Hujan bukan menghilangkan jejak. Justru ia menuntut untuk mengingatnya
kembali, ditambah lagi rindu yang tak terakhiri.
Langit sedang
berbicara. Menumpahkan amarahnya kepada bumi. Bumi yang menginginkan
mentari hanya pilih bungkam, seolah mengerti walau ternyata sakit hati.
Hujan datang ditengah
tengah kenangan kita. Seolah ia tak mau melupakannya
Senja yang tidak ada, kepada siapa aku bahagia. Apakah aku harus ikut
serta dengan langit yang sedang merana?
Hujan memanipulasi
tangisanku.
Aku belajar dari
hujan; tentang ia yang merintih dan menangis namun masih tetap berjuang untuk
memberikan sejuknya ke alam.
Andaikata jarak kita sejauh bumi dengan langit. Biarkan hujan yang
akan mempersatukan kita di senja kali ini.
Senja tetap ada, hanya saja ia tertutupi awan gelap. Andai kau ada
disini, mungkin kau yang akan menjadi pencerahnya, menggantikan matahari.
Ku titipkan rindu kepada rintik hujan. Agar ia merasakan bagaimana
sejuknya. Meskipun aku tetapterabaikan
Lagit berkelabu. Tak ada jingga sore ini. Hujan menitipkan
rindu kepada para pembungkam.
Ingin rasanta aku menghibur langit yang bersedih, agar ia tahu; ada aku disini
No comments:
Post a Comment