya. Bintang dan Fajar, terdengar sangat cocok. Dan sepertinya, sampai kapan pun aku akan tetap menjadi secret admirer-muFajar. Ucap ku dalam hati.


4/14/2013

Cinta dan perbedaan -FF


Gadis Batu penunggu sungai. Menunggu datangnya hujan yang akan membasahi rindu, menyuburkan kenangan. Gadis Batu adalah seorang gadis penunggu. Menunggu kehadiran. Menunggu kepulangan. Gadis Batu yang mencintai Pria Pasir di seberang sungai. Cinta yang harus tandas oleh perbedaan, membuat mereka ter sadar; bahwa perbedaan tak selamanya membuat mereka bersatu, seperti yang dikatakan banyak orang. Gadis Batu yang ingin menemui Pria Pasir. Pria Pasir yang ingin menghampiri Gadis Batu. Tapi sayangnya, ia harus melewati aliran air yang deras. Cinta merek menyimpan luka dan juga pengorbanan. Namun, sekuat apapun mereka berkorban, mungkin, hanya kematian yang akan menyatukan mereka di kehidupan lainnya. Bukan mereka ingin menyerah. Bahkan mereka sudah berusaha. Berusaha menyatukan perbedaan perbedaan yang ada. Tetaplah, minyak dan air tak akan menyatu. Hidup pada tradisi lama, tak kalah sulit dengan meninggalkan budaya modern. Gadis Batu selalu di batasi dengan norma norma yang ada. Sedang Pria Pasir tak mampu meninggalkan kebebasannya. Sampai pada suatu hari Gadis Batu dijodohkan dengan saudagar kaya yang bernama Batang Kayu. Gadis Batu tidak mencintai Batang kayu, sedikitpun. Meskipun kekayaannya melimpah, tapi menurutnya tak menjamin ke bahagiannya. Untuk apa menikahi orang yang tak kau cintai? Yang hanya dapat menyakiti orang yang kau nikahi, bukan itu saja, tapi juga menyakiti dirimu sendiri. Karena kau telah melakukan kesalahan yang besar, sekaligus ber sandiwara. Sampai pada akhirnya di hari pernikahan Gadis Batu ia memutuskan untuk melarikan diri. Ia pergi ke tepi sungai, menyeberangi jembatan yang lusuh itu. Ia tak peduli sebesar apa resiko nya. Mendengar Gadis Batu ingin menikah, Pria Pasir tak tinggal diam. Ia ingin bertemu dengan Gadis Batu. Pada saat yang bersamaan, mereka mencoba melewati pembatas itu. Baru pada tapak kan yang pertama, Gadis Batu tergelincir. Ia jatuh, lalu pecah berkeping keping. Ia tidak hanya terluka, tapi juga kehilangan nyawa. Sedangkan pria pasir menyeberangi sungai. Ia melawan arus yang deras. Tiba tiba ia tidak bisa bergerak. Ia ter hempas kesana kemari. Ia kehabisan nafas, dan akhirnya ia pun tenggelam ke dasar sungai dan terbentur dengan puing puing Gadis Batu. Inilah takdir. Inilah kasih. Inilah kisah perjalanan yang tak mampu menyatukan mereka di sisa hidupnya. Tapi, mereka tidur untuk selamanya di tempat yang sama; di dasar sungai dibawah jembatan. Bagi mereka, ini adalah akhir yang membahagiakan. Daripada harus hidup tapi tak bersama. Inilah titik akhir perjuangan, tentang cinta dan perbedaan. Serta maut yang menyatukan. 

4/13/2013

Quotes

Ada yang ingin disangkal Sakura saat dua manusia saling menyapa,
menenggelamkan asa yang ada
Kepergian yang sudah sudah hanya menambah kehilangan dalam diriku. Dan juga
setumpuk kenangan yang tertinggal dalam kotak memori
Buku buku yang ku baca tak cukup menjelaskan bagaimana rindu ini tercipta.

Ikatan janji yang pernah ada, kini hanya tinggal pengorbanan sebelah pihak diatas
puing puing kesetiaan yang tersisa
Jika saja rindu dapat ter kikis oleh gulungan ombak. Mungkin, rasa
pilu nya tak akan sebesar ini.
Kata orang, Paris adalah kota romantis. Maka aku akan memilih kamu
sebagai teman ku di kota itu.
Untuk apa aku menulis tergesa gesa tentang cinta. Hanya dengan bertemu
 denganmu saja  aku tau arti yang sebenarnya
Jika aku mengatakannya, mungkin hanya sia sia. Maka aku memilih
untuk menulis. Dengan begitu, aku masih bisa berharap suatu saat kau mau membacanya. Dan ter sadar..., itu untukmu. 
Rindu.., ia terlalu keras untuk disangkal. Terlalu egois untuk datang. Terlalu sulit untuk menyampaikan. Namun, terlalu sakit untuk di pendam.
Itulah cinta.., tak sesederhana saat kau mengucapkannya
Se pudar itukah cinta? Sampai sampai engkau tak lagi meluangkan waktu
untuk kita. Atau hanya sekedar bertegur sapa
Ku tiup kan rindu untukmu. Berharap kau turut merasakannya. 
Jika waktu yang tersisa terlalu singkat. Maka aku akan berdoa suatu saat nanti
kita dipertemukan dalam kisah yang berbeda
Masa lalu terlalu hitam untuk di ingat. Namun terlalu putih untuk dilupakan
Kenangan kenangan yang ku tulis sudah lusuh dimakan waktu.
Tapi aku percaya, ada hal yang disebut abadi; memori.


Anonim





4/06/2013

My birthday 15 th

Yuhuu hari ini gue ulang tahun loh, ya walaupun tambah tua dan mendekati kematian. Tapi juga bersyukur karena Allah masih memberikan kesehatan sampai saat ini. Sebelumnya, gua mau ngucapin banyak terimakasih buat pengunjung blog ini. Ya meskipun gua belom dapet pengunjung yang pasti, tapi thanks banget yang udah mau 'singgah' buat baca karya gua yang gak bagus bagus amat dan mungkin jauh dari bagus. Maklum aja, kan namanya belajar. Oiya, thanks banget buat temen temen semua yang ngucapin maupun tidak, yang ingat maupun enggak. Yang jelas, gue banyak banyak terimakasih karena sudah menginspirasikan dengan cerita cerita sehari hari. Terutama keluarga 88 dan 95. Doain aja semoga gua lulus UN, terus berkarya, keinginannya tercapai, jadi dokter. Amin. Sekali lagi, makasih semua!:*{}<3

