Pages

2/08/2013


puisi-puisi cinta ini berharap bisa memeluk kamu segera 9


*
dunia yang lengang
sebuah usaha, agar orang-orang 
lebih banyak bicara dengan mata, 
pemerintah membuat aturan ketat. 
setiap orang hanya berhak memakai 
seratus tiga puluh kata per hari, pas.
jika telepon berdering, aku meletakkan 
gagangnya di telingaku tanpa menyebut halo. 
di restoran aku menggunakan jari telunjuk 
memesan mi atau Coto Makassar. aku secermat 
mungkin melatih diri patuh aturan dan berhemat.
tengah malam, aku telepon nomor kekasihku 
di jakarta, dengan bangga aku bilang kepadanya: aku menggunakan delapan puluh sembilan kata hari ini. sisanya kusimpan untukmu.

jika ia tak menjawab, aku tahu, pasti 
ia telah menghabiskan semua jatahnya, 
maka aku pelan-pelan berbisik: aku 
mencintaimu . sebanyak lima belas kali.
setelah itu, kami hanya duduk membiarkan 
gagang telepon di telinga kami dan saling 
mendengar dengus napas masing-masing.
*
sajak saat hujan
jika saja waktu dan kenangan adalah layang-layang, sudah kugulung benang-benangnya dan kugunting bagian yang tak kuingin.
hari itu, hujan curah tak deras namun lama. kaca jendela berembun sampai tak perlu turun tirai sebagai selubung. tak ada orang yang akan melihat kita, bisikmu. lalu kau buka kancing-kancing baju dengan tangan gemetar, memperlihatkan kerumunan tahi lalat yang kau rahasiakan di sisi kiri payudaramu yang perawan menawan. kau tuntun tanganku menghitungnya satu persatu, tetapi aku gagal menyebut jumlah.
setiap hujan seperti ini, aku berkeringat teringat hangat tubuhmu. meski kukatup mata sepenuh tutup, sedikitpun tak ada lupa. seluruh benar-jelas-selalu.
tahi lalat yang tak pernah aku tahu jumlahnya itu, kini menjelma jutaan belatung yang tak kenal kenyang. usiaku hanya bangkai-bangkai kucing dan anjing.
jika saja waktu dan kenangan adalah layang-layang, pada saat-saat hujan begini, sudah ada seorang lain perempuan. sebelah pahanya jadi bantal, sebelah tangannya mencabut uban-uban
di ubun-ubunku.
*
kepalaku: kantor paling sibuk di dunia
                                                            -Alifiah
engkau tahu? kepalaku: kantor paling sibuk di dunia. anehnya, hanya seorang bekerja tiada lelah di sana. tak mengenal hari minggu atau hari libur nasional. tak pula mengenal siang dan malam. tak mengenal apa-apa kecuali bekerja, bekerja, bekerja dan bekerja.
kadang-kadang ingin sekali suatu pagi melihatnya dating menyodorkan sehelai map berisi surat permohonan cuti. ingin pergi ke satu tempat yang jauh, mengasingkan diri beberapa hari di awal desember yang lembab sembari merayakan hari ulang tahun sendiri. lalu di depan pintu kantor terpasang sebuah tanda berwarna merah: tutup.
tetapi ia benar-benar seorang pekerja keras. setiap saat ia berada di kantor. mungkin hendak menyelesaikan seluruh persoalan waktu yang tidak pernah bisa selesai itu. tentang masa lampau yang tersisa di masa sekarang. tentang keinginan berhenti atau tak berhenti.juga tentang perihal lain yang sepele namun sungguh rumit buat dijelaskan.
ya, percayalah. kepalaku: kantor paling sibuk di dunia. anehnya, hanya seorang bekerja tiada lelah di sana.
engkau saja.
