Aku
sedang berkutat dengan pensilku diatas kertas. Menggambar sesuatu yang aku sendiri
tidak mengerti. Syifa,temanku, menghampiriku, lalu duduk disamping ku. Ia baru
saja usai membaca Al-Qur’an. Ini adalah rutinitas ku setiap malam, pergi ke
sebuah tempat pengajian untuk belajar ilmu agama lebih dalam. Murid disini
terbilang banyak, hanya saja di bagi beberapa waktu; siang untuk anak berumur
3-6 tahun, sore untuk anak 7-12 tahun, dan malam untuk anak berumur 12 tahun
keatas. Aku sendiri sudah mengaji ditempat ini sejak berumur 5 tahun. Ditempat
tinggal kami memang rasa kekeluargaannya masih kental, dan aku menyukai hal
itu.
“Ra, kau tahu, Kak Indah sedang sakit.” Indah adalah salah
satu nama dari guru kami disini. Ia adalah sosok wanita yang cantik, dengan badannya
yang ideal, dan sangat ramah. Akhir akhir ini aku memang jarang sekali masuk
mengaji, karena waktuku yang tersita banyak untuk mengerjakan tugas tugas dari
sekolah. Maklum saja, aku sudah berada di kelas 9, 3 SMP. Tumpukan soal soal
sudah menjadi makanan sehari hari ku sekarang.
“Tidak. Memangnya
sakit apa?” Tanyaku yang masih asyik menggambar diatas kertas.
“Dia sakit parah, aku tidak tahu pasti penyakit yang
dideritanya.”
Aku tidak lagi menggambar, aku letakkan pensilku diatas buku.
Aku menoleh ke arah Syifa. “Separah itu? Kau pernah menjenguknya?” Pantas saja,
akhir akhir ini aku jarang sekali melihat beliau, ternyata dia sedang sakit.
Aku ingin menjenguknya. Sebagai murid lama di pengajian ini, aku dekat dengan Kak Indah. Bahkan, aku sering di jodoh jodohkan dengan Deny, keponakannya, yang
entah kenapa harus dia yang jelas jelas bukan orang yang aku suka.
“Terakhir kali aku kesana dia sangat kurus, bahkan, dia
tidak mengenali beberapa orang.”Jawab Syifa, yang sekarang justru sibuk dengan kukunya.
Tiba tiba suara Bawo terdengar, menyuruh kami untuk duduk
lebih dekat dengan dirinya. Bawo adalah guru kami, sebenarnya nama dia adalah
Nasrullah, dan sering dipanggil dengan sebutan ‘Uwo’ terdengar aneh, memang.
Tapi, hanya kami berempat, aku, Syifa, Aisyah, Tari yang memanggil dengan
sebutan Bawo, sambungan dari Bang dan Uwo. Lalu kami maju mendekat.
“Saya baru tahu tadi sore, kalo Indah sakit” Kata Bawo.
“Kita baru saja membicarakan hal itu.” Bisik Syifa di telingaku. “Kalo gitu,
mari kita sama sama berdoa untuk kesembuhannya.” Lalu Bawo memimpin doa, yang
entah apa aku tidak tahu artinya karena menggunakan bahasa Arab. Tapi, apapun
artinya, itu adalah doa. Dan aku, hanya mengamininya dari belakang.
****
Pengajian sudah selesai, murid muridpun sudah kembali
kerumahnya masing masing. Ditempat ini, hanya tertinggal aku, Syifa, Tari,
Aisyah, Bawo, yang mempunyai kebiasaan bercerita atau sekedar menanyakan
sesuatu hal yang belum kami pahami. Dan hanya kami yang mempunyai kebiasaan
tersebut.
“Bang, dicabut nyawa itu sakit engga, sih?” Tiba tiba Tari bertanya
begitu saja. Aku geram dengan pertanyaannya barusan, tentu saja, itu pasti
sakit.