Puisi- Untuk Hujan

Pernah, di suatu malam aku bercerita. Bukan pada seseorang, teman, atau pun dunia.Tapi, aku hanya bercerita seorang diri. Dibawah rintik hujan yang syahdu. Ku luap kan segala rindu. Aku tersedu. Menahan haru. Bukan karena perlakuan mu. Terlebih karena cerita dahulu. Aku menyeka air mata ku. Sendiri. Kenangan kenangan yang masih basah di ingatan, seperti tanah sehabis hujan. Kau tau? Aku merindukan mu. Aku merindukan
mu layaknya tumbuhan menanti hujan. Aku lebih dari kering. Aku tandus, aku gersang, aku kehausan. Aku butuh se tetes air hujan untuk menyejukkan dahaga. Dan kali ini hujan datang. Tapi, kau tidak. Aku teringat kala itu kau gandeng sebelah tangan ku. Menerobos hujan. Kemudian aku kedinginan. Maka kau memberi ku sebuah jaket untuk ku kenakan. Kini, aku pun kedinginan, tapi bukan karena angin kencang diluar. Melainkan karena kenangan. Air mata ku berlinang. Mengingat kau telah menghilang. Oh, sayang, cepat lah pulang. Aku lelah dengan penantian. Semoga kau juga merindukan.

Setangkai bunga - Cerpen




Kepergian.
Dear Ryan,
Tidakkah hari itu menjadi hari terakhir pertemuan kita untuk berapa kurun waktu? Lalu, mengapa kau tidak membiarkan aku untuk mengantar mu ke Bandara pagi itu? Apa kau tidak ingin aku mengantar sebelum kepergian mu? Andai saja aku ikut mengantar mu pagi itu, mungkin, aku tidak akan merasa kehilangan mu sebegitu besarnya. Karena aku masih bisa melihat sorot mata mu sekali lagi, lalu merekamnya dalam dalam.
Tidakkah kau tau bahwa malam sebelum kepergian mu kita sama sama tidak bisa tertidur? Terjaga oleh gelapnya malam. Atau, sibuk membayangkan bagaimana kita nantinya. Bagaimana hubungan ini bisa bertahan. Bagaimana cara kita menghadapi bayang bayang kenangan yang selalu mengganggu pejam tidur ku. Bagaimana nantinya rindu yang akan mengusik hari ku. Dan, bagaimana aku bisa terus mencintaimu.
Ryan, tidakkah kau ingin melewati waktu bersama ku lagi? Memulai segala yang baru atau mengulang semuanya. Ryan, bayang bayang mu tidak mungkin begitu saja terhempas lalu termakan oleh kejam nya waktu. Ryan, andai kau tau bagaimana aku memendam semua ini.
Ryan, aku hanya bisa berdoa untukmu, dan juga kita. Berharap kita mampu melewatinya, menjaga apa yang ada, atau bertahan lebih lama.
Oh, ya, jangan lupa memberi kabar setibanya kau disana. Aku akan sangat merindukan mu, Ryan.

                                                                                    *******

Malika, seperti yang kau tahu; aku tidak suka tempat ini. Tempat seseorang akan pergi atau datang. Tempat ini terlalu banyak menyimpan duka, atau mungkin juga bahagia. Tapi, kali ini aku tidak suka tempat ini untuk yang kesekian kalinya. Kepergian kepergian yang membuat ku merasa terpuruk. Merelakan kepergian seseorang yang aku cintai, sungguh, itu hanya membuat ku lebih sedih. Andai saja kau hadir di sini, mungkin, akan ada bulir bulir yang berjatuhan dari mata hitam mu. Dan aku tidak mau melihatnya. Atau, aku yang menginginkan pelukan terakhir darimu. Yang membuat ku tidak tahu harus bagaimana melepasnya.
Jangan khawatirkan aku, Malika. Aku akan baik baik saja. Justru kau yang harus menjaga dirimu. Aku pasti akan merindukan mu. Pasti. Bahkan, saat ini pun aku sudah merindukan mu. Semoga Tuhan berkenan mempertemukan kita nantinya. Amin.

                                                                                   *******

 Senja kelabu.
Senja pertama tanpa kehadiranmu terasa begitu hampa, Ryan. Aku seolah mati bersama tenggelam nya matahari. Ryan, bagaimana kabar mu disana, ya? Mengapa sampai saat ini kau tidak menghubungi ku? Rasanya, akan ada banyak hal yang harus mulai kita pelajari. Menunggu, misalnya. Seperti yang kau ketahui; aku tidak suka menunggu. Memang nya, siapa yang suka menunggu? Menunggu adalah pekerjaan yang pasif. Tapi, mulai saat ini aku harus belajar menunggu, terlebih menunggu mu kembali. Aku harus belajar sabar untuk menjalani semua ini. Atau, menerima luapan doa menjadi pelupuk kecil di mata.
Alih alih menjawab, ponsel ku bergetar. Pesan masuk. Aku segera membuka pesan tersebut, dan mendapati namamu tertera di layar ku
“Aku sudah sampai, Mal,” begitu katamu.
Syukurlah, kau tiba disana dengan selamat. Maka, aku segera membalas pesan mu, “Istirahat dahulu, ya.” Karena aku tidak bisa disamping mu, maka, hanya dengan ponsel ini aku bisa mengetahui apa yang kau kerjakan. Apapun itu, aku percaya denganmu. Rasanya, ingin sekali memperhatikanmu dengan leluasa, tanpa ada jarak yang terbentang tentunya. Teringat dahulu kita lebih sering melewati hari bersama, dan sekarang, harus berpisah selama tiga tahun. Mungkin, bukan waktu yang lama jika kita melewatinya dengan bersama. Tapi, bisa juga tidak, karena sekarang kamu tidak lagi disini. Itu yang membuat ku sedih.

                                                                                      ********

Malika, udara disini sangat dingin. Berbeda sekali dengan di Jakarta. Andai saja kau ada disini, aku tidak perlu membuat coklat panas, atau teh hangat untuk menghangatkan tubuh ku. Hanya dengan melihat senyuman mu aku merasa kehangatan men julur ke seluruh tubuh ku. Andaikata kau disini, kau pasti yang akan me rapi kan semua pakaian ku. Karena kau tidak suka melihat kamar tidak rapi, bukan? Berbeda sekali dengan ku, aku tidak peduli dengan kamar ku. Menurut ku, kamar adalah tempat yang bisa membuat ku seperti Raja. Aku bisa berlaku semaunya. Tapi, hal itu tidak bisa ku lakukan kalau kau ada disamping ku. Aku rindu semua perhatianmu, Malika. Semua yang pernah kau berikan untuk ku rasanya tidak bisa ku dapati dengan wanita lainnya. Mungkin bisa, tapi rasanya tidak sama. Malika, aku harap, kita mampu menjalani semua ini. Aku tidak bisa menjanjikan kebahagiaan padamu. Tapi, aku berjanji akan kembali padamu.

