Pages

12/25/2012

Sepenggal Puisi untuk Hujan


Hujan bukan menghilangkan jejak. Justru ia menuntut untuk mengingatnya kembali, ditambah lagi rindu yang tak terakhiri.

Langit sedang berbicara. Menumpahkan amarahnya kepada bumi. Bumi yang menginginkan mentari hanya pilih bungkam, seolah mengerti walau ternyata sakit hati.

Hujan datang ditengah tengah kenangan kita. Seolah ia tak mau melupakannya

Senja yang tidak ada, kepada siapa aku bahagia. Apakah aku harus ikut serta dengan langit yang sedang merana?

Hujan memanipulasi tangisanku.

Aku belajar dari hujan; tentang ia yang merintih dan menangis namun masih tetap berjuang untuk memberikan sejuknya ke alam.

Andaikata jarak kita sejauh bumi dengan langit. Biarkan hujan yang akan mempersatukan kita di senja kali ini.

Senja tetap ada, hanya saja ia tertutupi awan gelap. Andai kau ada disini, mungkin kau yang akan menjadi pencerahnya, menggantikan matahari.

Ku titipkan rindu kepada rintik hujan. Agar ia merasakan bagaimana sejuknya. Meskipun aku tetapterabaikan

Lagit berkelabu. Tak ada jingga sore ini. Hujan menitipkan rindu kepada para pembungkam.

Ingin rasanta aku menghibur langit yang bersedih, agar ia tahu; ada aku disini










No comments:

Post a Comment