“Menurut kamu bagaimana?” Jawab Bawo kembali bertanya.
Aisyah yang berada disamping Tari menepuk punggung Tari pelan.
“Ya sakitlah, Tar” Katanya dengan nada geram.
“Kamu mau tau jawabannya? Kamu cobain sajar sendiri.” Tambah
Bawo dengan nada santai. Bawo itu sosok laki laki yang ramah, ia juga friendly, meskipun seorang laki laki,
dia cukup mengerti perasaan kami. Dia juga sudah beristri dan mempunyai satu
anak, namanya, Azka.
“Dengan cara apa? Menyuruh malaikat izroil datang untuk menyabut
nyawaku, gitu?” Tanya Tari membuat kami geram. “Ya iya, lah.” Jawab kami
bersamaan diiringi anggukan Bawo. Dan itu, membuat Tari memajukan bibirnya,
membuat kami tertawa bersama.
“Saya tidak tahu pasti bagaimana rasanya. Dan beberapa guru
saya mengatakan bahwa rasa sakit yang dirasakan, semua tergantung amalannya.
Jika dia orang yang baik, bisa jadi malaikat mencabut nyawanya dengan pelan
pelan dan lembut. Tapi, jika dia orang yang jahat, malaikat akan memperlakukannya
dengan kasar.” Kata Bawo menjelaskan membuat Tari ber-oh panjang.
“Kau ingat, lagu yang pernah diajarkan dengan Umi?” Tanyaku.
Entah kenapa ingatanku selalu kuat dengan sesuatu meskipun sudah lama terjadi.
Lagu tersebut pernah diajarkan Umi di pengajian ini. Ia adalah pendiri majelis
disini. Jika di ibaratkan dengan di sekolah, ia adalah seorang kepala sekolah.
“Ingat” Jawab Aisyah singkat.
Lalu Syifa mulai menyanyikan lagu tersebut di bait pertama.
Suaranya yang paling merdu diantara kami berempat.
Bila izroil datang memanggil
Sekujur badan, akan kedinginan
Disambung denganku. Dan entah kenapa, aku merasakan bulu
kuduku merinding.
Tak ada lagi guna harta, kawan karib, sanak saudara
Jikalau ada, amal didunia itulah hanya pembela kita
Disambung dengan Aisyah yang mempunya suara cukup merdu
dibandingkan aku.
Janganlah mau disanjung sanjung
Engkau digelar manusia agung
Lalu Tari dan Bawo bernyanyi bersamaan. Memadukan suaranya
dengan sangat merdu.
Datang sebuah selimut putih membalut badan
Tinggalah semua yang dikasihi
Berjuanglah hidup sepanjang zaman.
Begitulah liriknya. Bagiku, lagu tersebut sangat menyentuh.
Tentang semua manusia yang akan menemui ajalnya masing masing. Dan sebuah harta
tidaklah bisa menjamin dirinya akan selamat di akhirat kelak. Hidup, jodoh,
rezeki, ajal, itu semua sudah ditentukan. Tapi, bagi beberapa orang, ajal
adalah sesuatu yang menakutkan, dan aku sendiri berpikiran hal yang sama.
Kematian akan membawaku pergi dengan orang yang ku sayang. Dunia yang sudah
berbeda, dan aku tidak tahu bagaimana nantinya. Setelah kami menyanyikan lagu
tersebut, Umi berjalan menuju kami. Aura wanita ini sangat menawan, kulitnya
yang kuning langsat, mata coklat tuanya, dan bibir merahnya membuat ia sangat
cantik. Dengan balutan jilbab di kepalanya menutupi rambut hitamnya, menambah
kecantikan. Lalu ia duduk diantara kami berempat.
“Wo, udah lihat Indah, belum?” Tanya Umi kepada Bawo.
“Belum Mi, memang sakit apa, ya?” Untung saja Bawo
menanyakan hal ini. Aku sendiri penasaran dengan penyakit yang diderita Kak Indah.