                                                                                     *******
Amsterdam, 10 April 2009.
Malika, ini adalah tahun ketiga kita tidak berjumpa. Malika, ternyata kau masih ada untuk ku. Walaupun dengan versi yang berbeda. Tapi tak mengapa. Malika, aku sangat merindukan mu. Sangat amat. Aku rindu masa masa kala kita bersama. Malika, aku berencana untuk pulang esok. Ya, pada hari ulang tahunmu. Maka, aku menyempatkan diri untuk membeli bunga Tulip untukmu. Malika, saat ini aku sedang berjalan jalan di Keukenhof sekitar 3 jam dari Amsterdam. Tempat ini sangat ramai, Malika. Bunga bunga Tulip disini begitu indah. Bunga bunga yang bermekaran, warna warni bertaburan. Andai saja kau ada disini, aku pasti akan menggandeng tanganmu. Aku ingat, kau sangat suka dengan Tulip. Meskipun kau sendiri tidak tau mengapa kau menyukai nya. Katamu; ‘Tulip itu berbeda dengan yang lain’ ya, sama seperti dirimu. Terlintas, kau sama dengan wanita lain. Cantik, baik, dan juga pintar. Tapi lebih dari itu, kau sangat istimewa di mata ku. Dan aku tidak tau alasan apa untuk itu. Malika, maka aku membawakan Tulip untukmu. Mungkin sesampainya disana ia sudah layu. Tapi tak mengapa, aku tau kau tetap menyukai nya. Malika, tunggu aku, aku segera pulang lalu memeluk mu dengan penuh kerinduan.

                                                                            ******
Jakarta, 11 April 2009.
Ryan, pagi ini aku bangun terlalu pagi. Sinar matahari sepertinya memaksa ku untuk segera membuka mata dan bangun dari jerat mimpi. Lalu aku membiarkan tubuh ku untuk merasakan segarnya ari di pagi hari. Tidak lama setelah itu, aku mendengar deru mobil yang sepertinya aku sangat mengenalnya. Maka aku mengintip di balik tirai jendela. Everest hitam. Apakah itu dirimu? Apa mungkin kau telah pulang, Ryan? Pulang? Satu kata yang sangat ku rindu kan, terlebih jika itu menyangkut dirimu. Maka aku cepat cepat menuruni anak tangga dan membuka pintu. Alih alih menjawab, otot otot di seluruh tubuh ku lumpuh.  Tenggorokan terasa kering, sebelum akhirnya aku bersusah payah mengeluarkan suara, dan aku pun tidak yakin akan terdengar oleh mu. ‘Ryan?’ kata ku akhirnya. “Selamat ulang tahun, Malika,” Ryan mengecup kening ku. Hmm…, sebentar. Apa kata Ryan tadi? Ulang tahun? Siapa yang ulang tahun? “Kau lupa hari ini kau ulang tahun, Malika?” Aku mengingat ingat sebentar. Tanggal berapa ini? Lalu aku menoleh ke belakang, melihat angka 11 di dinding. 11 Juni. Ya, benar, ini hari ulang tahun ku,” senyuman merekah di bibir ku. Ryan, ini adalah ulang tahun terindah ku. Kau tau kenapa? Karena kau kembali. Aku tidak perlu lagi menunggu kau memberi kabar lewat telepon genggam. Atau aku yang sibuk membayangkan kau sedang apa disana. Ryan, terimakasih atas bunga Tulip nya. Aku menyukai nya, sungguh. Terlebih jika diberikan dari mu. Ryan, makasih untuk waktu yang kau beri selama ini. Aku mencintaimu, Ryan.

