Pages

1/22/2013

Saat Waktu Harus Berkata 'Selesai'


                Aku sedang berkutat dengan pensilku diatas kertas. Menggambar sesuatu yang aku sendiri tidak mengerti. Syifa,temanku, menghampiriku, lalu duduk disamping ku. Ia baru saja usai membaca Al-Qur’an. Ini adalah rutinitas ku setiap malam, pergi ke sebuah tempat pengajian untuk belajar ilmu agama lebih dalam. Murid disini terbilang banyak, hanya saja di bagi beberapa waktu; siang untuk anak berumur 3-6 tahun, sore untuk anak 7-12 tahun, dan malam untuk anak berumur 12 tahun keatas. Aku sendiri sudah mengaji ditempat ini sejak berumur 5 tahun. Ditempat tinggal kami memang rasa kekeluargaannya masih kental, dan aku menyukai hal itu.
“Ra, kau tahu, Kak Indah sedang sakit.” Indah adalah salah satu nama dari guru kami disini. Ia adalah sosok wanita yang cantik, dengan badannya yang ideal, dan sangat ramah. Akhir akhir ini aku memang jarang sekali masuk mengaji, karena waktuku yang tersita banyak untuk mengerjakan tugas tugas dari sekolah. Maklum saja, aku sudah berada di kelas 9, 3 SMP. Tumpukan soal soal sudah menjadi makanan sehari hari ku sekarang.
 “Tidak. Memangnya sakit apa?” Tanyaku yang masih asyik menggambar diatas kertas.
“Dia sakit parah, aku tidak tahu pasti penyakit yang dideritanya.”
Aku tidak lagi menggambar, aku letakkan pensilku diatas buku. Aku menoleh ke arah Syifa. “Separah itu? Kau pernah menjenguknya?” Pantas saja, akhir akhir ini aku jarang sekali melihat beliau, ternyata dia sedang sakit. Aku ingin menjenguknya. Sebagai murid lama di pengajian ini, aku dekat dengan Kak Indah. Bahkan, aku sering di jodoh jodohkan dengan Deny, keponakannya, yang entah kenapa harus dia yang jelas jelas bukan orang yang aku suka.
“Terakhir kali aku kesana dia sangat kurus, bahkan, dia tidak mengenali beberapa orang.”Jawab Syifa, yang sekarang justru sibuk dengan kukunya.
Tiba tiba suara Bawo terdengar, menyuruh kami untuk duduk lebih dekat dengan dirinya. Bawo adalah guru kami, sebenarnya nama dia adalah Nasrullah, dan sering dipanggil dengan sebutan ‘Uwo’ terdengar aneh, memang. Tapi, hanya kami berempat, aku, Syifa, Aisyah, Tari yang memanggil dengan sebutan Bawo, sambungan dari Bang dan Uwo. Lalu kami maju mendekat.
“Saya baru tahu tadi sore, kalo Indah sakit” Kata Bawo. “Kita baru saja membicarakan hal itu.” Bisik Syifa di telingaku. “Kalo gitu, mari kita sama sama berdoa untuk kesembuhannya.” Lalu Bawo memimpin doa, yang entah apa aku tidak tahu artinya karena menggunakan bahasa Arab. Tapi, apapun artinya, itu adalah doa. Dan aku, hanya mengamininya dari belakang.
                                                                                                ****
Pengajian sudah selesai, murid muridpun sudah kembali kerumahnya masing masing. Ditempat ini, hanya tertinggal aku, Syifa, Tari, Aisyah, Bawo, yang mempunyai kebiasaan bercerita atau sekedar menanyakan sesuatu hal yang belum kami pahami. Dan hanya kami yang mempunyai kebiasaan tersebut.
“Bang, dicabut nyawa itu sakit engga, sih?” Tiba tiba Tari bertanya begitu saja. Aku geram dengan pertanyaannya barusan, tentu saja, itu pasti sakit.
“Menurut kamu bagaimana?” Jawab Bawo kembali bertanya.
Aisyah yang berada disamping Tari menepuk punggung Tari pelan. “Ya sakitlah, Tar” Katanya dengan nada geram.
“Kamu mau tau jawabannya? Kamu cobain sajar sendiri.” Tambah Bawo dengan nada santai. Bawo itu sosok laki laki yang ramah, ia juga friendly, meskipun seorang laki laki, dia cukup mengerti perasaan kami. Dia juga sudah beristri dan mempunyai satu anak, namanya, Azka.
