Pages

12/26/2012

Ara's Story

Part 1
Ara, gaadis yang mempunyai banyak mimpi. Seorang gadis yang mempunyai tujuan hidup. Berpegang teguh pada prinsip dan pengalaman. Menurut dia pengalaman adalah guru terhebat yang belum tentu orang lain dapatkan. Ara adalah perempuan yang terbilang tertutup dengan kepribadiannya. Namun begitu, ia mempunyai banyak teman, laki laki maupun perempuan. Sebanyak apapun ia mempunyai teman laki laki, tetapi ia hanya menempatkan satu laki laki dihatinya; Ian. Ian adalah laki laki humoris, terbuka, dan baik. Mereka berdua adalah teman satu kelas. Dan, begitupun dengan Ian, ia juga mencintai Ara. Tapi, sampai saat ini Ian tak kunjung mengatakan perasaannya.


"Ra, yan, main tebak tebakan yuk" kata Febri, teman mereka.
"Tebak tebakan apa?" tanya Ara
"Apa aja, ya?" balas Febri.
"oke" jawab Ian dan Ara.
"Tebak film, ya?" kata Febri "Hmm.. ini seringkali ditayangin di stasiun tv saat menjelang natal" lanjut Febri.
"Home alone?" Jawab Ara ragu.
"Bukan, salah" kata Febri "Apa lu yan, tau engga?" tanyanya kepada Ian
"Natal? ya pasti film tentang Yesus lah, ya kan? ya dong, pasti gue bener!"
"Salah! Salah besar" Jawab Febri. Ian hanya mendengus mendengar jawabannya salah.
"Yaudah kasih tau ciri ciri yang lain dong, Feb" kata Ara
"Ok, film ini sedih, ada cewe yang terkena penyakit, pokonya cewe ini bakal mati" lanjut Febri
"Ah, gue tau, Buku harian Nayla, kan?" Jawab Ara bersemangat
"Iya, betul!"
Ian lantas mendengus, Ian yang notabanenyya tidak suka dengan sinetron lantas berkata "Ah, curang, Sinetron, mana tau gue" kata Ian
"Ih, ini bukan hanya sekedar sinetron, ini film bagus, gue aja suka sampe nangis gitu" jawab Febri
"Ah, itu sih lu yang lebay, cewe mah suka kaya gitu, apa apa nangis"
"yeee gitu gitu lu suka sama cewe, yakan?" sekarang ganti Ara yang jawab
"Ya iyalah, iyakali gua homo"
Febri dan Ara lantas tertawa mendengar jawaban Ian, sebenarnya terlebih karena wajah Ian yang menggemaskan.
Ara lalu menoleh ke arah Ian, tidak sengaja Ian menoleh ke arah Ara. Mereka sering meanatap satu sama lain. Merasakan getarannya masing masing. Ara tidak ingin kehilangan Ian sebagai temannya. Namun, Ara juga tidak ingin perasaanya hanya bertepuk sebelah tangan. "Ian, andai gue bisa baca fikiran lo, gue pengen tau apa yang sedang lu fikirin sekarang" Lirih Ara dalam hati.

No comments:

Post a Comment