3/10/2013

Cerpen - Cerita tanpa nama


Belum sempat aku mengiringi kepergian matahari, tapi ia sudah terlebih dahulu pulang ke peraduan nya. Jingga perlahan memudar, berubah menjadi gelap malam. Para nelayan pun pergi untuk mencari nafkah, lalu kembali keesokannya. Hamparan pasir putih, desiran air, serta hembusan angin seolah menyapa ku. Angin ber hembus lembut membelai rambut ku. Aku berjalan menuju bibir pantai. Membiarkan kaki ku ter hempas oleh air laut. Lalu aku terduduk, sendiri. Pantai ini sungguh sepi. Seolah ikut mati bersama kepergian mentari. Ah, sekarang aku teringat dirimu, lagi. Semua tempat ini seolah menyimpan cerita. Di setiap sudut pantai ini seolah menyimpan tawa.  Masa masa kecil yang selalu bahagia. Kini hanya tinggal menjadi linangan air mata. Aku tak percaya, seseorang yang selalu menjaga ku, mengisi hari hari ku, kini meninggalkan ku. Selalu ada bayangan masa lalu saat aku terduduk di pantai ini. Terkadang, aku teringat perbincangan kita dulu. “Mengapa kenangan itu tidak saja pergi bersama mentari, ya?” Tanyaku kala itu. “Untuk apa? Toh, dia akan kembali lagi esok hari. Karena matahari masih melaksanakan tugasnya, kan?” jawabmu.  Ya, benar sekali katamu. Aku rindu padamu. Aku selalu berharap kau kembali, tapi, sampai saat ini, kata ‘pulang’ untuk dirimu tak kunjung ku temukan. Janji janji yang pernah kau beri ter lontar begitu saja tanpa adanya kepastian. 2 tahun. 2 tahun aku menanti. Tapi yang aku dapatkan hanya sakit hati. Apa kamu bahagia dengan wanita itu, ya? Pikir ku. Tentu saja, buktinya kau bisa melupakan ku begitu mudahnya. Kenangan kenangan manis yang kau beri rasanya menghantui hari hari ku. Rasa gembira sekaligus sedih selalu tercipta untuk kenangan kita. Aku terdiam. Hanya ada seruan ombak yang menghempas batu karang. Seolah sumber suara satu satunya di tempat ini. Tiba tiba, aku merasa ada seseorang yang menepuk punggungku. Aku lantas menoleh. Samar samar aku melihat pria itu. Pria yang hmm…, cukup tampan. Dengan rahang nya yang kokoh, alis yang tebal, bibir yang tipis, serta rambutnya yang lebat. Pria ini tidak terlihat mencurigakan. Bukan pula wajah para penjahat seperti yang ditayangkan di film film. Justru, pakaiannya sangat rapi hanya untuk ke sebuah pantai.
“Boleh aku duduk di sini?” Tanya pria itu dengan se ulas senyum yang terbentuk di bibirnya membuat pipi tirus nya terangkat.
“Silahkan,” jawab ku.
Pria itu lantas duduk di samping ku, ia melempar tas nya ke pangkuannya.
 “Sedang apa kau disini?” Tanya pria itu lagi
“Menunggu,” entah kenapa aku menjawab pertanyaan itu dengan jujur.
“Menunggu sesuatu yang tidak pasti?”
“Memang nya ada yang pasti dari sebuah penantian?”
“Ada”
“Apa?”
“Menunggu jingga saat mentari tenggelam.” Aku melengos mendengar jawabannya. Pria itu menoleh kearah ku. Ia lantas tertawa melihat tampang ku. Eh, apa? Dia tertawa?  Suaranya terdengar begitu renyah, damai. Ah, ada apa, ya, dengan pria ini, terasa berbeda dengan pria lainnya, pikir ku.
“Jangan hanya menunggu, berjuanglah untuk mendapatkannya,” lanjut pria itu.
“Tahu apa kau soal menunggu?”
“Jangan sinis gitu dong, kau pikir aku tak pernah menunggu?”
“Ya, mungkin saja.”
Pria itu tidak menggubris perkataan ku. Kami sama sama terdiam. Sibuk dengan pikiran masing masing. Sesekali aku mencuri pandangan untuk melihat pria itu. Ia nampak sedang menerawang. Matanya lurus melihat garis garis pantai. Tersirat kesedihan di matanya . Ada apa, ya, dengan laki laki ini. Lagi lagi aku menanyakan pertanyaan itu di dalam hati.
“Dulu, aku pernah mencintai seorang wanita, tapi dia begitu saja pergi saat kami sudah bertunangan,” pria itu mulai bercerita. Aku tidak tahu harus menanggapinya bagaimana, aku hanya mendengarkan ceritanya. Sepertinya, pria itu butuh pendengar yang baik.
“Aku tahu, perasaan cinta ini memang salah. Sudah seharusnya aku tidak memulai sejak awal,” aku bingung, setahu aku tidak ada cinta yang salah, atau waktu yang tidak tepat.
“Tidak ada yang salah ketika dua insan saling mencintai,” ujar ku.
Pria itu menoleh, lalu tersenyum,  setelah itu mengembalikan pandangannya lagi seperti semula, “Kami beda keyakinan. Kata seseorang; perbedaan dapat menyatukan cinta. Namun, perbedaan keyakinan adalah pembatas yang kokoh untuk sebuah cinta,” jawab pria itu
“Aku memang tidak pernah mencintai seseorang yang berbeda keyakinan, tapi, apa pun itu, aku tahu rasanya menjadi seseorang yang tertinggal.”
“Hidup memang selalu dihadapi dua pilihan. Seperti saat ini, di tinggalkan atau meninggalkan.”
“Yang orang orang tahu, hidup itu pilihan. Tapi mereka lupa, bahwa memilih itu sulit,” aku menatap pria itu untuk beberapa detik. Ia menoleh, aku tidak ingin menundukkan kepalaku, aku justru ingin menatap mata indah nya itu. Aku baru sadar, ia memiliki mata berwarna coklat tua yang sangat indah di tengah gemerlap cahaya bintang. Dan kami saling menatap, dalam. “Kenapa kau menceritakan ini kepada ku? Bukan kah kita baru saling mengenal?” tanyaku kepada laki laki itu. Bahkan, ini bukan sebuah perkenalan. Aku tidak mengetahui namanya, dan ia pun serupa dengan ku.
“Entahlah, hanya saja tadi aku melihat mu seorang diri, lantas aku ingin menghampiri mu, dan, satu yang pasti; kita sama sama merasa tertinggal oleh orang yang kita cintai. Bukan kah begitu?”
“Ya, memang seperti itu.”
Kami terdiam kembali, sibuk dengan pikiran masing masing. Terdengar kembali hempasan ombak memecah karang serta be batuan. Langit semakin gelap, udara disini semakin dingin, sudah jam berapa ini? Aku melihat jam tangan ku. Waktu menunjukkan pukul 9 malam. Itu berarti kami sudah duduk bersama selama 2 jam. Aku berniat untuk pulang duluan. Belum sempat aku mengatakannya, pria itu sudah tidak ada disamping ku. Kemana dia? Aku memandang sekitar tidak, ada siapapun selain para pasangan yang bermesraan. Ah, sudahlah, mungkin ia pergi saat aku melamun tadi. Aku lantas berdiri, membersihkan pakaian yang terkena butiran pasir, lalu pulang ke rumah.
*****
Keesokan harinya aku kembali ke pantai, untuk mengiringi kepergian mentari. Aku selalu suka saat senja. Karena senja menyimpan semuanya. Walaupun, kepergian nya membuat ku mati. Guratan - guratan jingga seolah lukisan yang paling sempurna yang terukir di langit biru. Ditambah lagi, hamparan pasir putih, menambah keindahan. Sungguh sempurna ciptaan Tuhan ini.
Aku berjalan di pinggir pantai. Memang, setiap sore aku ke sini. Aku selalu ingin mengiringi kepergian mentari, meskipun beberapa kali aku terlambat. Tapi kali ini aku tidak akan terlambat. Aku pergi lebih awal. Mataku memandang sekitar, mencari cari seseorang, mungkin aku bisa menemukan pria itu. Dan, ya, aku mendapati pria itu. Pria yang tidak ku ketahui namanya. Ia sedang sibuk  dengan kamera nya. Membidik sesuatu yang tidak ku ketahui apa itu. Aku menghampiri pria itu, dan menepuk punggungnya pelan.
“Hei!” Sapa ku.
“Eh, kamu, maaf  ya kemarin aku pulang duluan, aku lihat kamu melamun, padahal aku sudah menepuk punggungmu. Tapi kamu tidak merespondnya, jadi aku terpaksa pergi tanpa pamitan deh,” ia menunjukkan gigi putihnya itu. Ah, aku iri melihat giginya yang berjajar rapi, sedangkan aku? Ada beberapa yang mencuat keluar, gingsul.