*
sajak buat istri yang buta 
dari suaminya yang tuli
maksud sajak ini sungguh sederhana.
hanya ingin memberitahumu bahwa baju 
yang kita kenakan saat duduk di pelaminan 
warnanya hijau daun pisang muda, tetapi 
yang membungkus kue-kue pengantin 
adalah daun pisang tua. memang keduanya 
hijau, tetapi hijau yang berbeda, sayang.
di kepalamu ada bando berhias bunga, 
kau merasakannya tetapi mungkin tidak 
tahu bunga-bunga itu adalah melati putih. 
sementara di kepalaku bertengger sepasang 
burung merpati, bulunya juga berwarna putih.
aku selalu mengenang hari itu, kita 
adalah sepasang pohon di musim semi. 
kau pohon penuh kembang. aku pohon 
yang ditempati burung merpati bersarang.
aku lihat, orang-orang datang dan tersenyum. 
mereka berbincang sambil menyantap makanan. 
tapi aku tak dengar apa yang mereka bicarakan. 
maukah kau mengatakannya kepadaku, sayang?
*
tiga catatan terakhir
1.
di dalam sebuah pejam 
aku saksikan sepasang mataku 
menghamburkan jutaan 
kunang-kunang. kuning 
seperti daun lerai dari ranting.
kunang-kunang itu berkerumun di ujung-ujung 
jari tanganku menyematkan ciuman terakhir 
sebelum terbang berkilau-kilauan di udara.
kunang-kunang itu melanglang mencari sepasang 
matamu yang berada dalam sebuah pejam yang lain 
pejam yang telah lama direncanakan alam dan malam.
dan engkau menyangka kunang-kunang 
yang masuk ke matamu adalah mimpi, 
mimpi yang engkau duga-duga maknanya.
namun pada saatnya engkau akan tahu, 
kelak kunang-kunang itu terbang 
hinggap di kelopak pipimu 
setiap kali aku engkau kenang.
2.
tiba-tiba mampu aku pahami 
seluruh yang pernah datang 
bertandang ke dua mataku 
bahkan yang aku duga mimpi.
tiba-tiba aku jatuh cinta 
melebihi seluruh jatuh cinta 
yang pernah menyakiti dadaku. namun
ketika ingin aku katakan pada telingamu 
aku tak lagi memiliki suara, 
ketika ingin aku katakan pada matamu 
aku tak lagi memiliki cahaya.
3.
melalui lubang pepori kulitku, air resap perlahan 
membentuk sungai-sungai kecil di tubuhku.
sungai itu mencari rongga dadaku 
mencari lautan yang pernah dipenuhi 
ribuan ikan mungil peliharaanmu.
sesaat sebelum mataku dikatup 
dan lemari matiku ditutup, 
sungai-sungai itu meluap, 
menguap ke langit lapang, 
langit yang selalu engkau pandang 
sambil menggigit bibir sendiri 
dengan mata bergenang-linang.
sebab engkau tak mau lebih manja 
dari langit di bulan-bulan hujan.
tetapi tidak. kelak langit dan dirimu 
sendiri akan memaafkan semua 
kesedihan yang engkau ciptakan 
dari kematianku.
*
pelukan
1
sudahkah kau memeluk dirimu hari ini?
masih aku ingat pertanyaanmu itu 
dulu aku tak bisa menjawabnya 
tetapi begitulah kau, selalu begitu, 
jika ada pertanyaan kau lontarkan 
sudah kau siapkan juga jawaban
lenganmu memang terlalu pendek buat tubuhmu 
tetapi tentu saja cukup panjang buat tubuhku
lalu kau merasuk ke dalam pelukanku 
dan berdiam di sana
masih kau simpan pelukan itu?
kita bertanya serempak 
lalu sama-sama terbahak
pelukanlah satu-satunya 
jawaban atas pertanyaan itu
lalu benam kita ke dalam kenangan
2
istriku lebih suka memeluk dari pada berkata-kata:
aku mencintaimu, nak! 
aku mencintaimu, pak!
