Kepergian.
Dear Ryan,
Tidakkah hari itu menjadi hari terakhir pertemuan kita untuk
berapa kurun waktu? Lalu, mengapa kau tidak membiarkan aku untuk mengantar mu ke Bandara pagi itu? Apa kau tidak ingin aku mengantar sebelum kepergian mu? Andai
saja aku ikut mengantar mu pagi itu, mungkin, aku tidak akan merasa kehilangan mu sebegitu besarnya. Karena aku masih bisa melihat sorot mata mu sekali lagi,
lalu merekamnya dalam dalam.
Tidakkah kau tau bahwa malam sebelum kepergian mu kita sama
sama tidak bisa tertidur? Terjaga oleh gelapnya malam. Atau, sibuk membayangkan
bagaimana kita nantinya. Bagaimana hubungan ini bisa bertahan. Bagaimana cara
kita menghadapi bayang bayang kenangan yang selalu mengganggu pejam tidur ku. Bagaimana
nantinya rindu yang akan mengusik hari ku. Dan, bagaimana aku bisa terus
mencintaimu.
Ryan, tidakkah kau ingin melewati waktu bersama ku lagi?
Memulai segala yang baru atau mengulang semuanya. Ryan, bayang bayang mu tidak
mungkin begitu saja terhempas lalu termakan oleh kejam nya waktu. Ryan, andai
kau tau bagaimana aku memendam semua ini.
Ryan, aku hanya bisa berdoa untukmu, dan juga kita. Berharap
kita mampu melewatinya, menjaga apa yang ada, atau bertahan lebih lama.
Oh, ya, jangan lupa memberi kabar setibanya kau disana. Aku
akan sangat merindukan mu, Ryan.
Malika, seperti yang kau tahu; aku tidak suka tempat ini.
Tempat seseorang akan pergi atau datang. Tempat ini terlalu banyak menyimpan
duka, atau mungkin juga bahagia. Tapi, kali ini aku tidak suka tempat ini untuk
yang kesekian kalinya. Kepergian kepergian yang membuat ku merasa terpuruk.
Merelakan kepergian seseorang yang aku cintai, sungguh, itu hanya membuat ku
lebih sedih. Andai saja kau hadir di sini, mungkin, akan ada bulir bulir yang
berjatuhan dari mata hitam mu. Dan aku tidak mau melihatnya. Atau, aku yang
menginginkan pelukan terakhir darimu. Yang membuat ku tidak tahu harus
bagaimana melepasnya.
Jangan khawatirkan aku, Malika. Aku akan baik baik saja.
Justru kau yang harus menjaga dirimu. Aku pasti akan merindukan mu. Pasti.
Bahkan, saat ini pun aku sudah merindukan mu. Semoga Tuhan berkenan
mempertemukan kita nantinya. Amin.
Senja pertama tanpa kehadiranmu terasa begitu hampa, Ryan.
Aku seolah mati bersama tenggelam nya matahari. Ryan, bagaimana kabar mu disana,
ya? Mengapa sampai saat ini kau tidak menghubungi ku? Rasanya, akan ada banyak
hal yang harus mulai kita pelajari. Menunggu, misalnya. Seperti yang kau
ketahui; aku tidak suka menunggu. Memang nya, siapa yang suka menunggu? Menunggu
adalah pekerjaan yang pasif. Tapi, mulai saat ini aku harus belajar menunggu,
terlebih menunggu mu kembali. Aku harus belajar sabar untuk menjalani semua
ini. Atau, menerima luapan doa menjadi pelupuk kecil di mata.
Alih alih menjawab, ponsel ku bergetar. Pesan masuk. Aku
segera membuka pesan tersebut, dan mendapati namamu tertera di layar ku
“Aku sudah sampai, Mal,” begitu katamu.
Syukurlah, kau tiba disana dengan selamat. Maka, aku segera
membalas pesan mu, “Istirahat dahulu, ya.” Karena aku tidak bisa disamping mu,
maka, hanya dengan ponsel ini aku bisa mengetahui apa yang kau kerjakan. Apapun
itu, aku percaya denganmu. Rasanya, ingin sekali memperhatikanmu dengan
leluasa, tanpa ada jarak yang terbentang tentunya. Teringat dahulu kita lebih
sering melewati hari bersama, dan sekarang, harus berpisah selama tiga tahun.
Mungkin, bukan waktu yang lama jika kita melewatinya dengan bersama. Tapi, bisa
juga tidak, karena sekarang kamu tidak lagi disini. Itu yang membuat ku sedih.
