Pagi ini saya sudah di berikan pertanyaan seputar menulis. "Alasan kamu menulis itu apa? Ko, senang betul dengan menulis?" Kata seorang teman saya. Bagi saya, menulis adalah suatu kebahagiaan tersendiri. Seperti saya menemukan surga kecil, dan mendapat ketenangan. Memang, saya belum bisa menulis dengan baik dan benar, tapi, saya akan terus menulis sampai titik sempurna. Menulis itu seperti berteriak tanpa suara, kata seseorang. Menulis itu seperti ingin mengabadikan, sama halnya dengan memotret, tidak ingin kehilangan momen tersebut. Saya ingin menulis karena saya ingin mengabadikannya, saya tidak ingin kenangan itu hilang begitu saja. Saya ingin suatu saat nanti saya membaca tulisan saya di waktu lampau dan saya bisa kembali merasakan apa yang saya rasakan di waktu itu. Saya juga ingin bermain dengan kata kata, bukan dipermainkan dengan kata. Dengan menulis saya tidak perlu dipersulit untuk mengungkapkan isi hati saya. Jika saya berbicara mungkin kamu akan mengabaikannya, tapi dengan menulis, saya masih berharap kamu bisa membacanya suatu hari nanti, dan kamu sadar, pokok pikirannya adalah kamu sendiri. Menulis lah mulai dari apa yang kamu rasakan, dan apa yang kamu ketahui, itu mottonya. Menulis lah dengan perasaan, dan orang lain akan ikut merasakannya.
Dan, pagi ini juga saya sudah berdebat kecil dengan beberapa orang mengenai kegalauan dan perasaan. "Kenapa sih, galau itu mesti ada? Ungkap seorang perempuan. Karena kita punya perasaan, dan kita merasakan. Penyebab galau sebenarnya bukan karena orang tersebut, tapi karena perasaan yang kita rasakan. Toh, bisa saja kita merasakan kegalauan itu dengan orang yang berbeda. "To make this live is more beautiful and colourfull" Kata teman saya. Yap, saya setuju sekali dengan pernyataan tersebut. "Maybe like that. And I think, if our life is flat it'll so bored. Not interesting" Jawab yang lainnya. Saya pikir, galau adalah kejadian yang tidak diharapkan, tetapi terjadi di hidup kita. Karena hati suka merasakan apa yang tidak ingin kita rasakan. Dan, semua itu tidak bisa dipahami oleh nalar, semua hanya bisa dirasakan oleh hati, untuk hati, dan karena hati. Tapi jangan sekali sekali, ya, bermain dengan perasaan. Karena dapat menjerumuskan ke tempat yang tidak diinginkan.
lu suka nulis kan sri ??
ReplyDelete