seolah-olah dua lengannya 
bisa menyampaikan semua rahasia
anak-anak kami tumbuh 
lebih mencintai lengan dari pada kata-kata
itulah sebabnya istriku setiap malam 
berdoa agar ia bisa jadi seekor gurita 
dan semua kami bisa masuk ke dalam 
pelukan tangan-tangannya
3
satu per satu tubuh 
akan lepas dari pelukan
lalu lengan-lengan kita 
mulai mengenal sengketa 
mulai mengenal senjata
tubuh memang ditakdirkan 
awalnya jadi milik pelukan 
lalu kemudian milik peluru
*
lubang untukmu
aku ingin jadi lubang di jalan raya 
agar kau melangkah penuh waspada 
dan lututmu tak berdarah karena jatuh 
seperti masa kanakmu yang lincah dulu.
aku ingin jadi lubang di ibu jari kaus kakimu 
agar kau bisa tersenyum saat melepas sepatu 
dan lelahmu hilang di palung lesung pipitmu.
aku ingin jadi lubang di dinding kamarmu 
agar kau tak pernah luput mengenakan selimut 
sebelum tidur dan kau aman memeluk mimpi.
aku ingin jadi lubang tanam untuk mayatmu 
agar kau dan aku bisa sempurna menyatu.
*
jika kau terpaksa berpisah dengan aku atau kau melepas janji dan meninggalkan aku, mungkin dengan seorang lain kau menikah kemudian ke sebuah kota jauh kau pindah mengikuti suami kau yang bekerja di sana
sungguh-sungguh, seluruh sisa usia yang aku punya habis hanya buat menyatakan mimpi masa kecil aku: pemain biola, perancang busana dan penulis obituari. ketiganya selalu kau namai lelucon yang tidak mampu membuat seorang pun di dunia tertawa, termasuk diri kau (meski setiap usai mengatakan itu kau sakit perut tertawa)
kalender atau waktu atau apapun namanya akan menjerumuskan kau jadi renta dan lupa pada ciuman yang aku dan kau curi di toilet mesjid, sebuah es krim yang aku dan kau jilat bergantian dan bahkan nama aku yang hurufnya hanya sedikit
aku terus menggesek senar biola atau mengawinkan benang dan kain atau mengata-ngatai kematian dan sebab itu seluruh kau masih jelas bahkan huruf terakhir yang kau sebut kali pertama menjanjikan kesetiaan
suatu kala kelak kau tak akan pernah tahu pakaian yang kau kenakan dijemput maut pernah membuat jemari aku tertusuk mata jarum berkali-kali saat menjahitnya
suara biola yang mengantar mayat kau ke pemakaman: tangis aku
juga tentu saja aku menuliskan obituari singkat untuk kau yang dimuat di koran persis di samping obituari aku sendiri
*
ketika kelak kisah aku dan kau difilmkan adegan ini harus hadir sebelum muncul kata tamat, sebelum sejumlah nama itu berjejatuhan ke atas seperti hujan yang kembali ke langit, sebelum lampu dinyalakan dan entah kenapa mata penonton berair banyak
aku dan kau berhadap-bersitatap. rapat. aku pelan-pelan membuka kacamata kau saat kau pelan-pelan membuka kacamata aku. lalu tiba-tiba di mata aku kau samar, sama samarnya aku di mata kau. seperti seseorang yang mendekat datang atau seperti seseorang yang hendak hilang
(Di atas meja, di dekat bingkai jendela yang penuh bangkai senja, sepasang kacamata aku dan kau asyik membaca larik-larik sajak cinta di sebuah buku yang terbuka)
*
sebetulnya ini hanya semacam rangkuman atas sejumlah pertanyaan dan pernyataan yang kau katakan suatu malam di balkon belakang sebulan sebelum kau mati yang, aduh, sungguh malu aku menyebutnya puisi, sebab kata-kata aku belum makan seharian seperti buruh yang dililit hutan kredit sehingga terlalu lemah untuk tumbuh menjadi puisi
mengapa kau tak pernah bertanya bagian mana dari tubuh kau yang paling senang aku cium? aku ingin sekali mengatakan jawaban: aku paling senang mencium jempol kaki kau sebab meski jauh suara-suara jantung kau di situ selalu masih bisa mengatakan kau akan terus hidup untuk aku
jika aku benar-benar menikah dengan pria yang tak mampu membuat aku berhenti mencintai kau itu, bisakah aku menuliskan tato, nama kecil kau, di payudara aku? agar di malam pertama pria itu menangis seperti anak-anak dan aku tak akan ke mana-mana selain ke dalam malam-malam kau
menurut kau, apakah akan lahir sebuah fatwa haram mencintai seseorang jika aku dan kau dikuburkan saling berpelukan dalam sebalut kafan?