“Ah, enggak apa kok,” masa sih, aku sampai enggak sadar di tepuk punggungnya, batinku. Ah, tapi, ya sudahlah. “Kamu sedang apa?” tanyaku kepada pria itu
“Membidik, kau mau tidak jadi objek ku kali ini?”
“Ah, aku? Hmm…, bagaimana, ya?” Aku tidak yakin untuk dijadikan objek di foto itu. Pasalnya, aku jarang sekali berpose, berfoto pun jarang sekali.
“Hei!” panggilnya, membuatku tersentak. Dan, cekrek, dia berhasil membidik ku. Apa? Membidik ku? Aku tidak bisa membayangkan bagaimana aku di kamera tersebut.
“Cantik,” gumam pria itu. “Mau lihat? Ini,” dia memberikan kamera nya kepada ku. Aku mengambil kamera tersebut, “Tidak buruk,” ucap ku.
“Memang nya siapa yang bilang buruk? Kan sudah ku bilang barusan, cantik,” ia mengerjap kan sebelah matanya. Aku tidak bisa menahan senyum yang merekah di bibir ku. Ah, lucu sekali pria ini.
Kami menelusuri pinggir pantai. Berjalan diatas hamparan pasir. Lalu duduk di atas karang. Mengiringi perginya mentari. Pria ini terlihat lebih tampan saat terpancar semburat jingga. Ah, memang nya kapan dia tidak terlihat tampan? Rasanya, di setiap waktu dia selalu terlihat tampan. Kenapa aku memikirkan dia terus, ya? Tanya ku kepada diri sendiri. Laki laki yang baru saja ku temui kemarin, rasanya seperti sudah sangat lama kenal dengannya.
Ia sibuk dengan kamera nya, mencoba memotret setiap objek yang ada. Ingin rasanya aku mengabadikan ia saat serius seperti ini. Garis garis dahi yang berkerut atau menyatu alis tebalnya.
“Apa yang kamu suka saat memotret?” Tanya ku padanya.
Ia menaruh kamera itu di sampingnya, lalu mengendurkan pandangannya, “Memotret sama dengan mengabadikan. Si fotografer tidak ingin kehilangan momen tersebut, ingin semuanya tetap disana, abadi. Karena waktu terus berjalan, maka salah satu cara untuk mengabadikan momen tersebut adalah memotret nya. Berharap suatu hari ia dapat melihat momen itu lagi, dan merasakan bahagianya.”
Aku mengangguk angguk, “Aku juga suka mengabadikan suatu momen. Tapi, bukan memotret seperti mu. Melainkan dengan menulisnya.” Ya, aku suka menulis. Menulis itu seperti teriak tanpa suara. Saat lisan ku terkunci, maka pena lah yang bebas beradu diatas kertas.
Kali ini, kami menghabiskan senja bersama, berbincang mengenai apa saja. Tapi, tetap, pertemuan ini tanpa nama. Apalah arti sebuah nama, jika kami sudah mengenal satu sama lain. Aku cukup memanggilnya dengan sebutan ‘pria itu’ dan sebaliknya, dia bisa cukup memanggil ku dengan sebutan ‘wanita itu’.
                                                                                      ******
Detik demi detik, menit demi menit, jam demi jam, hari demi hari, waktu terus berjalan. Pria itu selalu ada di pantai saat senja. Banyak cerita yang kita lewati. Banyak canda tawa yang menyertai. Meski tetap tidak ku ketahui seluk beluk pria itu. Percakapan ini cukup menemani kesepian hari ku. Ia cukup menggantikan posisi seseorang  yang aku cintai, dulu. Sampai pada akhirnya, aku tidak menemukan dia lagi. Di setiap senja ku kini tak ada lagi pria itu. Pernah, waktu itu, aku diantar dia pulang ke rumah sebab hujan turun kian deras. Semuanya seolah tinggal cerita. Perkenalan perkenalan yang pernah terjadi seolah tandas begitu saja. Cerita cerita yang pernah kita lewati seolah berlalu begitu saja. Kini, aku kembali menjadi seseorang yang tertinggal. Yang masih setia menjaga fragmen kenangan. Padahal, ia sudah mati seiring bergulir nya waktu. Sudahlah, apa yang harus aku tangisi? Toh, aku sudah sering ter sakiti. Sering mencoba bangkit. Seperti seekor kura kura yang mencoba bangun sedangkan tempurungnya ter tancap di tanah.
Hari ini adalah tepat 2 bulan pria itu menghilang. Aku berjalan keluar rumah, mengecek kotak surat. Barangkali, ada satu kertas untuk ku. Dan, ternyata benar, ada satu kotak berwarna coklat. Aku mengambilnya lalu membawa masuk kedalam rumah. Aku membuka kotak tersebut. Lalu mendapati 3 amplop di dalamnya. Aku buka satu persatu amplop tersebut. Ternyata, isi amplop pertama adalah sebuah surat. Aku pun membacanya.
Dear, Odilia
Surat ini di tulis oleh Jericho Wiguna. Aku adalah pria yang waktu itu bertemu di pantai. Ya, aku adalah pria yang waktu itu menemanimu, bercerita, bahkan sempat mengantar mu pulang kerumah saat hujan melanda. Maaf kan aku karena meninggalkan mu begitu saja. Mungkin, kamu bertanya tanya kenapa aku mengetahui namamu. Aku adalah pesuruh Angga, mantan kekasih mu. Sebenarnya, dia sakit parah, dan saat ini, dia sudah telah tiada. Ia dikebumikan di tempat kelahirannya. Mungkin kamu kaget dengan hadirnya surat ini. Waktu itu, aku diberi pekerjaan olehnya untuk mencari tau kabar mu. Aku lantas menerimanya karena aku butuh uang sebab ibu ku jatuh sakit. Dia meminta ku untuk tidak jatuh cinta pada mu nantinya. Tapi, nyatanya, aku jatuh cinta padamu. Bahkan, saat pertama kali kita berjumpa. Ada banyak hal yang tidak bisa di cerna oleh teori, Odilia. Hal itu cukup kita mengerti oleh hati dan naluri. Dan perempuan yang waktu itu menjadi kekasih Angga hanyalah rekayasa Angga saja. Ia tidak benar benar berkomitmen dengan perempuan itu. Oh, ya, minggu depan, aku akan menikah. Aku dijodohkan oleh ibu ku dengan perawat yang menjaganya ketika ia sakit. Aku lantas menerima begitu saja. Mungkin kau menganggap ku bodoh, atau pengecut. Tapi, jika saja waktu itu aku tidak berjanji kepada Angga untuk tidak jatuh cinta padamu, tentu saja, aku memilih kamu untuk menjadi pendamping ku. Selain itu, ini adalah permintaan ibu ku. Permintaan dari wanita yang sangat aku hormati, dan aku segan untuk menolaknya. Aku takut hatinya terluka. Oleh karena itu, maafkan aku, Odilia. Semoga kamu dapat menemukan pengganti ku, atau pun Angga. Terimakasih untuk waktu yang kau berikan. Aku mencintaimu.
                                                                                                                                                                                                   Salam rindu,
                                                                                                                                                                                          Jericho.
Lalu aku membuka amplop kedua. Di amplop tersebut berisi undangan pernikahan Jericho. Dan amplop ke tiga, terdapat lembaran foto aku, dia, kami, dan senja. Jujur saja, aku kaget dengan semua ini. Namun, kini semuanya sudah jelas. Dua laki laki yang mencintai ku, kepergian Angga, kekasih barunya itu, semuanya telah jelas. Dan, aku percaya, aku atau pun mereka akan bahagia dengan caranya masing masing.
                                                                                     *****
Aku tetap melakukan rutinitas ku di setiap sore; pergi ke pantai mengiringi perginya mentari. Walaupun saat ini aku sendiri. Tapi aku tidak merasa sepi. Justru aku hidup, seperti jingga di senja kali ini. Aku tidak pernah menyesali pertemuan ini, justru aku menikmatinya. Bukan hidup memang seharusnya seperti itu? Menikmati semuanya walaupun tidak ada yang bisa dinikmati. Dan, sekarang, senja menjadi saksi bisu pertemuan kami, cerita cerita kami, canda tawa kami, bahkan, tangis sendu kami. Senja, marilah merona, se merona jingga. Dan, aku percaya, aku akan tetap baik baik saja meski senja telah pergi, dan kelam menghampiri.