“Katanya ginjal, Wo. Kasihan deh, dia kan orang yang baik”
Jawab Umi. Dan aku setuju dengan jawabannya. Kak Indah adalah perempuan yang
baik. Biasanya, dia yang akan membuatku tertawa saat aku mulai mengantuk dengam
ceramah para ulama saat perayaan hari besar, maulid, misalnya. Dia juga pintar,
mengajari kami banyak hal. Umurnya yang mau menginjak 23 tahun di tahun ini.
Usianya yang masih muda seakan menjadi sosok kakak perempuan didalam hidupku.
Aku terlahir dari 3 bersaudara, kakakku laki laki semua. Dan selama ini, aku
sering bercerita dengan Kak Indah atau pun Syifa, Aisyah, dan Tari yang memiliki
umur satu tahun lebih tua di bandingkan denganku. “Jenguk sana, Wo.” Tambah Umi.
“Jenguk mah mau, mi. Tapi, saya orangnya gimana, ya. Saya
engga tega melihat orang sakit.” Ya, Bawo emang tidak pernah mau melihat orang
yang sakit parah. Bukan dia tidak peduli, tapi, seperti yang dikatakan barusan;
dia tidak tega.
“Kamu juga belum jenguk kan, Ra?” Tanya Umi kepadaku.
“Belum Mi, tahu saja baru tadi” Jawabku jujur.
“Iya, Umi jarang melihat kamu sekarang.”
“Iya, habisnya sibuk dengan sekolah, tugasnya banyak
banget.” Jawabku dengan menunjukan sederet gigi putihku.
Tiba tiba terdengar dering dari ponsel Umi, lalu ia
segera menjawab panggilan tersebut.
Ternyata panggilan tersebut dari suaminya, dan Umi berpamitan untuk pulang
terlebih dahulu.
“Sudah ya, Umi pulang duluan. Assalamu ‘alaikum” Lalu ia
pergi meninggalkan kami.
“Kita juga pulang yuk, udah malem.” Kata Bawo. Ku lihat jam
dinding yang bertengger menunjukkan pukul 9 malam. Lalu kami pulang kerumah
masing masing.
****
Hari
ini adalah hari sabtu. Tidak ada sekolah hari ini. Hari libur membuatku
bermalas malasan ditempat tidur. Rasanya, tidak rela meninggalkan pulau kapuk
di pagi hari. Bulan Januari adalah bulan yang ku suka. Dengan hujan yang mulai
membasahi Jakarta yang penuh dengan polusi. Bukan itu saja, aku menyukai hujan.
Rintik yang turun membuatku tenang. Suaranya seperti nyanyian sederhana.
Ditambah lagi dengan aroma tanah yang menguak secara liar di hidungku. Menempati
paru paru. Dan kali ini, hujan turun di pagi hari.
Aku
menelusuri anak tangga, berniat untuk memakan sesuatu. Perutku sudah berdemo,
cacing cacing di perut sudah tidak sabar menyantap hidangan yang lezat. Aku
berpaling menuju meja makan, dan, menemukan sayur kangkung beserta ikan mujair,
menu favoritku. Aku mengambil lauk pauk dan nasi untuk diriku sendiri. Lalu mengambil
segelas air minum. Melahapnya dengan seksama. Aku memang sering makan
sendirian. Perbedaan umur dengan kakak keduaku terlampau jauh, 9 tahun. Dan
mamah adalah seorang aktivis didaerah rumahku. Keuangan kami bisa dibilang lebih
dari cukup. Dan aku sendiri, sebagai anak remaja mulai tumbuh dengan seiringnya
waktu. Merasakan apa yang dirasakan teman teman sebayaku, menyukai seseorang,
contohnya. Singkat cerita, aku menyukai seseorang. Kala itu aku tidak sengaja
melihat dia, dan dia juga….., melihatku. Pandangan pertama memang tidak pernah
bohong. Aku suka dengannya, kurang lebih seperti itu. Kami ternyata sekelas sampai
awal semester kelas 8. Aku dekat dengannya. Aku suka dengannya, tapi tidak pernah
mengatakannya. Dengar dengar dia juga suka denganku. Tapi, dia tidak kunjung
mengungkapkannya. Dan kami, hanya sebatas teman saja. Bahkan, saat aku duduk
di kelas 8 tempat duduk kami depan belakang, menambah keakraban diantara kami.
