Kita hanyalah dua manusia yang saling membungkam. Menatap dalam keheningan. Merasakan detak jantung yang terus bergemuruh. Dengan diam kita saling berucap. Dengan memandang kita saling bercerita. Tidak ada yang perlu dijelaskan diantara kita. Karena semuanya tak butuh penjelasan. Karena semuanya tak akan mengerti. Dan, hanya kita yang mampu merasakannya.
Mungkin secara tak kasat mata semua orang bisa mengetahui apa yang kita rasakan. Tapi, jauh dari itu, hanya kitalah yang mampu merasakannya.
Kebahagiaan tak akan pernah mampu dijelaskan oleh siapapun. Hanya raut wajah kita yang menjelaskan sedikit dari perasaan kita. Kebahagiaan tak pernah ditemukan. Tapi, kebahagiaan akan hadir jika kita lebih merasakannya.
Rindu.
Aku tak pernah mengerti bagaimana rindu dapat hadir ketika jarak tercipta diantara kita. Ada rasa ingin tahu. Entah itu kabarmu, suaramu, ataupun tentang dirimu lainnya. Suaramu yang terdengar parau di ujung sana tak cukup menjadi penawar rindu. Karena hanya dengan bertemu, rindu lenyap bersamamu.
Cinta.
Aku sulit menjelaskan apa arti cinta. Untuk apa aku menulis dengan tergesa gesa untuk mendeskripsikannya, padahal hanya dengan melihat mu saja aku bisa tahu arti sebenarnya.
Waktu terasa cepat berlalu jika aku melewatinya denganmu. Aku tidak mengerti mengapa seperti itu. Mungkin karena aku lebih merasa bahagia saat melewatinya jika denganmu.
Aku tak pernah setengah hati. Apalagi menyakiti. Aku berharap kamu pun serupa denganku.
Kata orang cinta itu indah. Tapi, tidak semua cinta indah. Terkadang kita harus memperjuangkannya. Munafik bila seseorang berkata cinta tak harus memiliki. Jika tidak harus memiliki, kenapa harus ada sakit jika ia bersama yang lain?
Katanya, aku bahagia jika melihat dia bahagia bersama yang lain. Jadi, apa artinya bahagia itu adalah menangis seorang diri ketika ia bisa mencari pengganti mu?
Jujurlah dengan hatimu sendiri. Jangan membohonginya, karena hatimu yang paling tahu apa yang kamu rasakan. Naluri takkan membawa ke dalam jurang. Justru, ia lebih tahu apa yang seharusnya kamu lakukan.
No comments:
Post a Comment