“Dengan cara apa? Menyuruh malaikat izroil datang untuk menyabut nyawaku, gitu?” Tanya Tari membuat kami geram. “Ya iya, lah.” Jawab kami bersamaan diiringi anggukan Bawo. Dan itu, membuat Tari memajukan bibirnya, membuat kami tertawa bersama.
“Saya tidak tahu pasti bagaimana rasanya. Dan beberapa guru saya mengatakan bahwa rasa sakit yang dirasakan, semua tergantung amalannya. Jika dia orang yang baik, bisa jadi malaikat mencabut nyawanya dengan pelan pelan dan lembut. Tapi, jika dia orang yang jahat, malaikat akan memperlakukannya dengan kasar.” Kata Bawo menjelaskan membuat Tari ber-oh panjang.
“Kau ingat, lagu yang pernah diajarkan dengan Umi?” Tanyaku. Entah kenapa ingatanku selalu kuat dengan sesuatu meskipun sudah lama terjadi. Lagu tersebut pernah diajarkan Umi di pengajian ini. Ia adalah pendiri majelis disini. Jika di ibaratkan dengan di sekolah, ia adalah seorang kepala sekolah.
“Ingat” Jawab Aisyah singkat.
Lalu Syifa mulai menyanyikan lagu tersebut di bait pertama. Suaranya yang paling merdu diantara kami berempat.
Bila izroil datang memanggil
Sekujur badan, akan kedinginan
Disambung denganku. Dan entah kenapa, aku merasakan bulu kuduku merinding.
Tak ada lagi guna harta, kawan karib, sanak saudara
Jikalau ada, amal didunia itulah hanya pembela kita
Disambung dengan Aisyah yang mempunya suara cukup merdu dibandingkan aku.
Janganlah mau disanjung sanjung
Engkau digelar manusia agung
Lalu Tari dan Bawo bernyanyi bersamaan. Memadukan suaranya dengan sangat merdu.
Datang sebuah selimut putih membalut badan
Tinggalah semua yang dikasihi
Berjuanglah hidup sepanjang zaman.
Begitulah liriknya. Bagiku, lagu tersebut sangat menyentuh. Tentang semua manusia yang akan menemui ajalnya masing masing. Dan sebuah harta tidaklah bisa menjamin dirinya akan selamat di akhirat kelak. Hidup, jodoh, rezeki, ajal, itu semua sudah ditentukan. Tapi, bagi beberapa orang, ajal adalah sesuatu yang menakutkan, dan aku sendiri berpikiran hal yang sama. Kematian akan membawaku pergi dengan orang yang ku sayang. Dunia yang sudah berbeda, dan aku tidak tahu bagaimana nantinya. Setelah kami menyanyikan lagu tersebut, Umi berjalan menuju kami. Aura wanita ini sangat menawan, kulitnya yang kuning langsat, mata coklat tuanya, dan bibir merahnya membuat ia sangat cantik. Dengan balutan jilbab di kepalanya menutupi rambut hitamnya, menambah kecantikan. Lalu ia duduk diantara kami berempat.
“Wo, udah lihat Indah, belum?” Tanya Umi kepada Bawo.
“Belum Mi, memang sakit apa, ya?” Untung saja Bawo menanyakan hal ini. Aku sendiri penasaran dengan penyakit yang diderita Kak Indah.
“Katanya ginjal, Wo. Kasihan deh, dia kan orang yang baik” Jawab Umi. Dan aku setuju dengan jawabannya. Kak Indah adalah perempuan yang baik. Biasanya, dia yang akan membuatku tertawa saat aku mulai mengantuk dengam ceramah para ulama saat perayaan hari besar, maulid, misalnya. Dia juga pintar, mengajari kami banyak hal. Umurnya yang mau menginjak 23 tahun di tahun ini. Usianya yang masih muda seakan menjadi sosok kakak perempuan didalam hidupku. Aku terlahir dari 3 bersaudara, kakakku laki laki semua. Dan selama ini, aku sering bercerita dengan Kak Indah atau pun Syifa, Aisyah, dan Tari yang memiliki umur satu tahun lebih tua di bandingkan denganku. “Jenguk sana, Wo.” Tambah Umi.