3/08/2013

Perkenalan tanpa nama

Semua tentang mu sudah aku simpan rapat rapat
Lalu aku kunci, dan aku buang jauh jauh
Kau tahu, aku sudah tak mencintaimu lagi
Atau mungkin masih, hanya saja sekarang terbagi untuk orang lain
Maka, biarkan aku merelakan mu dengan perempuan itu
Kau tahu, siapa pengganti dirimu saat ini?
Dia adalah seseorang yang sederhana,
Namun dia telah berhasil merebut hatiku,
Sama seperti dirimu. Dulu
Dia adalah seseorang yang tidak ku ketahui namanya
Perkenalan tanpa nama
Yang entah darimana aku bisa akrab dengannya
Tapi, apalah arti sebuah nama jika kamu lebih mengetahui seluk beluknya?
Mungkin, kau anggap ini gila
Atau tidak masuk di akal
Tapi, hal itu yang membuat aku mempertahankan semua ini
Cerita cerita yang ia kisah kan mampu membuatku merasa nyaman
Seperti ikut ke dalam drama tersebut
Namun, ada juga yang harus kau tahu; ia sudah mempunyai kekasih
Aku tidak bermaksud menjadi orang ketiga
Ya, sebenarnya ini memang sangat gila
Dan juga tidak bisa dicerna
Namun hati ku yang merasakannya
Lalu, aku bisa berbuat apa?
Mengapa semuanya menjadi se rumit ini?
Padahal, ini adalah sebuah perbincangan tanpa di sengaja
Namun, efeknya sangat luar biasa
Dia bahkan pergi sebelum aku mengatakannya
Bahwa aku mencintainya
Lantas, apa lagi yang bisa ku pertahankan?
Masa lalu yang sudah se bisa mungkin aku lupakan,
Atau kisah ku dengan pemuda itu
Entahlah, mungkin Tuhan mempunyai rencana lain.


Di sepertiga malam

Di sepertiga malam, rindu belum jua menyerah
Tidak ingin mengalah,
Justru ia terus beringar bingar
Menggerogoti seonggok daging

Cahaya cahaya lampu silau
Seolah ingin menggantikan sinar mentari
Namun, tetap saja, semuanya terasa gelap, mati

Harapan harapan yang tadinya ku percaya dapat terwujud
Namun sekarang ia hanya bergantungan pada sepenggal kenangan tanpa tepi
Hanya bergantungan, tidak ada yang menghiraukan

Di sepertiga malam, aku teringat lukisan
Lukisan yang dulu pernah kau berikan
Sebagai kado ulang tahun ku
Tapi, seperti yang ku katakan sebelumnya; hanya lukisan. Benda mati.
Tidak ada yang hidup disana, kecuali kepingan masa lalu
Yang masih tersangkut pada waktu lampau

Di sepertiga malam, aku bermimpi
Bermimpi untuk bertemu denganmu lagi
Tapi, itu hanya sebatas mimpi,
Tak pernah terjadi

Di sepertiga malam, aku bercerita
Tentang manisnya kisah
saat saling mencintai

Di sepertiga malam, aku termenung
Mengingat nasib seorang diri
Dan, aku baru sadar,
Hidup ku sepi, tanpa kehadiranmu lagi.




3/03/2013

Ketika Senja -Puisi-

Kepada senja aku bercerita,
Tentang manisnya kenangan saat berjumpa
Memberi warna seindah jingga
Adakah senja yang lebih indah daripada ini?

Kepada senja aku terus bertanya

Seberapa banyak waktu yang pernah kita lewati?
Seberapa banyak tawa yang mengiringi perginya mentari?
Atau, seberapa banyak kebahagiaan tenggelam bersama cakrawala?

Dan senja pun diam tanpa kata

Jingga pun pergi menenggelamkan asa
Menghadirkan malam yang kelam
Membuat ku semakin geram

Kini yang tersisa hanyalah kenangan
Kenangan yang utuh
Kenangan yang tak pernah padam
Kenangan yang takkan lekang meski waktu terus berjalan

Langit pun berubah menjadi hitam
Entah bumi yang gelap
Atau aku yang mati
Seolah tak ada sinar pengganti