Kami mengenal satu sama lain dengan baik. Kita juga sering satu kelompok dalam
mengerjakan tugas. Sampai pada suatu hari aku mendengar kabar bahwa dia sakit.
Dan, tidak lama mendengar kabar itu beberapa hari kemudian ia meninggal. Ironis,
namun, itulah hidup. Penuh dengan kejutan. Terkadang semua seperti mimpi buruk
sekaligus indah. Hidup adalah terus tinggal bersama luka dan bisa tertawa
setiap hari. Sekiranya, itu adalah kutipan dari film Milly dan Nathan.
Ternyata, dia mengidap penyakit radang otak. Dan bodohnya, aku tidak pernah
menyadari kalau ia sedang melawan penyakit seganas itu. Dari banyak bagian
tubuh, kenapa harus otak yang terserang terlebih dahulu. Kenapa harus dia yang terkena dengan
usia yang seharusnya sedang merasakan dunia yang indah ini. Dan semua itu
adalah takdir. Meskipun kita sudah merencanakan sesuatu hal, tetap saja, semua
itu bisa saja tidak seperti apa yang kita harapkan sebelumnya. Saat aku ke rumahnya
untuk melayat, aku melihat wajah pucatnya. Seseorang telah meninggalkanku. Dan
kamu, bagaian dari sejarah hidupku. Lalu aku berdoa semoga Allah menempatkan dia
ditempat yang baik. Aku ingin menangis, tapi, aku menahannya. Tangisan ini
hanyalah membuatnya semakin berat. Aku menyeka air mataku sendiri. Bayangan
masa lalu bersamanya dengan liar terbayang di otakku. Aku ikhlas dengar
kepergianmu dibandingkan kau harus tersiksa melawan penyakit dengan obat obatan
yang rasanya pahit sekali. Seseorang menepuk punggungku, aku lantas menoleh,
ternyata tante Nirma, Ibunya Peter. Ya, namanya Peter. “Kau Zahra, bukan?”
Tanya wanita paruh baya itu. “Iya tante.” Jawab ku singkat. “Ini ada sesuatu
untukmu, bukanya saja nanti. ”Ia menyodorkan satu kotak berwarna biru muda yang
entah apa isinya. Saat aku sudah berada dirumah, aku membuka kotak biru
tersebut. Mendapati ada beberapa lembar kertas didalamnya, lalu aku segera
membacanya.
Dear, Zahra.
Jika kamu membaca ini
pasti aku sudah pergi meninggalkanmu. Aku sangat berterimakasih, dengan
hadirnya kamu membuat sisa hidupku lebih berwarna. Mungkin kita hanyalah
sepasang manusia yang belum mengetahui banyak hal. Tapi, percayalah, aku suka denganmu.
Saat pertama kali aku menginjak sekolah ini, aku sedang berdoa, semoga Tuhan mau
memberikan seseorang yang berarti untukku. Dan saat itu, kita tidak sengaja
bertatapan, kau ingat itu? Mungkin aku hanyalah sebatas masa lalumu. Dan aku
harap kamu tidak begitu saja melupakanku. Dan satu hal yang perlu kau tau. Aku
tidak mengungkapkan perasaanku karena aku tahu, umurku tidaklah panjang, aku
tidak ingin melihat kamu larut dalam kesedihan. Dan kita di beratkan dengan
perbedaan agama. Selama aku berteman denganmu, aku melihat kau sangat berpegang
teguh pada agamamu. Dan itu semua membuatku ragu berkata jujur dengan apa yang
ku rasakan. Ini, ada jam tangan untukmu, dengan gambar Paris. Aku tau, kau suka
dengan Paris, apalagi ditambah sunsetnya. Tadinya, aku ingin membelikanmu
kalung, tapi, aku juga tau, kau tidak suka memakai kalung, kau hanya suka
accessories yang dipakai di pergelangan. Aku mengenal kamu lebih dari apa yang
kau tau. Kamu adalah cinta pertama dan terakhirku, dan kau harus percaya itu.Semoga
Tuhan terus bersamamu dan mendampingi dirimu.Amin.