*
sajak dengan huruf tak cukup
aku merasa selalu saja ada huruf 
hilang dalam sajak ini, 
mirip gigi depan tidak lengkap.
tetapi tanggalnya satu, dua, atau tiga, 
menggenapkan senyum gadis kecil 
dan karenanya menggoda kita 
mencium pipinya berkali-kali
maka aku terus menulis agar kau tahu 
bahwa semua yang sempurna 
adalah ketidakcukupan.
begitu juga cinta yang setia 
bermain di sini, 
bagimu
yaitu sajak dengan huruf tak cukup.
*
cinta
cinta adalah gugurnya bebaris gerimis 
untuk selengkung pelangi yang barangkali
cinta adalah jatuhnya reranting kering 
untuk setumbuh tunas yang mungkin
cinta adalah turunnya malamhari 
untuk seterang pagi yang matahari
cinta adalah sementaranya pergi 
untuk sebuah datang yang abadi
*
surat cinta yang aneh
1. cintaku yang besar, cintaku yang tulus, 
2. telah hilang, menguap, dan kini rasa benciku 
3. berkembang setiap hari. ketika melihatmu, 
4. aku tak ingin lagi melihat wajahmu sedikitpun; 
5. satu hal yang sungguh ingin aku lakukan adalah 
6. mengalihkan mata ke gadis lain. aku tak lagi mau 
7. menikahkan aku-kau. percakapan terakhir kita 
8. sungguh, sungguh amat membosankan dan tak 
9. membuat aku ingin bertemu kau lagi. 
10. selama ini, kau selalu memikirkan diri sendiri. 
11. jika kita menikah, aku tahu aku akan menemu 
12. hidupku jadi sulit, dan kita tak akan menemu 
13. bahagia hidup bersama. aku punya satu hati 
14. untuk kuberikan, tapi itu bukan sesuatu 
15. yang ingin aku beri buatmu. tidak lebih 
16. bodoh dan egois dari kau, kau tak pernah 
17. memperhatikan, merawat dan mengerti aku. 
18. aku sungguh berharap kau mau mengerti 
19. aku berkata jujur. kau akan baik sekali jika 
20. kau anggap inilah akhirnya. tidak perlu 
21. membalas surat ini. surat-suratmu dipenuhi 
22. hal-hal tak menarik bagiku. kau tak punya 
23. cinta yang tulus. sampai jumpa. percayalah, 
24. aku tak peduli padamu. jangan pernah berpikir 
25. aku masih dan akan terus menjadi kekasihmu.
catatan: 
tiap baris surat ini sengaja diberi angka, agar kau 
bisa membedakan baris ganjil dan baris genap. 
baca baris-baris ganjil saja, hapus baris selebihnya. 
sesungguhnya, ini sehelai surat cinta yang ganjil.
*
selama dua jam aku berpikir tentang pikiran kamu
di dekat jendela, di kursi 25A sriwijaya, aku mengikat diri. 
ini perjalanan dari makassar ke jakarta, penerbangan dari timur 
ke barat melintasi langit oktober yang bingung pada perangai 
sendiri. aku tak mampu terpejam dan bermimpi, selama dua jam 
aku cuma mampu berpikir tentang pikiran kamu.
pikiran kamu seperti langit-lapang dan senang berubah warna. 
aku cuma penumpang dari balik jendela pesawat, seorang yang takut 
pada ketinggian tetapi mengabaikan petunjuk penyelamatan diri 
yang diperagakan pramugari dengan tidak sungguh-sungguh.
