Aku membuka buku album. Didalamnya,
terdapat banyak potret an seorang yang ku cintai, Fajar. Di lembar pertama
terdapat fotonya sedang bermain gitar disela sela jam pelajaran. Itu adalah
foto pertama yang ku potret sendiri. Kemudian fotonya saat bermain bola,
mencetak gol, memegang piala, dan masih banyak lagi. Aku tersenyum melihatnya.
Sampai di lembar terakhir, aku menempelkan beberapa foto saat kami di Bali,
waktu liburan kemarin. Dan Satu-satunya foto yang terdapat aku didalamnya.
Aku menutup album
tersebut, lalu memasukkan nya kedalam kotak coklat. Menutupnya, lalu
merapatkan nya dengan se-untas pita putih. Esok, aku akan mengatakannya; bahwa
selama 3 tahun ini aku menjadi secret admirer-nya. Tepat di hari
kelulusan ku.
*****
Semua
teman ku telah memberikan tanda tangannya di kemeja ku. Semua. Kecuali Fajar.
Dan.., ku dapati ia sedang duduk di ujung koridor dengan wajah lusuh. Maka aku
mengumpulkan keberanianku untuk menghampirinya. Tak lupa kotak coklat yang
kubawa di tanganku. Aku berjalan menuju ia, dan menyembunyikan kotak coklat itu
di belakang punggung ku.
“Hei,
Fajar.” Sapa ku ramah. Aku menyunggingkan se ulas senyum.
“Hei, Clara,” ia bangkit.
Tubuhnya yang semampai membuat ku merasa kecil.
Aku
menahan napas. Mengumpulkan keberanian. “Aku mau kasih in…,” baru aku ingin
memberikan kotak coklat itu, namun ku urungkan karena melihat sebaris tulisan
di atas saku kemeja nya; Bintang cinta Fajar. Lalu sederet angka di bawahnya.
Tulisan itu begitu mencolok dari tulisan lainnya. Aku bergeming. Seribu
pertanyaan menyerbu pikiran ku.
“Kamu
mau kasih apa?” Tanyanya.
Aku
menggeleng, “Oh, tidak. Boleh aku meminta tanda tanganmu di..,” ku lihat kemeja
ku telah penuh dengan coretan, tak ada lagi ruang kosong disana. Aku
mengeluarkan sapu tangan di saku kemeja ku, “Di sapu tangan ku?”
Ia
mengangguk. Lalu ia menoreh kan tanda tangannya disana. Setelah selesai ia
memberikan sapu tangan ku kembali.
“Terimakasih,”
kata ku.
“Sama
sama. Boleh kau memberikan tanda tanganmu di kemeja ku.” Ia berbarik arah. Lalu
menepuk punggungnya.
“Dengan
senang hati.”
Setelah
selesai, aku menutup tutup spidol. “Fajar,” panggil ku, membuatnya kembali
membalikkan badannya.
“Iya?”
“Kau…,
kau pacaran dengan Bintang?” Tanya ku ragu ragu.
“Iya.
Baru seminggu yang lalu.”
Aku
berupaya bersikap se wajar mungkin, “Langgeng ya,” Aku menepuk lengannya.
“Makasih,”
jawabnya riang, “Itu kotak apa?” Ia menunjuk ke arah kotak coklat. Kotak yang
seharusnya sudah ku berikan sedari tadi kepadanya.
“Oh,
bukan apa apa. Aku duluan ya,” pamit ku.
Aku
berbalik badan. Berjalan menjauhinya. Bintang dan Fajar, terdengar
sangat cocok. Dan sepertinya, sampai kapan pun aku akan tetap menjadi secret
admirer-mu, Fajar. Ucap ku dalam hati.
No comments:
Post a Comment