Peter.
Begitulah
isi surat Peter, dan kemudian aku melihat lembaran berikutnya ada beberapa foto
aku bersamanya. Ada pula foto aku sendirian, entah darimana dia menemukan foto
itu. Yang aku tahu, ia sangat suka memotret. Kata dia, memotret itu seperti
mengabadikan, setidaknya kita akan teringat momen tersebut. Dan satu lagi, kita
berbeda agama. Selama ini, aku ataupun dia tidak pernah menyinggung hal itu. Dan
perasaan ini, aku tidak pernah cerita dengan Syifa, Aisyah ataupun Tari. Terdengarnya egois, tapi, entah kenapa aku hanya ingin merahasiakannya.
Kembali
ke realita. Setelah selesai makan aku segera meletakkan piring kotor di tempat
cucian. Tiba tiba saja aku mendapati Tari datang dengan tergopoh gopoh,
sepertinya dia habis lari.
“Ada apa?” Tanyaku sedikit panik. Masalahnya,Tari ini tidak
suka lari, dan jika lari, pasti ada sesuatu hal yang penting.
“Kak Indah,” jawabnya dengan suara tersenggal senggal. “Ka
Indah kenapa?” Membuatku semakin panik. “Kak Indah meninggal” jelasnya. Kata
kata tersebut seperti bom yang dijatuhkan di telingaku. Aku pasti salah dengar.
Tapi, itulah kenyataannya. Sepertinya aku merasakan kakiku lumpuh seketika.
Mulutku mengatup kuat kuat. Pikiranku tidak bisa memikirkan secara jernih. Aku
tidak habis pikir ini akan terjadi. Semacam mimpi buruk, tapi, ini nyata. Bukan
mimpi atau khayalan belaka. Mimpi buruk itu hadir lagi. Kehilangan, kepergian,
kenangan, semua kembali menghantuiku. Aku terduduk lemas, lalu aku merogoh saku
celanaku, mengambil ponsel lalu memberikan pesan singkat untuk Syifa dan
Aisyah. Meskipun ini hari sabtu, mereka tetap bersekolah karena ada
ekstrakulikuler. Aku mengetik pesan singkat untuk mereka dengan cepat. Kalian dimana? Cepat pulang, Kak Indah
meninggal, segeralah pulang. Setidaknya itu lah yang bisa ku ketik saat
ini.
Tidak
lama kemudian mereka sampai di rumahku. Lalu kami segera pergi ke rumah Kak Indah. Syifa dan Aisyah tidak mengganti pakaian sekolahnya, tidak ingin
membuang buang waktu. Kami menuju kerumah Kak Indah dengan langkah panjang
panjang dan sesekali aku berlari kecil karena tertinggal mereka yang jelas
lebih tinggi dibandingkan aku.
Sesampainya
aku dirumah Kak Indah, aku segera masuk. Yang pertama kali aku rasakan adalah merinding.
Sekujur tubuhku terasa dingin. Lalu kami berempat mendapati seseorang yang
sudah tak bernyawa. Kulitnya yang pucat tak dialiri darah. Tubuhnya yang lebih
kurus dari sebelumnya. Aku bingung menjelaskan perasaanku saat ini. Sedih,
menyesal, marah, semuanya menjadi satu.
