Gadis Batu penunggu sungai. Menunggu datangnya hujan yang
akan membasahi rindu, menyuburkan kenangan. Gadis Batu adalah seorang gadis
penunggu. Menunggu kehadiran. Menunggu kepulangan. Gadis Batu yang mencintai Pria Pasir di seberang sungai. Cinta yang harus tandas oleh perbedaan, membuat
mereka ter sadar; bahwa perbedaan tak selamanya membuat mereka bersatu, seperti
yang dikatakan banyak orang. Gadis Batu yang ingin menemui Pria Pasir. Pria
Pasir yang ingin menghampiri Gadis Batu. Tapi sayangnya, ia harus melewati
aliran air yang deras. Cinta merek menyimpan luka dan juga pengorbanan. Namun,
sekuat apapun mereka berkorban, mungkin, hanya kematian yang akan menyatukan
mereka di kehidupan lainnya. Bukan mereka ingin menyerah. Bahkan mereka sudah
berusaha. Berusaha menyatukan perbedaan perbedaan yang ada. Tetaplah, minyak
dan air tak akan menyatu. Hidup pada tradisi lama, tak kalah sulit dengan
meninggalkan budaya modern. Gadis Batu selalu di batasi dengan norma norma yang
ada. Sedang Pria Pasir tak mampu meninggalkan kebebasannya. Sampai pada suatu
hari Gadis Batu dijodohkan dengan saudagar kaya yang bernama Batang Kayu. Gadis
Batu tidak mencintai Batang kayu, sedikitpun. Meskipun kekayaannya melimpah,
tapi menurutnya tak menjamin ke bahagiannya. Untuk apa menikahi orang yang tak
kau cintai? Yang hanya dapat menyakiti orang yang kau nikahi, bukan itu saja,
tapi juga menyakiti dirimu sendiri. Karena kau telah melakukan kesalahan yang
besar, sekaligus ber sandiwara. Sampai pada akhirnya di hari pernikahan Gadis
Batu ia memutuskan untuk melarikan diri. Ia pergi ke tepi sungai, menyeberangi
jembatan yang lusuh itu. Ia tak peduli sebesar apa resiko nya. Mendengar Gadis
Batu ingin menikah, Pria Pasir tak tinggal diam. Ia ingin bertemu dengan Gadis
Batu. Pada saat yang bersamaan, mereka mencoba melewati pembatas itu. Baru pada
tapak kan yang pertama, Gadis Batu tergelincir. Ia jatuh, lalu pecah berkeping keping.
Ia tidak hanya terluka, tapi juga kehilangan nyawa. Sedangkan pria pasir
menyeberangi sungai. Ia melawan arus yang deras. Tiba tiba ia tidak bisa
bergerak. Ia ter hempas kesana kemari. Ia kehabisan nafas, dan akhirnya ia pun
tenggelam ke dasar sungai dan terbentur dengan puing puing Gadis Batu. Inilah
takdir. Inilah kasih. Inilah kisah perjalanan yang tak mampu menyatukan mereka
di sisa hidupnya. Tapi, mereka tidur untuk selamanya di tempat yang sama; di
dasar sungai dibawah jembatan. Bagi mereka, ini adalah akhir yang
membahagiakan. Daripada harus hidup tapi tak bersama. Inilah titik akhir
perjuangan, tentang cinta dan perbedaan. Serta maut yang menyatukan.
No comments:
Post a Comment