aku berpikir tentang pikiran kamu. pikiran yang kamu gunakan 
bertanya mengapa penerbangan selama dua jam yang berangkat 
dari makassar pukul 09.10 akan tiba di jakarta pukul 10.10? pikiran 
yang sama kamu gunakan menjawab: sebab penerbangan dua jam pulang 
dari jakarta pukul 11.11 akan tiba di makassar pukul 14.11. aku merasa 
sebagai pemenang dalam perhitungan itu. aku berangkat ke kotamu 
melawan waktu, perjalanan dua jam hanya kutempuh satu jam kadang 
terasa cuma sepejam-tetapi kembali ke kotaku harus aku bayar 
dengan perjalanan yang jauh lebih lama.
aku berpikir tentang pikiran kamu. pikiran yang kamu gunakan 
bertanya tentang kota yang terbuat dari kemacetan dan korupsi, 
menteri-menteri yang diganti dan tidak diganti, juga presiden 
yang gampang diserang rasa prihatin kepada diri sendiri. pikiran 
yang sama kamu gunakan bertanya apakah aku sebaiknya dipertahankan 
atau dilepaskan, diganti lebih lekas atau dibiarkan bertahan dalam ruang 
antara sudah selesai atau masih andai.
aku berpikir tentang pikiran kamu. pikiran yang disebut orang tuamu 
sebagai rumah sakit bersalin. selalu ada anak yang lahir-cerita, puisi, 
dan pemberontakan-pemberontakan yang kamu gunakan untuk menyakiti 
diri sendiri. pikiran yang untuk pria seperti aku kadang tempat berlibur, 
hanya nyaman buat berakhir pekan atau menenangkan diri beberapa hari. 
atau kadang-kadang satu-satunya tempat tinggal layak huni di bumi. 
tetapi kemudian aku duga tempat di mana aku pernah ditunggalkan 
lalu dilepas dan ditinggalkan pemiliknya sendiri.
aku berpikir tentang pikiran kamu. pikiran yang sering menolak dikecup 
dan ditakar dengan jawaban-jawabanku. pikiran yang malah lebih sering 
memilih terpekur memeluk pertanyaan-pertanyaan sendiri.
pikiran yang kadang halaman rindang, kadang hutan yang 
pohon-pohonnya belum ditebang, kadang cuma ladang-ladang 
kerontang.
pikiran yang pernah mengabaikan siapapun kecuali aku. 
pikiran yang pernah berniat selingkuh. pikiran yang gampang 
goyah tetapi gamang memutuskan sesuatu dan aku.
aku berpikir tentang pikiran kamu. pikiran selapang langit, 
yang lihai melukis matahari, purnama, bulan kesiangan, 
namun dihantui gerhana.
pikiran yang berhadap-hadapan dengan lautan, yang selalu haus, 
selalu siaga menumpahkan sesuatu yang basah seperti kesedihan.
aku berpikir tentang pikiran kamu. pikiran yang dilintasi pesawat 
yang bergetar karena cuaca buruk yang datang tiba-tiba. pikiran 
yang dilintasi pesawat yang di dalamnya ada seorang duduk di dekat jendela, 
memandang langit oktober yang bingung pada perangai sendiri, seorang 
yang takut pada ketinggian tapi mengabaikan petunjuk penyelamatan diri- 
seseorang yang rela jatuh melayang tanpa parasut di pikiran kamu.
aku berpikir tentang pikiran kamu. pikiran yang barangkali sedang ragu 
mengecupkan kabar apa ketika pria yang duduk di kursi 25A itu selamat 
tiba di bandara soekarno-hatta.
aku berpikir tentang pikiran kamu. pikiran yang sibuk menduga 
apa maksud puisi yang dibacakan pria yang dalam perjalanan 
sibuk berpikir tentang pikiran seseorang agar bisa menulis 
dan membacakan sesuatu di acara peluncuran buku sajak cinta.
-


karya: @hurufkecil

No comments:

Post a Comment