“Jenguk mah mau, mi. Tapi, saya orangnya gimana, ya. Saya engga tega melihat orang sakit.” Ya, Bawo emang tidak pernah mau melihat orang yang sakit parah. Bukan dia tidak peduli, tapi, seperti yang dikatakan barusan; dia tidak tega.
“Kamu juga belum jenguk kan, Ra?” Tanya Umi kepadaku.
“Belum Mi, tahu saja baru tadi” Jawabku jujur.
“Iya, Umi jarang melihat kamu sekarang.”
“Iya, habisnya sibuk dengan sekolah, tugasnya banyak banget.” Jawabku dengan menunjukan sederet gigi putihku.
Tiba tiba terdengar dering dari ponsel Umi, lalu ia segera  menjawab panggilan tersebut. Ternyata panggilan tersebut dari suaminya, dan Umi berpamitan untuk pulang terlebih dahulu.
“Sudah ya, Umi pulang duluan. Assalamu ‘alaikum” Lalu ia pergi meninggalkan kami.
“Kita juga pulang yuk, udah malem.” Kata Bawo. Ku lihat jam dinding yang bertengger menunjukkan pukul 9 malam. Lalu kami pulang kerumah masing masing.
                                                                              ****
                Hari ini adalah hari sabtu. Tidak ada sekolah hari ini. Hari libur membuatku bermalas malasan ditempat tidur. Rasanya, tidak rela meninggalkan pulau kapuk di pagi hari. Bulan Januari adalah bulan yang ku suka. Dengan hujan yang mulai membasahi Jakarta yang penuh dengan polusi. Bukan itu saja, aku menyukai hujan. Rintik yang turun membuatku tenang. Suaranya seperti nyanyian sederhana. Ditambah lagi dengan aroma tanah yang menguak secara liar di hidungku. Menempati paru paru. Dan kali ini, hujan turun di pagi hari.
                Aku menelusuri anak tangga, berniat untuk memakan sesuatu. Perutku sudah berdemo, cacing cacing di perut sudah tidak sabar menyantap hidangan yang lezat. Aku berpaling menuju meja makan, dan, menemukan sayur kangkung beserta ikan mujair, menu favoritku. Aku mengambil lauk pauk dan nasi untuk diriku sendiri. Lalu mengambil segelas air minum. Melahapnya dengan seksama. Aku memang sering makan sendirian. Perbedaan umur dengan kakak keduaku terlampau jauh, 9 tahun. Dan mamah adalah seorang aktivis didaerah rumahku. Keuangan kami bisa dibilang lebih dari cukup. Dan aku sendiri, sebagai anak remaja mulai tumbuh dengan seiringnya waktu. Merasakan apa yang dirasakan teman teman sebayaku, menyukai seseorang, contohnya. Singkat cerita, aku menyukai seseorang. Kala itu aku tidak sengaja melihat dia, dan dia juga….., melihatku. Pandangan pertama memang tidak pernah bohong. Aku suka dengannya, kurang lebih seperti itu. Kami ternyata sekelas sampai awal semester kelas 8. Aku dekat dengannya. Aku suka dengannya, tapi tidak pernah mengatakannya. Dengar dengar dia juga suka denganku. Tapi, dia tidak kunjung mengungkapkannya. Dan kami, hanya sebatas teman saja. Bahkan, saat aku duduk di kelas 8 tempat duduk kami depan belakang, menambah keakraban diantara kami. Kami mengenal satu sama lain dengan baik. Kita juga sering satu kelompok dalam mengerjakan tugas. Sampai pada suatu hari aku mendengar kabar bahwa dia sakit. Dan, tidak lama mendengar kabar itu beberapa hari kemudian ia meninggal. Ironis, namun, itulah hidup. Penuh dengan kejutan. Terkadang semua seperti mimpi buruk sekaligus indah. Hidup adalah terus tinggal bersama luka dan bisa tertawa setiap hari. Sekiranya, itu adalah kutipan dari film Milly dan Nathan. Ternyata, dia mengidap penyakit radang otak. Dan bodohnya, aku tidak pernah menyadari kalau ia sedang melawan penyakit seganas itu. Dari banyak bagian tubuh, kenapa harus otak yang terserang terlebih dahulu. Kenapa harus dia yang terkena dengan usia yang seharusnya sedang merasakan dunia yang indah ini. Dan semua itu adalah takdir. Meskipun kita sudah merencanakan sesuatu hal, tetap saja, semua itu bisa saja tidak seperti apa yang kita harapkan sebelumnya. Saat aku ke rumahnya untuk melayat, aku melihat wajah pucatnya. Seseorang telah meninggalkanku. Dan kamu, bagaian dari sejarah hidupku. Lalu aku berdoa semoga Allah menempatkan dia ditempat yang baik. Aku ingin menangis, tapi, aku menahannya. Tangisan ini hanyalah membuatnya semakin berat. Aku menyeka air mataku sendiri. Bayangan masa lalu bersamanya dengan liar terbayang di otakku. Aku ikhlas dengar kepergianmu dibandingkan kau harus tersiksa melawan penyakit dengan obat obatan yang rasanya pahit sekali. Seseorang menepuk punggungku, aku lantas menoleh, ternyata tante Nirma, Ibunya Peter. Ya, namanya Peter. “Kau Zahra, bukan?” Tanya wanita paruh baya itu. “Iya tante.” Jawab ku singkat. “Ini ada sesuatu untukmu, bukanya saja nanti. ”Ia menyodorkan satu kotak berwarna biru muda yang entah apa isinya. Saat aku sudah berada dirumah, aku membuka kotak biru tersebut. Mendapati ada beberapa lembar kertas didalamnya, lalu aku segera membacanya.
