Pages

4/14/2013

Cinta dan perbedaan -FF


Gadis Batu penunggu sungai. Menunggu datangnya hujan yang akan membasahi rindu, menyuburkan kenangan. Gadis Batu adalah seorang gadis penunggu. Menunggu kehadiran. Menunggu kepulangan. Gadis Batu yang mencintai Pria Pasir di seberang sungai. Cinta yang harus tandas oleh perbedaan, membuat mereka ter sadar; bahwa perbedaan tak selamanya membuat mereka bersatu, seperti yang dikatakan banyak orang. Gadis Batu yang ingin menemui Pria Pasir. Pria Pasir yang ingin menghampiri Gadis Batu. Tapi sayangnya, ia harus melewati aliran air yang deras. Cinta merek menyimpan luka dan juga pengorbanan. Namun, sekuat apapun mereka berkorban, mungkin, hanya kematian yang akan menyatukan mereka di kehidupan lainnya. Bukan mereka ingin menyerah. Bahkan mereka sudah berusaha. Berusaha menyatukan perbedaan perbedaan yang ada. Tetaplah, minyak dan air tak akan menyatu. Hidup pada tradisi lama, tak kalah sulit dengan meninggalkan budaya modern. Gadis Batu selalu di batasi dengan norma norma yang ada. Sedang Pria Pasir tak mampu meninggalkan kebebasannya. Sampai pada suatu hari Gadis Batu dijodohkan dengan saudagar kaya yang bernama Batang Kayu. Gadis Batu tidak mencintai Batang kayu, sedikitpun. Meskipun kekayaannya melimpah, tapi menurutnya tak menjamin ke bahagiannya. Untuk apa menikahi orang yang tak kau cintai? Yang hanya dapat menyakiti orang yang kau nikahi, bukan itu saja, tapi juga menyakiti dirimu sendiri. Karena kau telah melakukan kesalahan yang besar, sekaligus ber sandiwara. Sampai pada akhirnya di hari pernikahan Gadis Batu ia memutuskan untuk melarikan diri. Ia pergi ke tepi sungai, menyeberangi jembatan yang lusuh itu. Ia tak peduli sebesar apa resiko nya. Mendengar Gadis Batu ingin menikah, Pria Pasir tak tinggal diam. Ia ingin bertemu dengan Gadis Batu. Pada saat yang bersamaan, mereka mencoba melewati pembatas itu. Baru pada tapak kan yang pertama, Gadis Batu tergelincir. Ia jatuh, lalu pecah berkeping keping. Ia tidak hanya terluka, tapi juga kehilangan nyawa. Sedangkan pria pasir menyeberangi sungai. Ia melawan arus yang deras. Tiba tiba ia tidak bisa bergerak. Ia ter hempas kesana kemari. Ia kehabisan nafas, dan akhirnya ia pun tenggelam ke dasar sungai dan terbentur dengan puing puing Gadis Batu. Inilah takdir. Inilah kasih. Inilah kisah perjalanan yang tak mampu menyatukan mereka di sisa hidupnya. Tapi, mereka tidur untuk selamanya di tempat yang sama; di dasar sungai dibawah jembatan. Bagi mereka, ini adalah akhir yang membahagiakan. Daripada harus hidup tapi tak bersama. Inilah titik akhir perjuangan, tentang cinta dan perbedaan. Serta maut yang menyatukan. 

No comments:

Post a Comment