Itulah kematian, datang secara tiba tiba tanpa bisa di terka. Semuanya,
semua yang pernah ada, tertinggal begitu saja. Lalu kami berempat duduk
di barisan depan, mengambil Al-Qur’an untuk membaca surat Yasin. Aku membacanya
dengan seksama, aku tidak ingin menitihkan air mata saat ini, tegar, sabar,
tegar, sabar, aku mengucapkannya berulang ulang. Saat kami tengah membacakan
doa, salah seorang tetangga kami meminta kain yang menutupi wajah Kak Indah
dibuka. Lalu salah seorang dari keluarga beliau membukanya. Betapa ironisnya
aku melihat wajahnya yang kurus, berbeda sekali seperti kala dia hidup. Aku
tidak dapat menahan lagi tangisanku, air mataku pecah. Aku terisak isak melihat
sosok tersebut. Ditambah lagi kenangan yang diputar ulang begitu saja oleh
otakku. Rasanya sakit melihat orang yang terdekat pergi terlebih dahulu. Belum
lama aku ditinggal Peter, dan sekarang, aku ditinggal Kak Indah. Rasanya berat
menerima kenyataan ini. Seseorang memelukku dari belakang, ia adalah kakak dari Kak Indah, dan aku mengenal baik dengannya. Ia membisikkan kalimat di telingaku. “Jangan menangis, kasihan Kak Indah, ia pasti berat meninggalkan kamu.” Lalu ia
melepaskan pelukannya dan kembali ke tempat duduknya. Aku menyeka air mataku.
Benar apa yang dikatakannya, tangisanku hanya menambah beban untuk Kak Indah,
tidak ada gunanya. Tangisan tidak akan mengembalikan sesuatu yang hilang. Tapi,
tangisan juga yang memperlihatkan perasaan kami, baik itu senang, maupun sedih.
Kesedihanku tidak sebanding dengan kesedihan keluarganya. Merekapun merasa
kehilangan, bahkan melebihi aku, pasti. Aku lihat ada seorang laki laki yang
sedang membacakan surat Yasin untuk ka Indah. Dan, laki laki itu adalah
suaminya. Mereka belum lama menikah. Ia pasti merasa sangat amat merasakan
kehilangan istrinya itu, melebih rasa kehilanganku terhadap Peter. Aku
mengikhlaskanmu pergi, ka. Maafkan aku karena tidak sempat menjengukmu saat
kamu masih hidup. Kau tidak pernah menyakiti perasaanku, justru sebaliknya.
Tidak ada yang perlu dimaafkan untukmu, justru aku yang seharusnya meminta
maaf.
Rumah
ini terasa ikut mati tanpa kehadirannya diantara kami. Rumah ini garing,
dingin, tidak ada lagi candaan seperti dulu, tidak ada lagi suara renyahnya
terdengar ditelinga kami. Semuanya benar benar berbeda. Segala sesuatunya
berubah didunia ini. Bahkan, kita tidak tahu apa yang terjadi sedetik
kedepannya. Kita hanya bisa menjalaninya, sampai pada disuatu masa dan
menemukan kata ‘selesai’.
Mayat
ka Indah akan dimandikan. Dan kami berempatpun menyaksikannya. Kami melihat
jelas bagaimana tubuhnya yang kurus. Tulang tulangnya sangat terlihat, seperti
tidak ada daging yang melekat ditulangnya. Tubuhnya menjadi sangat kecil dan
mungil.
Setelah
selesai dimandikan, mayatnya ka Indah dibalut dengan kain kafan. Kain yang
menakutkan. Aku tidak suka melihat kain putih panjang, alasannya karena
menakutkan. Tapi, kali ini aku harus melihatnya, aku tidak ingin ketinggalan
sedetikpun sebelum ia dimakamkan.