Dear, Zahra.
Jika kamu membaca ini pasti aku sudah pergi meninggalkanmu. Aku sangat berterimakasih, dengan hadirnya kamu membuat sisa hidupku lebih berwarna. Mungkin kita hanyalah sepasang manusia yang belum mengetahui banyak hal. Tapi, percayalah, aku suka denganmu. Saat pertama kali aku menginjak sekolah ini, aku sedang berdoa, semoga Tuhan mau memberikan seseorang yang berarti untukku. Dan saat itu, kita tidak sengaja bertatapan, kau ingat itu? Mungkin aku hanyalah sebatas masa lalumu. Dan aku harap kamu tidak begitu saja melupakanku. Dan satu hal yang perlu kau tau. Aku tidak mengungkapkan perasaanku karena aku tahu, umurku tidaklah panjang, aku tidak ingin melihat kamu larut dalam kesedihan. Dan kita di beratkan dengan perbedaan agama. Selama aku berteman denganmu, aku melihat kau sangat berpegang teguh pada agamamu. Dan itu semua membuatku ragu berkata jujur dengan apa yang ku rasakan. Ini, ada jam tangan untukmu, dengan gambar Paris. Aku tau, kau suka dengan Paris, apalagi ditambah sunsetnya. Tadinya, aku ingin membelikanmu kalung, tapi, aku juga tau, kau tidak suka memakai kalung, kau hanya suka accessories yang dipakai di pergelangan. Aku mengenal kamu lebih dari apa yang kau tau. Kamu adalah cinta pertama dan terakhirku, dan kau harus percaya itu.Semoga Tuhan terus bersamamu dan mendampingi dirimu.Amin.
                                                                                                                                                                                                Peter.
                Begitulah isi surat Peter, dan kemudian aku melihat lembaran berikutnya ada beberapa foto aku bersamanya. Ada pula foto aku sendirian, entah darimana dia menemukan foto itu. Yang aku tahu, ia sangat suka memotret. Kata dia, memotret itu seperti mengabadikan, setidaknya kita akan teringat momen tersebut. Dan satu lagi, kita berbeda agama. Selama ini, aku ataupun dia tidak pernah menyinggung hal itu. Dan perasaan ini, aku tidak pernah cerita dengan Syifa, Aisyah ataupun Tari. Terdengarnya egois, tapi, entah kenapa aku hanya ingin merahasiakannya.
                Kembali ke realita. Setelah selesai makan aku segera meletakkan piring kotor di tempat cucian. Tiba tiba saja aku mendapati Tari datang dengan tergopoh gopoh, sepertinya dia habis lari.
“Ada apa?” Tanyaku sedikit panik. Masalahnya,Tari ini tidak suka lari, dan jika lari, pasti ada sesuatu hal yang penting.
