Pages

4/06/2013

Setangkai bunga - Cerpen




Kepergian.
Dear Ryan,
Tidakkah hari itu menjadi hari terakhir pertemuan kita untuk berapa kurun waktu? Lalu, mengapa kau tidak membiarkan aku untuk mengantar mu ke Bandara pagi itu? Apa kau tidak ingin aku mengantar sebelum kepergian mu? Andai saja aku ikut mengantar mu pagi itu, mungkin, aku tidak akan merasa kehilangan mu sebegitu besarnya. Karena aku masih bisa melihat sorot mata mu sekali lagi, lalu merekamnya dalam dalam.
Tidakkah kau tau bahwa malam sebelum kepergian mu kita sama sama tidak bisa tertidur? Terjaga oleh gelapnya malam. Atau, sibuk membayangkan bagaimana kita nantinya. Bagaimana hubungan ini bisa bertahan. Bagaimana cara kita menghadapi bayang bayang kenangan yang selalu mengganggu pejam tidur ku. Bagaimana nantinya rindu yang akan mengusik hari ku. Dan, bagaimana aku bisa terus mencintaimu.
Ryan, tidakkah kau ingin melewati waktu bersama ku lagi? Memulai segala yang baru atau mengulang semuanya. Ryan, bayang bayang mu tidak mungkin begitu saja terhempas lalu termakan oleh kejam nya waktu. Ryan, andai kau tau bagaimana aku memendam semua ini.
Ryan, aku hanya bisa berdoa untukmu, dan juga kita. Berharap kita mampu melewatinya, menjaga apa yang ada, atau bertahan lebih lama.
Oh, ya, jangan lupa memberi kabar setibanya kau disana. Aku akan sangat merindukan mu, Ryan.

                                                                                    *******

Malika, seperti yang kau tahu; aku tidak suka tempat ini. Tempat seseorang akan pergi atau datang. Tempat ini terlalu banyak menyimpan duka, atau mungkin juga bahagia. Tapi, kali ini aku tidak suka tempat ini untuk yang kesekian kalinya. Kepergian kepergian yang membuat ku merasa terpuruk. Merelakan kepergian seseorang yang aku cintai, sungguh, itu hanya membuat ku lebih sedih. Andai saja kau hadir di sini, mungkin, akan ada bulir bulir yang berjatuhan dari mata hitam mu. Dan aku tidak mau melihatnya. Atau, aku yang menginginkan pelukan terakhir darimu. Yang membuat ku tidak tahu harus bagaimana melepasnya.
Jangan khawatirkan aku, Malika. Aku akan baik baik saja. Justru kau yang harus menjaga dirimu. Aku pasti akan merindukan mu. Pasti. Bahkan, saat ini pun aku sudah merindukan mu. Semoga Tuhan berkenan mempertemukan kita nantinya. Amin.

                                                                                   *******

 Senja kelabu.
Senja pertama tanpa kehadiranmu terasa begitu hampa, Ryan. Aku seolah mati bersama tenggelam nya matahari. Ryan, bagaimana kabar mu disana, ya? Mengapa sampai saat ini kau tidak menghubungi ku? Rasanya, akan ada banyak hal yang harus mulai kita pelajari. Menunggu, misalnya. Seperti yang kau ketahui; aku tidak suka menunggu. Memang nya, siapa yang suka menunggu? Menunggu adalah pekerjaan yang pasif. Tapi, mulai saat ini aku harus belajar menunggu, terlebih menunggu mu kembali. Aku harus belajar sabar untuk menjalani semua ini. Atau, menerima luapan doa menjadi pelupuk kecil di mata.
Alih alih menjawab, ponsel ku bergetar. Pesan masuk. Aku segera membuka pesan tersebut, dan mendapati namamu tertera di layar ku
“Aku sudah sampai, Mal,” begitu katamu.
Syukurlah, kau tiba disana dengan selamat. Maka, aku segera membalas pesan mu, “Istirahat dahulu, ya.” Karena aku tidak bisa disamping mu, maka, hanya dengan ponsel ini aku bisa mengetahui apa yang kau kerjakan. Apapun itu, aku percaya denganmu. Rasanya, ingin sekali memperhatikanmu dengan leluasa, tanpa ada jarak yang terbentang tentunya. Teringat dahulu kita lebih sering melewati hari bersama, dan sekarang, harus berpisah selama tiga tahun. Mungkin, bukan waktu yang lama jika kita melewatinya dengan bersama. Tapi, bisa juga tidak, karena sekarang kamu tidak lagi disini. Itu yang membuat ku sedih.

