Pernah, di suatu malam aku bercerita. Bukan pada seseorang, teman, atau pun dunia.Tapi, aku hanya bercerita seorang diri. Dibawah rintik hujan yang syahdu. Ku luap kan segala rindu. Aku tersedu. Menahan haru. Bukan karena perlakuan mu. Terlebih karena cerita dahulu. Aku menyeka air mata ku. Sendiri. Kenangan kenangan yang masih basah di ingatan, seperti tanah sehabis hujan. Kau tau? Aku merindukan mu. Aku merindukan mu layaknya tumbuhan menanti hujan. Aku lebih dari kering. Aku tandus, aku gersang, aku kehausan. Aku butuh se tetes air hujan untuk menyejukkan dahaga. Dan kali ini hujan datang. Tapi, kau tidak. Aku teringat kala itu kau gandeng sebelah tangan ku. Menerobos hujan. Kemudian aku kedinginan. Maka kau memberi ku sebuah jaket untuk ku kenakan. Kini, aku pun kedinginan, tapi bukan karena angin kencang diluar. Melainkan karena kenangan. Air mata ku berlinang. Mengingat kau telah menghilang. Oh, sayang, cepat lah pulang. Aku lelah dengan penantian. Semoga kau juga merindukan.
No comments:
Post a Comment