“Kak Indah,” jawabnya dengan suara tersenggal senggal. “Ka Indah kenapa?” Membuatku semakin panik. “Kak Indah meninggal” jelasnya. Kata kata tersebut seperti bom yang dijatuhkan di telingaku. Aku pasti salah dengar. Tapi, itulah kenyataannya. Sepertinya aku merasakan kakiku lumpuh seketika. Mulutku mengatup kuat kuat. Pikiranku tidak bisa memikirkan secara jernih. Aku tidak habis pikir ini akan terjadi. Semacam mimpi buruk, tapi, ini nyata. Bukan mimpi atau khayalan belaka. Mimpi buruk itu hadir lagi. Kehilangan, kepergian, kenangan, semua kembali menghantuiku. Aku terduduk lemas, lalu aku merogoh saku celanaku, mengambil ponsel lalu memberikan pesan singkat untuk Syifa dan Aisyah. Meskipun ini hari sabtu, mereka tetap bersekolah karena ada ekstrakulikuler. Aku mengetik pesan singkat untuk mereka dengan cepat. Kalian dimana? Cepat pulang, Kak Indah meninggal, segeralah pulang. Setidaknya itu lah yang bisa ku ketik saat ini.
                Tidak lama kemudian mereka sampai di rumahku. Lalu kami segera pergi ke rumah Kak Indah. Syifa dan Aisyah tidak mengganti pakaian sekolahnya, tidak ingin membuang buang waktu. Kami menuju kerumah Kak Indah dengan langkah panjang panjang dan sesekali aku berlari kecil karena tertinggal mereka yang jelas lebih tinggi dibandingkan aku.
                Sesampainya aku dirumah Kak Indah, aku segera masuk. Yang pertama kali aku rasakan adalah merinding. Sekujur tubuhku terasa dingin. Lalu kami berempat mendapati seseorang yang sudah tak bernyawa. Kulitnya yang pucat tak dialiri darah. Tubuhnya yang lebih kurus dari sebelumnya. Aku bingung menjelaskan perasaanku saat ini. Sedih, menyesal, marah, semuanya menjadi satu.  Itulah kematian, datang secara tiba tiba tanpa bisa di terka. Semuanya, semua yang pernah ada, tertinggal begitu saja. Lalu kami berempat duduk di barisan depan, mengambil Al-Qur’an untuk membaca surat Yasin. Aku membacanya dengan seksama, aku tidak ingin menitihkan air mata saat ini, tegar, sabar, tegar, sabar, aku mengucapkannya berulang ulang. Saat kami tengah membacakan doa, salah seorang tetangga kami meminta kain yang menutupi wajah Kak Indah dibuka. Lalu salah seorang dari keluarga beliau membukanya. Betapa ironisnya aku melihat wajahnya yang kurus, berbeda sekali seperti kala dia hidup. Aku tidak dapat menahan lagi tangisanku, air mataku pecah. Aku terisak isak melihat sosok tersebut. Ditambah lagi kenangan yang diputar ulang begitu saja oleh otakku. Rasanya sakit melihat orang yang terdekat pergi terlebih dahulu. Belum lama aku ditinggal Peter, dan sekarang, aku ditinggal Kak Indah. Rasanya berat menerima kenyataan ini. Seseorang memelukku dari belakang, ia adalah kakak dari Kak Indah, dan aku mengenal baik dengannya. Ia membisikkan kalimat di telingaku. “Jangan menangis, kasihan Kak Indah, ia pasti berat meninggalkan kamu.” Lalu ia melepaskan pelukannya dan kembali ke tempat duduknya. Aku menyeka air mataku. Benar apa yang dikatakannya, tangisanku hanya menambah beban untuk Kak Indah, tidak ada gunanya. Tangisan tidak akan mengembalikan sesuatu yang hilang. Tapi, tangisan juga yang memperlihatkan perasaan kami, baik itu senang, maupun sedih. Kesedihanku tidak sebanding dengan kesedihan keluarganya. Merekapun merasa kehilangan, bahkan melebihi aku, pasti. Aku lihat ada seorang laki laki yang sedang membacakan surat Yasin untuk ka Indah. Dan, laki laki itu adalah suaminya. Mereka belum lama menikah. Ia pasti merasa sangat amat merasakan kehilangan istrinya itu, melebih rasa kehilanganku terhadap Peter. Aku mengikhlaskanmu pergi, ka. Maafkan aku karena tidak sempat menjengukmu saat kamu masih hidup. Kau tidak pernah menyakiti perasaanku, justru sebaliknya. Tidak ada yang perlu dimaafkan untukmu, justru aku yang seharusnya meminta maaf.