                                                                                      ********

Malika, udara disini sangat dingin. Berbeda sekali dengan di Jakarta. Andai saja kau ada disini, aku tidak perlu membuat coklat panas, atau teh hangat untuk menghangatkan tubuh ku. Hanya dengan melihat senyuman mu aku merasa kehangatan men julur ke seluruh tubuh ku. Andaikata kau disini, kau pasti yang akan me rapi kan semua pakaian ku. Karena kau tidak suka melihat kamar tidak rapi, bukan? Berbeda sekali dengan ku, aku tidak peduli dengan kamar ku. Menurut ku, kamar adalah tempat yang bisa membuat ku seperti Raja. Aku bisa berlaku semaunya. Tapi, hal itu tidak bisa ku lakukan kalau kau ada disamping ku. Aku rindu semua perhatianmu, Malika. Semua yang pernah kau berikan untuk ku rasanya tidak bisa ku dapati dengan wanita lainnya. Mungkin bisa, tapi rasanya tidak sama. Malika, aku harap, kita mampu menjalani semua ini. Aku tidak bisa menjanjikan kebahagiaan padamu. Tapi, aku berjanji akan kembali padamu.

                                                                                     *******
Amsterdam, 10 April 2009.
Malika, ini adalah tahun ketiga kita tidak berjumpa. Malika, ternyata kau masih ada untuk ku. Walaupun dengan versi yang berbeda. Tapi tak mengapa. Malika, aku sangat merindukan mu. Sangat amat. Aku rindu masa masa kala kita bersama. Malika, aku berencana untuk pulang esok. Ya, pada hari ulang tahunmu. Maka, aku menyempatkan diri untuk membeli bunga Tulip untukmu. Malika, saat ini aku sedang berjalan jalan di Keukenhof sekitar 3 jam dari Amsterdam. Tempat ini sangat ramai, Malika. Bunga bunga Tulip disini begitu indah. Bunga bunga yang bermekaran, warna warni bertaburan. Andai saja kau ada disini, aku pasti akan menggandeng tanganmu. Aku ingat, kau sangat suka dengan Tulip. Meskipun kau sendiri tidak tau mengapa kau menyukai nya. Katamu; ‘Tulip itu berbeda dengan yang lain’ ya, sama seperti dirimu. Terlintas, kau sama dengan wanita lain. Cantik, baik, dan juga pintar. Tapi lebih dari itu, kau sangat istimewa di mata ku. Dan aku tidak tau alasan apa untuk itu. Malika, maka aku membawakan Tulip untukmu. Mungkin sesampainya disana ia sudah layu. Tapi tak mengapa, aku tau kau tetap menyukai nya. Malika, tunggu aku, aku segera pulang lalu memeluk mu dengan penuh kerinduan.

                                                                            ******
Jakarta, 11 April 2009.
Ryan, pagi ini aku bangun terlalu pagi. Sinar matahari sepertinya memaksa ku untuk segera membuka mata dan bangun dari jerat mimpi. Lalu aku membiarkan tubuh ku untuk merasakan segarnya ari di pagi hari. Tidak lama setelah itu, aku mendengar deru mobil yang sepertinya aku sangat mengenalnya. Maka aku mengintip di balik tirai jendela. Everest hitam. Apakah itu dirimu? Apa mungkin kau telah pulang, Ryan? Pulang? Satu kata yang sangat ku rindu kan, terlebih jika itu menyangkut dirimu. Maka aku cepat cepat menuruni anak tangga dan membuka pintu. Alih alih menjawab, otot otot di seluruh tubuh ku lumpuh.  Tenggorokan terasa kering, sebelum akhirnya aku bersusah payah mengeluarkan suara, dan aku pun tidak yakin akan terdengar oleh mu. ‘Ryan?’ kata ku akhirnya. “Selamat ulang tahun, Malika,” Ryan mengecup kening ku. Hmm…, sebentar. Apa kata Ryan tadi? Ulang tahun? Siapa yang ulang tahun? “Kau lupa hari ini kau ulang tahun, Malika?” Aku mengingat ingat sebentar. Tanggal berapa ini? Lalu aku menoleh ke belakang, melihat angka 11 di dinding. 11 Juni. Ya, benar, ini hari ulang tahun ku,” senyuman merekah di bibir ku. Ryan, ini adalah ulang tahun terindah ku. Kau tau kenapa? Karena kau kembali. Aku tidak perlu lagi menunggu kau memberi kabar lewat telepon genggam. Atau aku yang sibuk membayangkan kau sedang apa disana. Ryan, terimakasih atas bunga Tulip nya. Aku menyukai nya, sungguh. Terlebih jika diberikan dari mu. Ryan, makasih untuk waktu yang kau beri selama ini. Aku mencintaimu, Ryan.

No comments:

Post a Comment