Semuanya
selesai, sebelum jenazah ka Indah dimakamkan, di shalatkan terlebih dahulu. Aku
hanya menunggu di bangku yang ada, menopang dagu, memahami semuanya, mencerna
dengan akal sehat. Setelah selesai di shalatkan, jenazah ka Indah dibawa
kesebuah pemakaman yang jaraknya tidak jauh dari rumah kami. Aku tidak ikut
pemakaman karena tidak kendaraan. Lagi pula, sepertinya hujan akan segera
turun. Sebelum akhirnya jenazah dimasukkan kedalam mobil ambulance, aku
mengucapkan salam perpisahan. “Selamat jalan, ka. Semoga tenang disana, di lain
waktu, kita akan menjalani seperti dahulu lagi.”
Aku
terduduk tenang di bangku panjang. Sekarang aku sedang terduduk, sambil
merenung. Disini ada bawo, Ibu Erna, salah satu guru kami juga disini, dan
tentunya, kami berempat.
“Saya mah, sudah puas lah istilahnya, waktu anaknya meninggal,
saya yang mandiin” Kata Ibu Erna tiba tiba bercerita. Ya, Kak Indah tadinya
sedang hamil, namun ia keguguran saat menginjak usia kedelapan bulan.
Ironisnya, ini adalah anak pertamanya. “Anaknya cantik deh, kan sudah terlihat
gitu mukanya, bibirnya tipis, matanya bulat, rambutnya tebal, cantik deh.” Ibu
Erna masih terus bercerita. Dan kami hanya mendengarkannya dengan seksama.
Mendengarkan kisah pahit manis seorang guru kami. “Tadinya Indah enggak tau
anaknya meninggal, saya miris deh, melihat dia tersenyum kalo melihat tempat
tidur bayi. Pas sudah selesai dimakamkan, baru diberitahu kalo anaknya
meninggal, bahkan, saya menangis di pelukannya. Tapi justru Indahlah yang
bersikap lebih tegar, dia bilang, ‘jangan nangis ibu’ saya malu rasanya.” Tersirat jelas kesedihan di raut wajah Bu Erna, ia sama seperti kami semua, merasa kehilangan.
Tapi, bukan seperti itulah hidup? Selalu ada kata goodbye setelah helo. Aku
sendiri lebih memilih untuk mendengarkan dibandingkan dengan merespond
ceritanya, mungkin dia hanya terbayang masa itu sama seperti aku.
Di pengajian ini mempunyai agenda rutinitas saat acara
maulid tiba. Kita pasti akan mengadakan drama. Selama ini, aku pasti kebagian
tugas menjadi seorang anak yang baik, namun terlihat jutek. Dan, ka Indahlah
yang menjadi ibuku.
Di tahun lalu kami mempersembahkan drama yang menceritakan
bahwa aku mempunyai kakak seorang pemabok, dan sering bermain judi. Ia sudah
mempunyai istri, dan istrinya adalah Syifa. Saat itu kak Fahri, yang berperan
sebagai kakakku pergi , dan aku seraya berkata dengan berkacak pinggang, “Kalo
maysaroh punya suami kaya bang Fahri, udah may ceraiin kali, talak tiga
sekalian!” Penonton lantas tertawa bahkan aku sempat mendengar beberapa kata
seperti; “Zahra serem aja. Talak tiga!.” Rasanya aku ingin tertawa sekeras
kerasnya. Tiba tiba ka Indah datang menghampiri dan menasehatiku “Maysaroh
tidak boleh berkata seperti itu.
Bagaimanapun juga ia adalah kakak kandungmu.” Lalu Ka Indah menepuk
punggungku pelan. Aku masih bisa merasakan hangat tangannya hingga saat ini.
Meskipun ia sudah tidak ada.
Senja mulai menampakkan jingganya. Matahari segera pulang
keperaduannya. Aku menyukai senja sama halnya dengan hujan. Senja seperti
lukisan Allah yang menakjubkan. Aku segera pulang kerumah, tidak ingin membuat
mamah khawatir.
****
19 januari 2012.