                Rumah ini terasa ikut mati tanpa kehadirannya diantara kami. Rumah ini garing, dingin, tidak ada lagi candaan seperti dulu, tidak ada lagi suara renyahnya terdengar ditelinga kami. Semuanya benar benar berbeda. Segala sesuatunya berubah didunia ini. Bahkan, kita tidak tahu apa yang terjadi sedetik kedepannya. Kita hanya bisa menjalaninya, sampai pada disuatu masa dan menemukan kata ‘selesai’.
                Mayat ka Indah akan dimandikan. Dan kami berempatpun menyaksikannya. Kami melihat jelas bagaimana tubuhnya yang kurus. Tulang tulangnya sangat terlihat, seperti tidak ada daging yang melekat ditulangnya. Tubuhnya menjadi sangat kecil dan mungil.
                Setelah selesai dimandikan, mayatnya ka Indah dibalut dengan kain kafan. Kain yang menakutkan. Aku tidak suka melihat kain putih panjang, alasannya karena menakutkan. Tapi, kali ini aku harus melihatnya, aku tidak ingin ketinggalan sedetikpun sebelum ia dimakamkan.
                Semuanya selesai, sebelum jenazah ka Indah dimakamkan, di shalatkan terlebih dahulu. Aku hanya menunggu di bangku yang ada, menopang dagu, memahami semuanya, mencerna dengan akal sehat. Setelah selesai di shalatkan, jenazah ka Indah dibawa kesebuah pemakaman yang jaraknya tidak jauh dari rumah kami. Aku tidak ikut pemakaman karena tidak kendaraan. Lagi pula, sepertinya hujan akan segera turun. Sebelum akhirnya jenazah dimasukkan kedalam mobil ambulance, aku mengucapkan salam perpisahan. “Selamat jalan, ka. Semoga tenang disana, di lain waktu, kita akan menjalani seperti dahulu lagi.”
                Aku terduduk tenang di bangku panjang. Sekarang aku sedang terduduk, sambil merenung. Disini ada bawo, Ibu Erna, salah satu guru kami juga disini, dan tentunya, kami berempat.
“Saya mah, sudah puas lah istilahnya, waktu anaknya meninggal, saya yang mandiin” Kata Ibu Erna tiba tiba bercerita. Ya, Kak Indah tadinya sedang hamil, namun ia keguguran saat menginjak usia kedelapan bulan. Ironisnya, ini adalah anak pertamanya. “Anaknya cantik deh, kan sudah terlihat gitu mukanya, bibirnya tipis, matanya bulat, rambutnya tebal, cantik deh.” Ibu Erna masih terus bercerita. Dan kami hanya mendengarkannya dengan seksama. Mendengarkan kisah pahit manis seorang guru kami. “Tadinya Indah enggak tau anaknya meninggal, saya miris deh, melihat dia tersenyum kalo melihat tempat tidur bayi. Pas sudah selesai dimakamkan, baru diberitahu kalo anaknya meninggal, bahkan, saya menangis di pelukannya. Tapi justru Indahlah yang bersikap lebih tegar, dia bilang, ‘jangan nangis ibu’ saya malu rasanya.” Tersirat jelas kesedihan di raut wajah Bu Erna, ia sama seperti kami semua, merasa kehilangan. Tapi, bukan seperti itulah hidup? Selalu ada kata goodbye setelah helo. Aku sendiri lebih memilih untuk mendengarkan dibandingkan dengan merespond ceritanya, mungkin dia hanya terbayang masa itu sama seperti aku.
Di pengajian ini mempunyai agenda rutinitas saat acara maulid tiba. Kita pasti akan mengadakan drama. Selama ini, aku pasti kebagian tugas menjadi seorang anak yang baik, namun terlihat jutek. Dan, ka Indahlah yang menjadi ibuku.
Di tahun lalu kami mempersembahkan drama yang menceritakan bahwa aku mempunyai kakak seorang pemabok, dan sering bermain judi. Ia sudah mempunyai istri, dan istrinya adalah Syifa. Saat itu kak Fahri, yang berperan sebagai kakakku pergi , dan aku seraya berkata dengan berkacak pinggang, “Kalo maysaroh punya suami kaya bang Fahri, udah may ceraiin kali, talak tiga sekalian!” Penonton lantas tertawa bahkan aku sempat mendengar beberapa kata seperti; “Zahra serem aja. Talak tiga!.” Rasanya aku ingin tertawa sekeras kerasnya. Tiba tiba ka Indah datang menghampiri dan menasehatiku “Maysaroh tidak boleh berkata  seperti itu. Bagaimanapun juga ia adalah kakak kandungmu.” Lalu Ka Indah menepuk punggungku pelan. Aku masih bisa merasakan hangat tangannya hingga saat ini. Meskipun ia sudah tidak ada.
