Pages

6/13/2013

[Flash Fiction] Secret Admirer

                Aku membuka buku album. Didalamnya, terdapat banyak potret an seorang yang ku cintai, Fajar. Di lembar pertama terdapat fotonya sedang bermain gitar disela sela jam pelajaran. Itu adalah foto pertama yang ku potret sendiri. Kemudian fotonya saat bermain bola, mencetak gol, memegang piala, dan masih banyak lagi. Aku tersenyum melihatnya. Sampai di lembar terakhir, aku menempelkan beberapa foto saat kami di Bali, waktu liburan kemarin. Dan Satu-satunya foto yang terdapat aku didalamnya.
Aku menutup album tersebut, lalu memasukkan nya kedalam kotak coklat. Menutupnya, lalu merapatkan nya dengan se-untas pita putih. Esok, aku akan mengatakannya; bahwa selama 3 tahun ini aku menjadi secret admirer-nya. Tepat di hari kelulusan ku.
                                                                   *****
                Semua teman ku telah memberikan tanda tangannya di kemeja ku. Semua. Kecuali Fajar. Dan.., ku dapati ia sedang duduk di ujung koridor dengan wajah lusuh. Maka aku mengumpulkan keberanianku untuk menghampirinya. Tak lupa kotak coklat yang kubawa di tanganku. Aku berjalan menuju ia, dan menyembunyikan kotak coklat itu di belakang punggung ku.
               
                “Hei, Fajar.” Sapa ku ramah. Aku menyunggingkan se ulas senyum.
                “Hei, Clara,” ia bangkit. Tubuhnya yang semampai membuat ku merasa kecil.
                Aku menahan napas. Mengumpulkan keberanian. “Aku mau kasih in…,” baru aku ingin memberikan kotak coklat itu, namun ku urungkan karena melihat sebaris tulisan di atas saku kemeja nya; Bintang cinta Fajar. Lalu sederet angka di bawahnya. Tulisan itu begitu mencolok dari tulisan lainnya. Aku bergeming. Seribu pertanyaan menyerbu pikiran ku.
                “Kamu mau kasih apa?” Tanyanya.
                Aku menggeleng, “Oh, tidak. Boleh aku meminta tanda tanganmu di..,” ku lihat kemeja ku telah penuh dengan coretan, tak ada lagi ruang kosong disana. Aku mengeluarkan sapu tangan di saku kemeja ku, “Di sapu tangan ku?”
                Ia mengangguk. Lalu ia menoreh kan tanda tangannya disana. Setelah selesai ia memberikan sapu tangan ku kembali.
                “Terimakasih,” kata ku.
                “Sama sama. Boleh kau memberikan tanda tanganmu di kemeja ku.” Ia berbarik arah. Lalu menepuk punggungnya.
                “Dengan senang hati.”
                Setelah selesai, aku menutup tutup spidol. “Fajar,” panggil ku, membuatnya kembali membalikkan badannya.
                “Iya?”
                “Kau…, kau pacaran dengan Bintang?” Tanya ku ragu ragu.
                “Iya. Baru seminggu yang lalu.”
                Aku berupaya bersikap se wajar mungkin, “Langgeng ya,” Aku menepuk lengannya.
                “Makasih,” jawabnya riang, “Itu kotak apa?” Ia menunjuk ke arah kotak coklat. Kotak yang seharusnya sudah ku berikan sedari tadi kepadanya.
                “Oh, bukan apa apa. Aku duluan ya,” pamit ku.
                Aku berbalik badan. Berjalan menjauhinya. Bintang dan Fajar, terdengar sangat cocok. Dan sepertinya, sampai kapan pun aku akan tetap menjadi secret admirer-muFajar. Ucap ku dalam hati.


No comments:

Post a Comment