2/26/2013

Cerpen - Hujan Waktu Itu


Pesanan Clara sudah datang. Kali ini ia ditemani Aida, temannya untuk makan malam. Restaurant yang ia pilih tidak ramai, tidak juga sepi.
“Bagaimana hubungan kau dengan Joshua?” Aida melirik Clara.
“Baik. Kau sendiri bagaimana dengan mantan mu itu? Sudah dapat pengganti?” 
Aida mengangkat bahu, “Entahlah, aku belum bisa melupakannya. Pertanyaan ku masih sama bagaimana kamu mempertahankan hubungan kalian, sedangkan Joshua tidak di samping mu lagi?”
Clara meletakkan garpunya, ia berhenti makan sejenak, “Banyak hal yang membuat aku masih bisa bertahan, sama halnya dengan kamu. Kamu masih tetap mencintai mantan mu itu, padahal kalian sudah tak lagi berhubungan,” lalu ia menyantap makanannya lagi.
“Kamu enggak takut dia suka cewek lain? Disana kan banyak bule cantik.”
“Yang cantik memang banyak. Tapi soal hati siapa yang tahu?” Aida mengangkat bahunya acuh. Aida masih bingung kenapa Clara masih mempertahankan hubungannya itu. Clara cantik, pintar, mempunyai pekerjaan tetap, hal itu tidak membuat kecil kemungkinan para cowok jatuh hati dengan Clara. Dan Joshua, kekasih Clara, sedang melanjutkan studinya di Jerman selama 3 tahun. Dan saat ini adalah tahun terakhir Joshua disana. Dan, sampai saat ini Clara hanya memandang ke satu arah saja, Joshua.
“Pulang yuk!” Ajak Clara
“Ayo”
                                                                          *****
Langit sepertinya tidak terlalu cerah. Mungkin sebentar lagi hujan. Clara masih sibuk dengan layar monitor nya. Di sela sela kesibukan, tiba tiba ponsel nya berdering. Diraihnya ponsel itu, lalu ia menatap layarnya. “Ah, sudah ku duga” batinnya. Kemudian ia menekan tombol hijau.
“Halo, Dear,” sapa seorang pria di seberang sana.
“Halo, Hun. Bagaimana kabar mu?”
“Baik. Apalagi mendengar suara kamu.”
“Gombal,” kemudian terukir senyum di bibir Clara
Joshua tertawa renyah, “Kamu lagi apa, Dear?”
“Apa lagi  kalau bukan mengerjakan tugas kuliah. Kamu sendiri lagi apa?”
“Semangat, Honey!. Aku lagi istirahat aja.”
“Thanks, Dear”
“No prob, hun”
Kemudian keduanya sama sama diam. Sibuk dengan pikirannya masing masing. Sebelum akhirnya Clara mengawali pembicaraan lagi.
“Josh…,” panggil Clara
“Iya?”
“Kamu sudah 3 tahun disana, kapan mau balik ke Indonesia?” Sepertinya Clara sudah tidak sabar lagi berjumpa dengan Joshua. Bagaimana tidak, mereka sudah tidak berjumpa selama 3 tahun. Memang, selama ini mereka sering Skype, video call atau pun menelepon seperti saat ini. Tapi ternyata rindu tak mau mengalah meski sudah mendengar suara parau nya di seberang sana.
“Aku belum tahu, sabar ya, Sayang.”
Clara tersenyum, “Aku akan menunggu kamu, kok.”
“Asal….,” Joshua menggantungkan perkataannya.
“Asal kamu enggak bawa bule cantik ke sini,” kemudian mereka tertawa bersama.
Mungkin rindu tak bisa diobati hanya dengan mendengar suaranya. Tapi, percayalah, ini jauh membuatku lebih baik dari sebelumnya.
“Josh.., disini langitnya mendung.”
“Ya, jelas lah kan di sana musim penghujan. Lagi pula apa bagusnya sih langit mendung gitu, bukannya nampak sedih, ya? Atau hujan yang meninggalkan genangan coklat di ruas ruas jalan. Menambah kemacetan saja.”
“Yeee jangan sinis gitu dong. Hujan itu anugerah tahu,” Joshua memang tidak suka langit mendung, apa lagi hujan. Menurutnya, orang orang yang suka dengan hujan itu terlalu dramatis. Dan tentunya setelah adanya kejadian itu.
“Siapa juga yang sinis. Clara, kamu tahu enggak kenapa langit mendung tapi tak kunjung hujan?”
 “Kenapa?”
“Karena uap rindu menyublim bersama udara. Terbiar terlalu lama.”
Clara tercengang mendengarnya. Selama ini ia tidak pernah mendengar Joshua berkata seperti itu. Justru Joshua adalah tipe cowok yang serius dalam suatu hal, “Ko kamu jadi puitis gitu?” Tanya Clara.
“Memangnya kenapa? I miss you so much, Dear,” kali ini perkataan Joshua terdengar serius.
“Tidak. Aku hanya kaget mendengarnya. I miss you too. Aku yakin kita bisa melewatinya. Terkadang, saat kita sudah ingin sampai ke suatu tujuan justru kita lengah begitu saja.  Aku percaya, kalau kita tidak akan seperti itu.”
“I hope so. Kalau aku sudah ada rencana balik ke Indonesia, aku akan segera menghubungi mu.”
“Iya, Sayang.”
“Aku beruntung memiliki mu.”
“Dan aku juga tak kalah beruntung.” Lalu mereka tersadar, keduanya sama sama tersenyum. Entah itu merasa bahagia, atau pun haru. Yang jelas, Tuhan telah menciptakan kedua insan ini di dunia dan  mempertemukan mereka. Saling berbagi, dan saling menyayangi.
                                                                 ******
Jika jarak sejauh bumi dengan langit,
Maka biarkanlah hujan yang meringkasnya
Rintik hujan jatuh di daunan menciptakan nada nada
Yang membuat kamu menari dalam pikiran
Jika hujan ini bernama rindu
Maka setiap tetes nya adalah aku yang diam diam ingin memeluk mu
Kau tahu kenapa hujan turun beramai ramai?
Karena setetes saja tak cukup
Begitu pula cintaku padamu.
Aku harap, aku bisa menjadi rintik hujan
Dengan begitu kau akan melihat ku
Meskipun hanya dibalik tirai jendela kamarmu.