Hari
ini adalah hari ulang tahunku yang ke-15. Aku mengadakan acara selametan kecil
kecilan. Mengundang beberapa temanku di sekolah dan dirumah. Acara ini bukan
hanya sekedar memotong kue, tapi juga berdoa semoga aku semakin dewasa,
diberikan umur yang cukup, sehat selalu, dan cita citanya tercapai. Amin.
Aku
berdiri diantara teman temanku, sekedar
mengucapkan terimakasih. “Makasih banget, loh, sudah mau ke acara ulang
tahunku. Aku juga minta maaf karena makanannya sederhana. Tapi, kalian harus
tahu, seharusnya, kali ini aku merayakan ulang tahun ini dengan seseorang. Hanya
saja, ia telah pergi mendahului kami. Semoga ia diberikan tempat yang layak
oleh Tuhan, ya.” Semuanya mengamini doaku. Ya, seharusnya ka Indah merayakan
bersama denganku, seharusnya dia ada disini. Biasanya, kami akan saling
mengucapkan selamat ulang tahun satu sama lain, atau
sesekali bertukaran hadiah. Tapi, kali ini berbeda. Tapi, aku tetap merasakan
dia hadir di sekeliling kami.
Setelah
selesai acara ulangtahunku, aku pergi ke pemakaman Kak Indah. Tentu saja
berempat seperti biasa. Kami sudah membelikan mawar merah kesukaannya.
Sesampainya disana, aku berdoa, lalu mengucapkan selamat ulang tahun yang ke-23
ke Kak Indah. Aku percaya, ia mendengarnya.
Setelah
aku ke tempat pemakaman Kak Indah, aku pergi ke pemakaman Peter. Hari adalah tepat satu tahun peninggalannya. Dan, aku
memilih untuk pergi sendiri. Sesampainya disana, aku bingung harus berkata apa.
Untuk waktu yang cukup lama aku hanya menatap gundukan tanah yang menutupi
seseorang yang aku suka. “Ter, hari ini aku ulang tahun. Kau ingat dulu? Kau
yang pertamakali mengucapkan itu di ponselku, di twitter, dan di facebook.” Ucapku
akhirnya dan kembali terdiam sesaat, “Aku merindukanmu, sampai saat ini, aku
masih suka denganmu, dan aku percaya, bahwa kamu merasakan hal yang sama. Aku
memakai jam pemberianmu. Aku suka jamnya. Dan jam ini yang membuatku tidak lupa
waktu. Mungkin, kau memberikan ini agar aku terus mengingatmu disetiap waktuku,
dan semua itu terjadi; aku selalu mengingatmu.
Aku rindu hal hal kecil yang pernah kita lakukan dulu. Tapi, bukankah
itu hidup? Hanya terbayang bayang dengan kenangan. Suatu saat nanti mungkin aku
akan mencari penggantimu. Kau tidak rela bukan jika harus terus menjadi perawan
tua hanya untuk menunggu ajalku untuk bertemu denganmu? Tapi, aku juga tidak
yakin menemukan penggantimu. Semoga kau tidak marah dengan keputusanku, ya. Aku
tidak pernah menginginkan perasaanku pudar bergitu saja. Tapi, inilah hidup, aku
harus memutuskan sesuatu yang aku tidak ingin putuskan. Live is goes on. Mungkin
itu saja dari ku, kau yang tenang ya disana. Aku mencintaimu.” Setelah
bercerita panjang lebar sendirian, aku segera pulang. Perasaanku tetap senang
di hari ulang tahunku. Walaupun, tanpa kehadiran mereka. Mereka tetap hidup
di hari hariku. Mereka tetap menemaniku dengan versi lainnya. Sesuatu kehilangan
bukanlah hal asing didunia ini. Semua orang akan merasakan itu. Bukan
kehilangannya yang terpenting, tetapi, bagaimana kita menghadapi setelahnya.
No comments:
Post a Comment