Malika, udara disini sangat dingin. Berbeda sekali dengan di
Jakarta. Andai saja kau ada disini, aku tidak perlu membuat coklat panas, atau
teh hangat untuk menghangatkan tubuh ku. Hanya dengan melihat senyuman mu aku
merasa kehangatan men julur ke seluruh tubuh ku. Andaikata kau disini, kau pasti
yang akan me rapi kan semua pakaian ku. Karena kau tidak suka melihat kamar tidak
rapi, bukan? Berbeda sekali dengan ku, aku tidak peduli dengan kamar ku.
Menurut ku, kamar adalah tempat yang bisa membuat ku seperti Raja. Aku bisa
berlaku semaunya. Tapi, hal itu tidak bisa ku lakukan kalau kau ada disamping
ku. Aku rindu semua perhatianmu, Malika. Semua yang pernah kau berikan untuk
ku rasanya tidak bisa ku dapati dengan wanita lainnya. Mungkin bisa, tapi
rasanya tidak sama. Malika, aku harap, kita mampu menjalani semua ini. Aku
tidak bisa menjanjikan kebahagiaan padamu. Tapi, aku berjanji akan kembali
padamu.
Malika, ini adalah tahun ketiga kita tidak berjumpa. Malika,
ternyata kau masih ada untuk ku. Walaupun dengan versi yang berbeda. Tapi tak
mengapa. Malika, aku sangat merindukan mu. Sangat amat. Aku rindu masa masa
kala kita bersama. Malika, aku berencana untuk pulang esok. Ya, pada hari ulang
tahunmu. Maka, aku menyempatkan diri untuk membeli bunga Tulip untukmu. Malika,
saat ini aku sedang berjalan jalan di Keukenhof sekitar 3 jam dari Amsterdam.
Tempat ini sangat ramai, Malika. Bunga bunga Tulip disini begitu indah. Bunga bunga yang bermekaran, warna warni bertaburan. Andai saja kau ada disini, aku pasti akan
menggandeng tanganmu. Aku ingat, kau sangat suka dengan Tulip. Meskipun kau
sendiri tidak tau mengapa kau menyukai nya. Katamu; ‘Tulip itu berbeda dengan
yang lain’ ya, sama seperti dirimu. Terlintas, kau sama dengan wanita lain.
Cantik, baik, dan juga pintar. Tapi lebih dari itu, kau sangat istimewa di mata
ku. Dan aku tidak tau alasan apa untuk itu. Malika, maka aku membawakan Tulip
untukmu. Mungkin sesampainya disana ia sudah layu. Tapi tak mengapa, aku tau
kau tetap menyukai nya. Malika, tunggu aku, aku segera pulang lalu memeluk mu
dengan penuh kerinduan.
******
Jakarta, 11 April 2009.
Ryan, pagi ini aku bangun terlalu pagi. Sinar matahari
sepertinya memaksa ku untuk segera membuka mata dan bangun dari jerat mimpi.
Lalu aku membiarkan tubuh ku untuk merasakan segarnya ari di pagi hari. Tidak
lama setelah itu, aku mendengar deru mobil yang sepertinya aku sangat
mengenalnya. Maka aku mengintip di balik tirai jendela. Everest hitam. Apakah
itu dirimu? Apa mungkin kau telah pulang, Ryan? Pulang? Satu kata yang sangat
ku rindu kan, terlebih jika itu menyangkut dirimu. Maka aku cepat cepat menuruni
anak tangga dan membuka pintu. Alih alih menjawab, otot otot di seluruh tubuh
ku lumpuh. Tenggorokan terasa kering,
sebelum akhirnya aku bersusah payah mengeluarkan suara, dan aku pun tidak yakin
akan terdengar oleh mu. ‘Ryan?’ kata ku akhirnya. “Selamat ulang tahun,
Malika,” Ryan mengecup kening ku. Hmm…, sebentar. Apa kata Ryan tadi? Ulang
tahun? Siapa yang ulang tahun? “Kau lupa hari ini kau ulang tahun, Malika?” Aku
mengingat ingat sebentar. Tanggal berapa ini? Lalu aku menoleh ke belakang,
melihat angka 11 di dinding. 11 Juni. Ya, benar, ini hari ulang tahun ku,”
senyuman merekah di bibir ku. Ryan, ini adalah ulang tahun terindah ku. Kau tau
kenapa? Karena kau kembali. Aku tidak perlu lagi menunggu kau memberi kabar
lewat telepon genggam. Atau aku yang sibuk membayangkan kau sedang apa disana.
Ryan, terimakasih atas bunga Tulip nya. Aku menyukai nya, sungguh. Terlebih jika
diberikan dari mu. Ryan, makasih untuk waktu yang kau beri selama ini. Aku
mencintaimu, Ryan.

No comments:
Post a Comment