Senja mulai menampakkan jingganya. Matahari segera pulang keperaduannya. Aku menyukai senja sama halnya dengan hujan. Senja seperti lukisan Allah yang menakjubkan. Aku segera pulang kerumah, tidak ingin membuat mamah khawatir.
                                                                                                ****
19 januari 2012.
                Hari ini adalah hari ulang tahunku yang ke-15. Aku mengadakan acara selametan kecil kecilan. Mengundang beberapa temanku di sekolah dan dirumah. Acara ini bukan hanya sekedar memotong kue, tapi juga berdoa semoga aku semakin dewasa, diberikan umur yang cukup, sehat selalu, dan cita citanya tercapai. Amin.
                Aku berdiri  diantara teman temanku, sekedar mengucapkan terimakasih. “Makasih banget, loh, sudah mau ke acara ulang tahunku. Aku juga minta maaf karena makanannya sederhana. Tapi, kalian harus tahu, seharusnya, kali ini aku merayakan ulang tahun ini dengan seseorang. Hanya saja, ia telah pergi mendahului kami. Semoga ia diberikan tempat yang layak oleh Tuhan, ya.” Semuanya mengamini doaku. Ya, seharusnya ka Indah merayakan bersama denganku, seharusnya dia ada disini. Biasanya, kami akan saling mengucapkan  selamat ulang tahun satu sama lain, atau sesekali bertukaran hadiah. Tapi, kali ini berbeda. Tapi, aku tetap merasakan dia hadir di sekeliling kami.
                Setelah selesai acara ulangtahunku, aku pergi ke pemakaman Kak Indah. Tentu saja berempat seperti biasa. Kami sudah membelikan mawar merah kesukaannya. Sesampainya disana, aku berdoa, lalu mengucapkan selamat ulang tahun yang ke-23 ke Kak Indah. Aku percaya, ia mendengarnya.
                Setelah aku ke tempat pemakaman Kak Indah, aku pergi ke pemakaman Peter. Hari adalah tepat satu tahun peninggalannya. Dan, aku memilih untuk pergi sendiri. Sesampainya disana, aku bingung harus berkata apa. Untuk waktu yang cukup lama aku hanya menatap gundukan tanah yang menutupi seseorang yang aku suka. “Ter, hari ini aku ulang tahun. Kau ingat dulu? Kau yang pertamakali mengucapkan itu di ponselku, di twitter, dan di facebook.” Ucapku akhirnya dan kembali terdiam sesaat, “Aku merindukanmu, sampai saat ini, aku masih suka denganmu, dan aku percaya, bahwa kamu merasakan hal yang sama. Aku memakai jam pemberianmu. Aku suka jamnya. Dan jam ini yang membuatku tidak lupa waktu. Mungkin, kau memberikan ini agar aku terus mengingatmu disetiap waktuku, dan semua itu terjadi; aku selalu mengingatmu.  Aku rindu hal hal kecil yang pernah kita lakukan dulu. Tapi, bukankah itu hidup? Hanya terbayang bayang dengan kenangan. Suatu saat nanti mungkin aku akan mencari penggantimu. Kau tidak rela bukan jika harus terus menjadi perawan tua hanya untuk menunggu ajalku untuk bertemu denganmu? Tapi, aku juga tidak yakin menemukan penggantimu. Semoga kau tidak marah dengan keputusanku, ya. Aku tidak pernah menginginkan perasaanku pudar bergitu saja. Tapi, inilah hidup, aku harus memutuskan sesuatu yang aku tidak ingin putuskan. Live is goes on. Mungkin itu saja dari ku, kau yang tenang ya disana. Aku mencintaimu.” Setelah bercerita panjang lebar sendirian, aku segera pulang. Perasaanku tetap senang di hari ulang tahunku. Walaupun, tanpa kehadiran mereka. Mereka tetap hidup di hari hariku. Mereka tetap menemaniku dengan versi lainnya. Sesuatu kehilangan bukanlah hal asing didunia ini. Semua orang akan merasakan itu. Bukan kehilangannya yang terpenting, tetapi, bagaimana kita menghadapi setelahnya. 

No comments:

Post a Comment