Jakarta, 19 Januari 2010.
Hari ini adalah hari jadi Clara dan Joshua yang ke-5 tahun. Anehnya, hari ini Joshua sulit dihubungi. Terakhir Clara menerima kabar dari Joshua adalah tadi pagi, sekaligus ucapan selamat hari jadinya. “Apa mungkin dia ingin membuat kejutan, ya?” batin Clara. Jingga tidak ada kali ini. Ia tergantikan oleh awan hitam. Beserta rintik hujan yang tentram. Ah, baru kali ini Clara merasa tidak tertarik dengan langit kelabu. Biasanya ia selalu menanti hujan dan aroma tanah yang begitu khas. Dilirik jam di lengannya, “pukul 6,” gumamnya. Biasanya mereka masih larut dalam perbincangan. Tapi, kali ini, entah kenapa, Joshua tidak menghubungi nya, dan hal itu membuat Clara khawatir. Lalu ia mencoba menghubungi Joshua kembali. Tapi, lagi lagi nomor nya tidak aktif. Clara bangkit dari tempat tidurnya, lalu ia melihat keluar jendela. Hujan diluar sangat deras, dan membuat Clara teringat saat Joshua meminta Clara untuk menjadi kekasihnya.
Waktu itu, bel pulang sudah lama berdering, tinggal beberapa anak saja yang masih berada di area sekolah. Clara sendiri baru saja usai mengikuti ekstrakulikuler, ia ingin pulang, namun ia harus mengurung kan niatnya karena hujan belum juga reda. Clara memutuskan untuk duduk di bangku taman belakang sekolah. Tiba tiba terdengar seorang laki laki memanggilnya, Clara lantas menengok. Ternyata ia adalah Joshua.
“Boleh aku duduk disini?” Tanya Joshua
“Silahkan saja,” Clara masih sibuk memperhatikan hujan.
“Kamu suka hujan?”
“Iya.”
“Kenapa?”
“Karena hujan memiliki sisi ketenangan sendiri bagiku. Aku suka aroma tanah setelah hujan, atau kehadiran pelangi setelahnya.”
 “Dulu, aku suka hujan, alasannya sama seperti mu. Tapi, itu terjadi sebelum ibuku meninggal.”
Clara tertarik dengan cerita Joshua, ia tidak lagi menggubris hujan. Sebelumnya Clara sempat mendengar kabar bahwa Joshua seorang piatu. Tapi, ia tidak pernah benar benar menanyakan hal itu kepada Joshua. Ia tidak enak hati.
“Memangnya apa yang terjadi waktu itu?”
“Waktu itu, hujan deras sekali, bahkan aku tidak bisa melihat jalanan. Sebelumnya aku meminta kepada ibuku untuk tidak melanjutkan perjalanan lagi, tapi ia meminta aku untuk melanjutkan perjalanan, sampai pada akhirnya ada bus yang sedang melaju kencang dari arah berlawanan. Lalu bus itu menabrak mobil kami. Dan selebihnya aku enggak ingat lagi. Setelah sadar ternyata aku sudah ada di rumah sakit, dan ayah bilang ibu sudah tidak ada.”
Terlihat jelas kesedihan di wajah Joshua. Clara merasa tidak enak hati dengan Joshua. Lalu ia berbalik badan, dan menepuk pelan punggung Joshua. Sambil berkata, “itu semua takdir, jalan Tuhan, yang sabar, ya.” Joshua hanya membalas perkataan Clara dengan senyuman.
Lalu kemudian hening, mereka sibuk dengan pikirannya masing masing. Entah itu Clara yang masih tertarik dengan hujan. Atau Joshua yang sedang membayangkan insiden kecelakaan waktu itu. Entahlah.
“Clara..,” panggil Joshua.
“Iya?”
“Kamu…., Joshua menggantungkan perkataannya, “mau enggak jadi pacar ku?”
Clara tercengang mendengarnya, ia kaget sekaligus senang. Sebenarnya, Clara suka pada Joshua. Sejak kelas 10 ia sudah satu kelas sampai sekarang. Mereka mengenal satu sama lain, dan juga bisa dibilang dekat. Clara sendiri sudah jatuh hati kepada Joshua saat pertama kali MOS. Dan, mulai saat itu Joshua lah yang menghiasi tidur malamnya.
“Kamu serius?” Clara masih tidak percaya.
“Emangnya aku terlihat main main?”
“Hmm.., tidak,” Clara jadi salah tingkah. 
Dan kemudian ia mengangguk, pertanda bersedia menjadi kekasih Joshua, "Aku mau jadi pacar kamu, Josh."
"Kamu serius?"
"Menurut kamu?"
"Iya."
"Ya, memang iya. Kamu mau membelah hujan enggak? Kita main hujan-hujanan."
"Boleh." 
Setelah itu mereka berdua pergi, menelusuri jalan, membelah hujan. Dan menurut Clara ini adalah hujan terindah dalam hidupnya.
Tiba tiba terdengar suara bel berbunyi, menyadarkan Clara dari lamunan nya. “Ah, siapa sih yang datang malam malam begini,” batinnya. Bel terus berbunyi, sepertinya seorang diluar pintu itu sudah tidak sabar. Clara menuruni anak tangga lalu segera membukakan pintu untuk tamu tersebut. Alih alih menjawab, Clara seperti terbius begitu saja, kakinya seperti lumpuh seketika. Ia tidak kuasa menahan air matanya yang tercampur dengan gejolak emosi yang ia tahan selama ini. Ya, itu adalah Joshua, Joshua kekasihnya. Clara hanya bergeming di ambang pintu, dan tidak mengatakan apa apa.
“Hai, Honey, kamu enggak mau suruh aku masuk dulu? Aku sudah kehujanan nih.”
Clara bergeming, ia tak kuasa, tangannya masih menutup mulutnya. Air mata pun masih mengalir membentuk anak sungai di pipinya.
“Kalau kamu mau nangis, nangis aja, sudah ada aku disini, aku kembali, Clara.” Bukan Clara yang mempersilahkan Joshua masuk ke rumahnya, justru Joshua yang membawa masuk Clara kedalam. Disini, Clara hanya tinggal sendiri, orangtuanya ada di Jogjakarta, ia memilih melanjutkan studinya di Jakarta.
Joshua membiarkan Clara, lalu ia menyodorkan segelas air putih untuk Clara, “Ini, minum dulu.” Lalu Clara meminum segelas air putih itu, setelah ia mampu mengendalikan emosi nya Clara berjanji untuk memberikan sejuta pertanyaan kepada Joshua.
“Kamu kok bisa ada disini? Kenapa enggak bilang aku kalau mau balik ke Indonesia? Kan aku bisa jemput kamu, Joshua. Kenapa handphone kamu enggak..., belum selesai Clara berbicara tapi Joshua sudah meletakkan jarinya ke bibir Clara, “Jangan berisik ah, mending kasih aku handuk dulu, kamu enggak mau aku sakit kan?” Joshua mengerjap kan sebelah matanya.
“Ih, kamu ini ya. Sebentar, aku ambil handuk aku dulu.” Kemudian Clara mengambil handuk di kamarnya lalu segera memberikan kepada kekasihnya itu. Lalu ia kembali duduk disamping Joshua.
“Aku sengaja enggak bilang kamu soalnya aku mau ngasih kejutan. Lagi pula aku sehat sehat aja kok, enggak perlu khawatir, dan yang lebih penting happy anniversary 5 year, Dear.” Joshua mencium kening Clara lalu Clara membalasnya dengan melingkari tangannya di pinggang Joshua. Clara menatap Joshua dalam dalam, “Kamu enggak akan ninggalin aku lagi kan?” Tanya Clara. “Enggak akan, kita akan seperti dahulu lagi, Clara.” Lalu keduanya sama sama tersenyum. Clara sangat bahagia, pastinya. Hari ini ia kembali bertemu dengan kekasihnya. Awal kepergian Joshua ia tidak percaya bahwa ia akan mampu melewati semuanya. Tapi, waktu pun menjawab, mereka mampu, mereka mampu bertahan, ia mampu melewatinya. Tiba tiba Clara teringat sesuatu, lalu ia mengambil gelas kusam yang ditutupi plastik di atasnya. Setelah itu ia berikan gelas kusam itu kepada Joshua.
"Ini untukmu, Josh." Clara menyodorkan gelas itu kepada Joshua.
"Apa ini?," Joshua membuka tutup gelas tersebut
"Itu air hujan untukmu."
"Untukku?" Joshua nampak bingung.
"Iya, untukmu. Apa yang kamu rasakan saat menyentuh air itu?"
Joshua menyentuh air hujan tersebut, "Dingin," jawabnya.
"Ya, sedingin itulah rinduku padamu." Clara dan Joshua sama sama tersenyum.
“Clara, kamu mau enggak keluar rumah, lalu mencari makan, atau apapun. Kita melakukan kembali hal yang pernah kita lakukan saat pertama kali kita berkomitmen.”
“Membelah hujan?”
“Iya, yuk!”
“Ayo!” jawab Clara antusias.
Mereka pun keluar rumah, dan hujan pun masih turun menemani mereka. Mereka tidak menggubris nya. Yang terpenting adalah; mereka bisa kembali bersama, membuktikan kepada semua orang bahwa mereka mampu melewatinya. Rindu yang selalu membuat sesak dadanya selama ini, kini hilang begitu saja dalam luapan bahagia. Semuanya akan baik-baik saja, begitu katanya.